Peka dan Peduli pada Kehendak-Nya

suara tuhanRabu, 17 September 2014 Hari Biasa Pekan XXIV 1Korintus 12:31-13:13; Mazmur 33:2-3.4-5.12.22; Lukas 7:31-35 “Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” SABDA Yesus berkisah tentang orang-orang yang mengecewakan karena mereka tidak bisa menyelaraskan diri dengan musik kehidupan yang dimainkan. Yesus berkata: Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru. ‘Kami meniup seruling bagimu, […]

suara tuhan

Rabu, 17 September 2014
Hari Biasa Pekan XXIV 1Korintus 12:31-13:13; Mazmur 33:2-3.4-5.12.22; Lukas 7:31-35

“Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

SABDA Yesus berkisah tentang orang-orang yang mengecewakan karena mereka tidak bisa menyelaraskan diri dengan musik kehidupan yang dimainkan. Yesus berkata: Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru. ‘Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.’

Saat musik sukacita perkawinan dimainkan mereka tak bergeming. Sebaliknya, saat musik dukacita pemakaman dilantunkan, mereka tak tersemtuh. Yesus menegaskan tiadanya respon untuk keduanya merupakan bentuk ketidakpeduliaan dan kebebalan hati yang membatu tanpa kepekaan.

Apa makna Injil hari ini? Pertama, kita dapat menarik pesan bahwa sikap acuh tak acuh dan tuli akan menutup diri kita pada sabda Allah. Pewartaan sabda Allah merupakan kabar baik yang berbuah sukacita dan pengharapan bagi kita yang mau mendengarkannya. Yesus mengingatkan bahwa penolakan terhadap sabda Allah mendatangkan kekacauan dalam kehidupan. Rahmat Allah pun terabaikan.

Kedua, Yesus mengkritik para ahli Taurat dan kaum Farisi yang menutup diri, telinga dan hati terhadap pewartaan Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri. Padahal Yesus adalah yang terurapi, utusan Allah yang datang untuk menebus dosa kita dan membebaskan kita dari kuasa maut.

Ketiga, Yesus mengingatkan kita yang sering tidak peka dan tidak peduli terhadap warta tentang Kerajaan Allah. Sikap ini menutup diri kepada sabda Allah. Telinga hati pun tuli terhadap Injil. Yesus mengundang kita untuk selalu lapar akan Allah dan rindu akan sukacita dan kebahagiaan sejati.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita mencoba membuka diri dan hati terhadap sabda Allah. Dalam Adorasi Abadi, kita belajar mendengarkan sabda Allah dengan iman yang penuh pengharapan. Kita pun membangun kehendak untuk percaya dan taat kepada Allah sebagai putri-putra Bapa.

Tuhan Yesus Kristus, bukalah hati dan telinga kami untuk mendengarkan kabar baik dan Injil-Mu tentang Kerajaan Allah. Bebaskan hati kami dari ketidakpedulian dan ketidakpekaan sehingga kami mampu mengasihi Engkau dan sesama dengan sukacita, kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem
»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶
“abdi Dalem palawija”
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply