Paus Peluk Erat “Si Buruk Muka”

< ![endif]-->

PELUKAN kasih. Itulah yang akhirnya membawa Paus Fransiskus menjadi figur Gereja Katolik Semesta zaman kini yang punya hati besar untuk kaum papa dan marjinal.

Termasuk di antaranya adalah ungkapkan kasih Sri Paus terhadap Si Buruk Muka. Orang ini adalah seorang bapak penderita penyakit tumor kulit hingga sekujur wajahnya dipenuhi benjolan sampai “roman muka aslinya” menjadi sudah tidak nampak lagi.

Pemandangan mengharukan itu terjadi di Vatikan awal pekan ini, ketika sejenak Paus Fransiskus lalu menghentikan doanya dan memberi berkat sembari memeluk bapak Si Muka Buruk ini. Spontan, bapak Si Muka Buruk ini lalu membenamkan wajahnya ke dada Sri Paus hingga 50-an ribu orang yang tengah beraudiensi dengan Paus menjadi terharu melihat pemandangan langka ini.

Menurut laporan The Catholic News Agency seperti kemudian dilansir oleh CNN  pada hari Kamis (7/11) ini, bapak Si Buruk Muka ini besar kemungkinan menderita penyakit neurofibromatosis—semacam penyakit tumor kulit yang sifatnya herediter hingga membuat sekujur badannya dipenuhi dengan benjolan.

Tumor berbentuk benjolan itu membuat dia sakit, selain juga telah kehilangan daya pendengaran dan penglihatan.

Banyak kejutan baru

Bahwa Paus Fransiskus sering kali membuat kejutan di muka umum, kini khalayak ramai semakin mahfum. Namun, tidak hanya Paus Fransiskus yang suka membuat kejutan mengharukan itu saja. Karena beberapa waktu sebelumnya –saat Paus tengah berpidato resmi—tiba-tiba saja ada seorang anak lelaki menyeruak muncul dari kerumunan dan datang menghampiri mimbar Sri Paus.

Boy hugs Pope(1)

Anak lelaki ini ternyata lalu memainkan jubah Sri Paus. Sejenak kemudian, dia malah diam di situ dan tidak mau beranjak dari jauh meninggalkan mimbar Sri Paus.

Meski mengaku dirinya seorang ateis tulen, Donna Hosie menyatakan dirinya dibuat terpana oleh pemandangan mengharukan yang hari-hari ini sering terjadi di sekitar Sri Paus. “Semakin sering saya mendengar kabar tentang Sri Paus, makin intensif pula saya mulai menyenangi beliau,” katanya dalam kicauannya di dunia maya.

Banyak orang menilai, meskipun darah-dagingnya adalah Jesuit dengan semangat baja tak gampang menyerah layaknya Santo Ignatius de Loyola, namun sejatinya semangat hidupnya adalah meniru teladan Santo Fransiskus Assisi. Inilah tokoh Gereja Abad Pertengahan yang meninggalkan kelobaan dan kekayaan dan menjadi sahabat bagi orang-orang papa dan terhina.

Seakan tak ingin ketinggalan dalam dunia media sosial modern, Sri Paus pun ikut memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan dan semangatnya. “Tuhan, ajarilah kami untuk semakin bisa keluar dari diri sendiri,” begitu Sri Paus menyampaikan doa harapannya melalui media sosial pada Agustus 2013 lalu.

“Ajari juga kami untuk berani keluar dari rumah menuju jalanan untuk bisa mewujudnyatakan kasihMu sendiri kepada sesama,” tulis beliau di kemudian hari.

131106202159-03-pope-1106-horizontal-gallerySebulan kemudian, masih menggunakan media sosial yang sama, Sri Paus berujar, “Perlu sebuah keberanian dan tekad kuat untuk bisa mengajarkan kasih yang sesungguhnya. Marilah kita mulai sekarang berani menyingsingkan lengan baju dan membiarkan tangan kita berlumuran kotoran untuk bisa menolong sesama,” tulis Sri Paus.

Photo credit: CNN

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: