Pelajaran dari Mesin ATM (1)

Ayat bacaan: Matius 6:19-20
======================
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

mengumpulkan harta

Malam ini saya dan istri sempat terperanjat di depan mesin ATM. Baru saja beberapa jam yang lalu kami hendak membayar berbagai rekening bulanan lewat ATM, tetapi betapa terkejutnya kami melihat saldo yang tertera disana hanya tinggal sebagian kecil saja. Kami berdua kaget dan saya pun mulai mengingat-ingat ATM mana saja yang seminggu terakhir ini saya kunjungi. Jumlahnya memang relatif, bagi sebagian orang mungkin malah tidak banyak. Tetapi bagi kami itu adalah tabungan satu-satunya untuk hidup. Saya baru saja hendak menelepon costumer service untuk menanyakan prosedur pengaduan dan sebagainya, dan rasa-rasanya urusannya pasti bakalan panjang dan uang pun biasanya akan sulit untuk kembali. Sebelum saya menelepon costumer service, istri saya menyarankan untuk memeriksa ulang saldo. Maka kami pun kembali ke mesin ATM dan membuka saldo lagi, puji Tuhan ternyata tadi itu cuma kesalahan mesin sesaat dan pada pengecekan kedua jumlahnya kembali normal. Betapa lega rasanya, tapi sesaat kemudian saya merasa mendapat pesan dari Tuhan bahwa seperti itulah harta di bumi yang tidak akan pernah 100% aman. Anda bisa memiliki milyaran rupiah bahkan trilyunan, dan itu akan membuat anda terpandang di dunia. Tetapi dalam sedetik saja itu bisa ludes tanpa sisa. Adakah sebuah sistem saja yang bisa menjamin uang anda benar-benar aman tanpa resiko apapun? Dan pertanyaan berikutnya, kalaupun aman, bisakah itu dipakai untuk menjamin keselamatan pada kehidupan berikutnya kelak?

Alkitab memang berulang-ulang mengingatkan bahwa miskin di dunia itu lebih baik daripada menjadi orang berdosa yang berbuat banyak kejahatan di mata Tuhan. Tapi perhatikanlah bahwa banyak dari ayat-ayat yang menyinggung “lebih baik miskin” ini justru lahir dari orang paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi ini dan memiliki harta kekayaan terbanyak yang pernah bisa dipunyai seorang manusia, yaitu Salomo. Salomo yang super kaya dan super berhikmat ternyata juga menyadari bahwa uang atau harta bukanlah segalanya. Lihat apa yang ia katakan dalam Amsal 19:1, 19:22, 28:6 atau Pengkotbah 4:13. Yesus juga berkata “Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Markus 10:25) yang bisa juga kita lihat dalam Matius 19:24 dan Lukas 18:25. Itu benar, tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus hidup miskin agar bisa lolos dari lubang jarum, karena di sisi lain Allah menjanjikan segalanya buat kita bukan secukupnya tetapi secara berlimpah. “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9). Yesus sendiri berkata: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10). Artinya kita bukan tidak boleh memiliki harta atau mencari uang, dan memang kita harus bekerja untuk bisa memperoleh uang agar mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi jangan sampai kita berpikir bahwa uang adalah segalanya. Jangan sampai kita mengira bahwa uang merupakan jaminan kebahagiaan apalagi keselamatan. Sama sekali tidak. Dan apa yang saya alami hari ini menjadi bukti nyata bahwa sebanyak apapun uang yang kita timbun, itu bisa lenyap dalam sekejap mata akibat berbagai hal. Oleh karena itu, bagaimana kita memandang uang, dan kemana kita memakainya menjadi hal yang sangat penting untuk kita perhatikan.

Yesus mengingatkan kita agar jangan salah fokus dalam mengumpulkan harta. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Harta di bumi yang dikumpulkan, tidak peduli sebanyak apapun akan tetap beresiko lenyap cepat atau lambat. Ada banyak ngengat dan resiko karat bisa merusaknya, pencuri pun siap merebut semuanya. Ini adalah harta yang tidak kekal, sangat rentan terhadap kemusnahan. Lantas dimana seharusnya kita mengumpulkan harta? “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (ay 20). Mengumpulkan harta di surga, itu artinya memberi dan menabur di dunia, bukan menimbun, seperti cara mengumpul harta duniawi. Jika dunia berpikir untuk mengumpulkan harta itu adalah lewat menimbun, Kerajaan Surga mengatakan bahwa mengumpulkan harta adalah lewat menabur. Terus mengasihi dan menjadi terang dan garam di dunia lebih dan lebih lagi hingga kita mendapati bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Paulus pun menyampaikan pesan ini sebagai sesuatu yang penting ketika ia menyampaikan salam perpisahan kepada para penatua Efesus. “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. (Kisah Para Rasul 20:35). Surga adalah tempat yang teraman dalam mengumpulkan harta, dimana tidak ada satupun yang bisa merusak dan mencurinya, dan semua itu akan berlaku kekal bagi kita. Jika demikian, tidak ada investasi yang lebih menguntungkan selain di surga. (bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: