Pecandu Narkoba: Ada Awal, Tiada Akhir

yayasan sekar mawar TCSEBUT saja Garry –bukan nama sebenarnya– baru sepekan lamanya menjadi resident di sebuah panti rehabilitasi. Dari luar orangnya kelihatan bersih, kulitnya putih, penampilannya rapi dan cenderung pendiam, sekilas memang pantas jadi seorang pengusaha atau bos di suatu perusahaan. Tetapi siapa sangka, dibalik penampilannya yang rapi itu tersimpan banyak cerita atau kisah hidup yang cukup pelik. Ia anak keempat dari enam bersaudara, ayahnya sudah meninggal dan ibunya sudah tua dan sakit-sakitan. Selama ini dia tinggal dengan istrinya yang sudah dinikahi selama 11 tahun. (Baca juga: Mengenal Therapeutic Community untuk Rehabilitasi Pasien Narkoba) Singkat cerita, Garry (40 tahun) yang hanya lulusan SMP ini, jatuh dalam masalah penyalahgunaan narkoba. Ia menyantap sabu-sabu dan istrinya baru mengetahui sekitar tiga bulan yang lalu, ketika dia menemukan tabung yang biasa dipakai untuk mengisap sabu di kamarnya. Karena berbagai persoalan yang menghimpit keluarga akhirnya si Istri ini pun minta cerai. Saat ini, kasusnya sedang dalam proses di pengadilan. Sehari-hari Garry hanya di rumah, ia tidak punya pekerjaan tetap, sejak kecil ia selalu diberi uang oleh ayahnya yang kaya raya. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia kemudian dibiayai oleh kakak-kakaknya. Keluarga Garry adalah keluarga yang berkecukupan, kakaknya sangat baik hati, sering merasa tidak tega, hingga akhirnya apapun yang dia minta akan dituruti. Adik Garry yang bernama Kim –juga bukan nama sebenarnya- ternyata juga seorang pecandu. Ia baru saja keluar dari sebuah panti rehabilitasi yang berbasis spiritual. Kim telah menjalani rehabilitasi selama empat tahun. Karena merasa tertekan, Kim keluar dari panti Rehabilitasi itu dengan cara melarikan diri, bukan karena telah selesai menjalani programnya. Saat ini dia hidup dengan kakaknya dan mempunyai usaha kecil sendiri. Beban psikologis Dari pertemuan dengan kakak dan ibunya, terungkaplah cerita mengenai perilaku Garry ini. Sejak ayahnya meninggal. rupanya Garry ini mempunyai beban psikologis yang berat yang tidak bisa dia selesaikan sendiri. Aakhirnya, dia lari ke narkoba. Perilakunya menjadi tidak simpatik lagi, ia pemalas, sering mengarang cerita bohong kepada kakak dan juga ibunya, minta uang dalam jumlah yang banyak kepada kakaknya. tas ibunya beserta isinya dia ambil dengan dalih untuk usaha dua mobil ibunya juga sudah ia jual. Barang-barang di rumah ludes, bahkan kini banyak debt collector datang ke rumah untuk menagih uang dalam jumlah yang besar. Kakaknya merasa sangat kewalahan dan istrinya, yang sehari-hari bekerja, sudah tidak tahan lagi dengan tingkah laku Garry. Istrinya akhirnya meminta untuk bercerai. Dari catatan yang diisi sendiri oleh Garry juga terungkap, ia memakai sabu-sabu, minum alkohol, mengisap ganja, dan minum obat anti depresan. Kebiasaan jelek ini sudah dilakukannya sejak enam tahun yang lalu. Hidupnya tidak teratur, sering ke diskotik, bahkan salah seorang teman dari kakaknya melihat dia di tempat prostitusi. Ada awal, tiada akhir Menurut para konselor yang juga mantan pecandu, sabu mempunyai efek yang bersifat stimulant, si pemakai merasa dirinya baik-baik saja, tidak bermasalah, sering mengarang cerita bohong, juga bisa mengakibatkan gangguan syaraf. Perilakunya menjadi lebih agresif, sulit mengendalikan emosi, nafsu seks meningkat maka sering pergi ke tempat-tempat prostitusi. Efek samping lainnya adalah terkena penyakit lever, HIV/AIDS (karena ‘jajan’ sembarangan), bisa terkena gangguan jiwa dan bila dibiarkan terus akan berujung pada kematian. Menurut mantan pemakai, efek sabu memang diistilahkan ‘ada awal, tidak ada akhir’, orang akan terus mencari dan mencari dengan cara apapun, hingga akhirnya bukan hanya dirinya sendiri yang hancur tetapi juga keluarganya, bukan hanya kehilangan harta benda tetapi secara psikologis juga menghancurkan orang-orang di sekitarnya. Penderitaan dan berbagai persoalan yang menghimpit keluarga ini diceritakan oleh kakak dan ibunya, hingga akhirnya mereka mengirimkan Garry ke Panti Rehabilitasi. Di panti rehabilitasi Garry akan memperoleh treatment. Di sana, dia menjalani masa observasi dan stabilisasi. (Baca juga: Yayasan Sekar Mawar Keuskupan Bandung untuk Pasien Pecandu Narkoba) Tiga sampai enam bulan ke depan ia tidak boleh dikunjungi keluarganya, ia diterima dalam sebuah komunitas kekeluargaan yang bernama Therapeutic Community. Di situ tinggal orang-orang yang mempunyai masalah yang sama dan berusaha menyelesaikan masalah bersama. Saling menolong yang diistilahkan sebagai Man helps man to help himself. Derita tiada akhir Sembari menangis kakaknya mengatakan , mengapa ada banyak persoalan yang menimpa dirinya, belum selesai masalah yang satu sudah ditambah lagi dengan persoalan yang lainnya. Mereka sudah cukup dewasa, bukan anak kecil atau remaja lagi, mestinya sudah mapan dan bisa mengurus dirinya sendiri. Kakaknya merasa hidupnya menjadi berat karena penuh beban, dan beban-beban itu harus dia tanggung sendiri. Hidup memang tidak pernah lepas dari persoalan, semua itu harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Kita manusia wajib untuk saling tolong-menolong, meringankan beban satu sama lain, menguatkan satu sama lain, memberi semangat satu sama lain. Lari dari masalah memang tidak akan menyelesaikan masalah, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghadapinya dan sedapat mungkin bergandeng tangan dengan yang lain untuk saling mendukung saling menolong dan memberi kekuatan. Di atas semua itu hendaknya kita serahkan segala sesuatunya kepada Dia yang Mahakasih, yang akan selalu memberi jalan dan kekuatan dalam menjalani hidup ini. Kun, 140911

yayasan sekar mawar TC

SEBUT saja Garry –bukan nama sebenarnya– baru sepekan lamanya menjadi resident di sebuah panti rehabilitasi. Dari luar orangnya kelihatan bersih, kulitnya putih, penampilannya rapi dan cenderung pendiam, sekilas memang pantas jadi seorang pengusaha atau bos di suatu perusahaan.

Tetapi siapa sangka, dibalik penampilannya yang rapi itu tersimpan banyak cerita atau kisah hidup yang cukup pelik. Ia anak keempat dari enam bersaudara, ayahnya sudah meninggal dan ibunya sudah tua dan sakit-sakitan. Selama ini dia tinggal dengan istrinya yang sudah dinikahi selama 11 tahun. (Baca juga: Mengenal Therapeutic Community untuk Rehabilitasi Pasien Narkoba)

Singkat cerita, Garry (40 tahun) yang hanya lulusan SMP ini, jatuh dalam masalah penyalahgunaan narkoba. Ia menyantap sabu-sabu dan istrinya baru mengetahui sekitar tiga bulan yang lalu, ketika dia menemukan tabung yang biasa dipakai untuk mengisap sabu di kamarnya. Karena berbagai persoalan yang menghimpit keluarga akhirnya si Istri ini pun minta cerai.

Saat ini, kasusnya sedang dalam proses di pengadilan.

Sehari-hari Garry hanya di rumah, ia tidak punya pekerjaan tetap, sejak kecil ia selalu diberi uang oleh ayahnya yang kaya raya. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia kemudian dibiayai oleh kakak-kakaknya. Keluarga Garry adalah keluarga yang berkecukupan, kakaknya sangat baik hati, sering merasa tidak tega, hingga akhirnya apapun yang dia minta akan dituruti.

Adik Garry yang bernama Kim –juga bukan nama sebenarnya- ternyata juga seorang pecandu. Ia baru saja keluar dari sebuah panti rehabilitasi yang berbasis spiritual. Kim telah menjalani rehabilitasi selama empat tahun.

Karena merasa tertekan, Kim keluar dari panti Rehabilitasi itu dengan cara melarikan diri, bukan karena telah selesai menjalani programnya. Saat ini dia hidup dengan kakaknya dan mempunyai usaha kecil sendiri.

Beban psikologis
Dari pertemuan dengan kakak dan ibunya, terungkaplah cerita mengenai perilaku Garry ini. Sejak ayahnya meninggal. rupanya Garry ini mempunyai beban psikologis yang berat yang tidak bisa dia selesaikan sendiri. Aakhirnya, dia lari ke narkoba.

Perilakunya menjadi tidak simpatik lagi, ia pemalas, sering mengarang cerita bohong kepada kakak dan juga ibunya, minta uang dalam jumlah yang banyak kepada kakaknya. tas ibunya beserta isinya dia ambil dengan dalih untuk usaha dua mobil ibunya juga sudah ia jual. Barang-barang di rumah ludes, bahkan kini banyak debt collector datang ke rumah untuk menagih uang dalam jumlah yang besar. Kakaknya merasa sangat kewalahan dan istrinya, yang sehari-hari bekerja, sudah tidak tahan lagi dengan tingkah laku Garry.

Istrinya akhirnya meminta untuk bercerai.

Dari catatan yang diisi sendiri oleh Garry juga terungkap, ia memakai sabu-sabu, minum alkohol, mengisap ganja, dan minum obat anti depresan. Kebiasaan jelek ini sudah dilakukannya sejak enam tahun yang lalu. Hidupnya tidak teratur, sering ke diskotik, bahkan salah seorang teman dari kakaknya melihat dia di tempat prostitusi.

Ada awal, tiada akhir
Menurut para konselor yang juga mantan pecandu, sabu mempunyai efek yang bersifat stimulant, si pemakai merasa dirinya baik-baik saja, tidak bermasalah, sering mengarang cerita bohong, juga bisa mengakibatkan gangguan syaraf. Perilakunya menjadi lebih agresif, sulit mengendalikan emosi, nafsu seks meningkat maka sering pergi ke tempat-tempat prostitusi.

Efek samping lainnya adalah terkena penyakit lever, HIV/AIDS (karena ‘jajan’ sembarangan), bisa terkena gangguan jiwa dan bila dibiarkan terus akan berujung pada kematian. Menurut mantan pemakai, efek sabu memang diistilahkan ‘ada awal, tidak ada akhir’, orang akan terus mencari dan mencari dengan cara apapun, hingga akhirnya bukan hanya dirinya sendiri yang hancur tetapi juga keluarganya, bukan hanya kehilangan harta benda tetapi secara psikologis juga menghancurkan orang-orang di sekitarnya.

Penderitaan dan berbagai persoalan yang menghimpit keluarga ini diceritakan oleh kakak dan ibunya, hingga akhirnya mereka mengirimkan Garry ke Panti Rehabilitasi. Di panti rehabilitasi Garry akan memperoleh treatment. Di sana, dia menjalani masa observasi dan stabilisasi. (Baca juga: Yayasan Sekar Mawar Keuskupan Bandung untuk Pasien Pecandu Narkoba)

Tiga sampai enam bulan ke depan ia tidak boleh dikunjungi keluarganya, ia diterima dalam sebuah komunitas kekeluargaan yang bernama Therapeutic Community. Di situ tinggal orang-orang yang mempunyai masalah yang sama dan berusaha menyelesaikan masalah bersama. Saling menolong yang diistilahkan sebagai Man helps man to help himself.

Derita tiada akhir
Sembari menangis kakaknya mengatakan , mengapa ada banyak persoalan yang menimpa dirinya, belum selesai masalah yang satu sudah ditambah lagi dengan persoalan yang lainnya. Mereka sudah cukup dewasa, bukan anak kecil atau remaja lagi, mestinya sudah mapan dan bisa mengurus dirinya sendiri. Kakaknya merasa hidupnya menjadi berat karena penuh beban, dan beban-beban itu harus dia tanggung sendiri.

Hidup memang tidak pernah lepas dari persoalan, semua itu harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Kita manusia wajib untuk saling tolong-menolong, meringankan beban satu sama lain, menguatkan satu sama lain, memberi semangat satu sama lain.

Lari dari masalah memang tidak akan menyelesaikan masalah, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghadapinya dan sedapat mungkin bergandeng tangan dengan yang lain untuk saling mendukung saling menolong dan memberi kekuatan.

Di atas semua itu hendaknya kita serahkan segala sesuatunya kepada Dia yang Mahakasih, yang akan selalu memberi jalan dan kekuatan dalam menjalani hidup ini.

Kun,
140911

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply