GOSIP kadang diidentikan dengan sifat seorang perempuan. Stereotip negatif tersebut perlu diluruskan, karena –seperti diakui Paus Fransiskus saat audiensi bersama 6.000-an frater (seminaris senior) dan imam yang sedang belajar di Roma— ternyata laki-laki juga suka bergosip.

“Kehidupan seminari bukanlah surga, lebih menyerupai tahapan penyucian,” demikian isi pembuka pesan Paus ini yang segera mengundang tawa dan anggukan persetujuan dari para seminaris muda yang kebanyakan hadir dengan jubah hitam mereka.

Gosip = wabah
Paus bicara mengenai tantangan hidup berkomunitas bagi para imam, termasuk gosip dan pentingnya berdoa.

“Gosip merupakan wabah di komunitas. Harus diakui bahwa gosip juga menjangkiti seminaris dan merusak kehidupan harmonis di komunitas,” lanjut Paus.

“Katakan sesuatu langsung di depan orangnya, jangan bicara buruk di belakangnya.”

Para imam muda atau calon imam yang hadir ini berasal dari seluruh dunia, yang sedang ditugaskan belajar di Roma. Mereka bersemangat mendengarkan petuah Paus. Beberapa mendapat kesempatan melontarkan pertanyaan yang langsung dijawab Paus dengan contoh-contoh riil yang dialami sendiri.

Doakan yang bermasalah
Paus menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi seminaris muda yang sedang belajar teologi. Suatu hari dia mendatangi pembimbing rohaninya untuk menceritakan kemarahannya terhadap seorang teman seminaris yang dirasa sangat mengganggunya.

Paus dan para frater by Daniel_Ibez_CNA

Dikerumuni para frater dan imam muda: Paus Fransiskus di tengah kerumunan para frater dan imam muda sebanyak 6.000 orang dari seluruh dunia. (Calon) imam ini adalah para mahasiswa yang tengah belajar di Roma. (Photo courtesy of CNA)

Pembimbingnya hanya menanyakan satu hal, “Apa kamu telah mendoakannya?”

“Tidak,” jawab Bergoglio muda.

Dia menunggu apa pesan dan nasihat dari sang pembimbing rohaninya. Tetapi formator itu menjawab, “bimbingan sudah selesai.”

Para seminaris tertawa mendengar cerita tersebut.

“Maka doakanlah semua teman seminarismu, terutama mereka yang memiliki masalah denganmu. Terkadang, secara insting kita tidak mau memberkati orang seperti itu, tetapi doakanlah, maka Tuhan akan membantu menyelesaikannya,” pesan Paus dengan mimik serius.

Terlalu pentingkan intelektualitas 
Ketika ada yang menanyakan tentang formatio akademik, Paus mengingatkan agar para seminaris tidak terjebak dalam bahaya akademinisme yang berarti terlalu mementingkan kemampuan intelektual.

“Ada empat pilar formatio seorang imam yaitu spiritual, akademik, komunitas, dan apostolik. Semuanya perlu diseimbangkan, jangan bertumpu pada satu saja.  Memang kalian dipanggil ke Roma untuk belajar, tetapi kalian juga perlu mengasah ketiga pilar lainnya di sini,” jelas Paus.

“Saya tidak bisa mengerti seorang pastor yang belajar di Roma, tetapi tidak terlibat dalam komunitas, tidak berdoa rutin, tidak melakukan pewartaan; semata-mata hanya mengasah kemampuan intelektualnya. Semua hal itu perlu untuk mempersiapkan para frater ini menjadi sungguh mengerti tentang Gereja dan mendalami imamatnya,” tegas Paus.

“Lihatlah Gereja dari kacamata seorang kristiani. Pahamilah Gereja dengan akal budi dan hati seorang kristiani. Kemudian perbuatlah selaku seorang kristiani. Jika tidak seperti itu, maka Gereja akan tidak dipahami atau salah dipahami,” pesan Paus di ujung audiensinya.

Photo credit: Paus dalam audiensi dengan para frater dan imam muda yang tengah belajar di Roma. (Courtesy of Malaysia Herald and CNA)

 

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.