Pekerjaan Bukanlah Segalanya

Ayat bacaan: Pengkotbah 2:22-23
===========================
“Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.”

pekerjaan bukan segalanya, sia-sia

Tahun baru hadir sebentar lagi. Bagi sebagian orang, hidup terlihat akan semakin berat saja, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang berpikir bahwa jika kemarin bekerja sudah giat, memasuki tahun depan harusnya dilipatgandakan agar mampu mengatasi beban yang makin berat. Bekerja dengan giat itu sungguh baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Yang tidak baik adalah ketika kita mulai meletakkan pekerjaan itu sebagai hal yang paling utama di atas segalanya seperti yang telah kita lihat dalam renungan kemarin. Tendensi menomorsatukan pekerjaan di atas segalanya dan meletakkan Tuhan pada urutan kesekian, mengorbankan keluarga demi pekerjaan, semua itu adalah bentuk mempertuhankan pekerjaan, atau setidaknya memberhalakan pekerjaan. Dan itu tidak lagi berkenan di hadapan Tuhan. Hari ini saya ingin menyambung apa yang telah ditulis kemarin dalam hal pekerjaan.

Salomo adalah sosok yang hidup makmur dalam segala kekayaannya yang begitu besar. Harta bukanlah masalah baginya sama sekali. Tapi lihatlah apa yang ia tuliskan dalam kitab Pengkotbah. Ia bercerita banyak tentang kesia-siaan di muka bumi ini, dan kita bisa melihat bahwa harta tidak pernah bisa membawa kebahagiaan sejati. Salomo berkata: “Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 2:22-23). Bukankah hal ini juga banyak dialami orang hingga hari ini? Sudah bekerja mati-matian, sudah mengorbankan waktu, tenaga, keluarga bahkan nyawa untuk meraup hasil sebanyak mungkin dari pekerjaan, namun hidup tidak kunjung menjadi bahagia. Kesedihan dan kesusahan menguasai hati, bahkan tidur pun tidak bisa nyenyak. Banyak orang yang kaya raya namun tetap saja menghadapi permasalahan seperti ini dalam hidupnya, dan saya sudah menjumpai banyak orang seperti ini. Mereka bekerja terlalu keras sehingga tidak memperhatikan anak-anaknya lagi. Istri pergi, anak-anak jatuh dalam kehidupan yang sesat, tidak ada kebahagiaan dan sukacita dalam hidup meski secara finansial berlimpah. Jika sampai pada titik seperti itu, tidakkah manusia akan mulai berpikir betapa sia-sianya segala sesuatu yang dilakukan selama ini? Ketika kita terlalu mengagung-agungkan pekerjaan lebih dari segalanya, mengira bahwa menimbun harta merupakan sumber kebahagiaan sejati, masalah seperti ini akan menanti saat untuk menghancurkan hidup kita.

Sepanjang kitab Pengkotbah, Salomo mengingatkan berulang-ulang mengenai kesia-siaan hidup manusia jika terpisah dalam hubungan dengan Tuhan. Apapun itu, tanpa Tuhan niscaya akan menjadi sebuah kesia-siaan. Termasuk pula menimbun uang dengan bekerja melebihi batas dan melupakan Sang Pemberi berkat dan melupakan kerinduan istri dan anak-anak untuk diperhatikan dan disayangi. Salomo menulis “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah.” (ay 24). Bukankah ini benar? Pada kenyataannya ada banyak orang yang terus menimbun harta tanpa pernah bisa untuk menikmatinya. Tidak ada sukacita yang hadir meski sudah mengeluarkan biaya banyak. Sesaat mungkin bisa, tapi kemudian semuanya akan hilang lagi, kembali kepada kesedihan dan kesunyian. Lihatlah bahwa sesungguhnya kemampuan untuk menikmati hasil jerih payah pun berasal dari Tuhan. Selanjutnya ia pun menuliskan “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah.” (5:18). Bahkan “orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (6:2). Jelaslah bahwa jarak hubungan kita dengan Tuhan akan membawa perbedaan besar akan kebahagiaan dalam hidup kita.

Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita demikian: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Ini sebuah ajaran yang penting bahwa kita harus menomorsatukan Tuhan di atas segalanya, lebih dari apapun di dunia ini, karena semua berkat termasuk karunia untuk dapat menikmati hasil jerih payah kita pun berasal daripadaNya. Tuhan Yesus sudah menunjukkan contoh yang ideal mengenai ini. Kita tahu ketika Dia hadir di dunia ini Dia tidak berhenti bekerja. Pagi-pagi benar sudah bangun, berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk melakukan begitu banyak mukjizat dan memberikan pengajaran kepada banyak orang. Yesus mengajarkan bahwa “kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Namun di saat lain kita melihat bahwa Yesus meluangkan banyak waktu untuk bertemu BapaNya. Pergi menyendiri ke atas bukit atau ke tempat tersembunyi dimana Dia bisa memfokuskan seluruh perhatian untuk berdialog, berbicara dan terutama mendengar suara Bapa. Dalam banyak bagian Injil kita mendapati bagaimana Yesus yang terus bekerja keras dalam waktu kedatanganNya yang singkat ternyata mengosongkan sebagian dari waktuNya untuk bersekutu dengan Allah, dimana dalam waktu-waktu itu Dia tidak membiarkan diriNya diganggu oleh siapapun, termasuk oleh pekerjaan yang menumpuk. Sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan sia-sia dalam hidup yang singkat ini? Jangan terus terjebak untuk terus membiarkannya habis sia-sia.

Fokus berlebihan kepada pekerjaan adalah sebuah kebiasaan dunia yang hanya akan berakhir sia-sia, yang dikatakan Salomo bak menjaring angin. (Pengkotbah 2:17). Salomo adalah salah satu tokoh yang luar biasa kaya yang dicatat alkitab. Tapi justru dia yang menulis bahwa semua yang kita lakukan di kolong langit ini bisa mengarah kepada kesia-siaan. Bagaimana agar apa yang kita kerjakan tidak berakhir sia-sia? Firman Tuhan mengatakan “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Korintus 15:58). Persekutuan dengan Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Apapun yang kita lakukan untuk Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Jika pekerjaan kita pun dilakukan untuk memuliakan namaNya tanpa melupakan waktu-waktu untuk tetap berdiam di dalam hadiratNya, mendengar suaraNya, dan mengasihi semua yang telah Dia titipkan kepada kita, semua itu tidak akan berakhir sia-sia, bahkan yang demikian itu membuat kita tengah mengumpulkan harta di surga, dimana tidak ada karat, ngengat atau pencuri yang dapat merusaknya. (Matius 9:20).

Tuhan menjanjikan ini kepada kita: “TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 28:8). Ini adalah janji berkat Tuhan yang hanya akan hadir kepada kita “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.” (ay 1). Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Tuhan. Pekerjaan adalah bentuk karuniaNya, dan Dia siap memberkati itu semua jika kita berjalan sesuai kehendakNya. Tidak berhenti sampai disitu, Tuhan pun siap memberikan karunia untuk menikmati hasil jerih payah kita, dan terus memberi berkat yang baru setiap pagi. “..sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!” (Mazmur 34:9). Karena itu janganlah sampai terjebak kepada memberhalakan atau mempertuhankan pekerjaan, karena bukan berkat yang akan kita terima melainkan sebaliknya. Dahulukan Tuhan di atas segalanya. Bertanggungjawablah dengan benar dalam kasih kepada keluarga yang diberikan Tuhan. Tetap sertai semuanya dengan ucapan syukur, dan muliakan Dia dalam setiap yang kita kerjakan. Miliki urutan yang benar, miliki perspektif yang tepat agar kita tidak terjerumus dalam kesia-siaan.

Tanpa Tuhan segala yang kita lakukan hanya akan sia-sia

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. pekerjaan bukan segalanya
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: