ADA sebuah penantian amat besar di Tanah Suci, ketika Paus Fransiskus memutuskan akan melawat ke Tanah Suci –Yerusalem– tanggal 24 – 26 Mei. Sri Paus sengajar datang berziarah ke Yerusalem dalam rangka peringatan 50 tahun pertemuan bersejarah antara mendiang Paus Paulus VI dan Patriark Atenagora di Yerusalem. Pertemuan ini dianggap historis, karena melambangkan ikatan pertalian persahabatan yang baru bersemangatkan ekumenis antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Orthodoks.

Nah, di Yerusalem nanti Paus Fransiskus akan bertemu untuk kesekian kalinya dengan Patriark Bartolomeus I dari Konstantinopel guna kembali menggelorakan semangat ekumenis di antara dua ‘aliran besar’ dalam Gereja Katolik ini.

Dalam Audiensi Umum tanggal 21 Mei di Vatikan, Paus mengatakan kepergiannya ke Tanah Suci membawa misi perdamaian. Ia akan melakukan dialog dengan komunitas Yahudi yang oleh Santo Paus Yohannes Paulus II disebut sebagai “big brother” saat melakukan kunjungan ke sebuah sinagoga orthodox di Roma.

Semasa pemerintahan Paus Benedictus XVI, pandangan teologis Paus Jerman ini sangat dihargai di Yerusalem. Bukan kebetulan bahwa pengunduran dirinya setahun yang lalu dipandang sebagai suatu kehilangan seorang sahabat. Di Tanah Suci, surat-surat kabar lokal menulis sosok Benediktus XVI secara baik dan mereka memandang paus berdarah Jerman ini sebagai teolog berkualitas lantara mampu menghadapi tema-tema krusial dalama kaitannya dengan Yahudi-Kristiani secara arif dan bijak.

Pope Paul VI and Athenagoras Greeting

Pertemuan bersejarah: Mendiang Paus Paulus VI dalam pertemuan bersejarah dengan Patriark Athenagora di Yerusalem. Pertemuan ini membawa angin segar baru dalam konteks hubungan ekumenis antara Roma dan Konstantinopel. (Photo courtesy by Corbis)

Paus Fransiskus akan berada di Tanah Suci sebagai “seorang peziarah”. Ini merupakan sebuah sikap yang sama dari semua paus sebelumnya. Semua Paus selalu menegaskan bahwa mereka datang ke Yerusalem layaknya umat beriman. Ini adalah semangat peziarahan: pergi ke akarnya untuk memohon.

Namun demikian, pada beberapa hari ini ada sedikit polemik, yang berkaitan dengan Senakel dan asal-mulanya. Meski sudah 14 tahun didiskusikan, namun Pemerintah Israel masih saja ragu untuk mengembalikan Senakel kepada Gereja Katolik Roma. Belum lagi adanya semacam ‘penolakan’ terhadap komunitas Yahudi fundamentalis yang tidak mengizinkan terjadinya perayaan ekaristi di Senakel, tempat Yesus menetapkan Ekaristi.

Di Tanah Suci, Paus berencana mengunjungi sebuah komunitas yang terhimpit di antara komunitas Yahudi dan Muslim. Warga kristiani ini jumlahnya semakin menyusut. Mereka berkeputusan meninggalkan wilayah itu karena tidak memiliki masa depan dan ruang. Jika di Italia ada sekitar 50-an ribu orang di Pelataran Basilika St. Petrus hampir setiap hari pekan untuk mengikuti doa Angelus, maka di Tanah Suci saat kedatangan Sri Paus akan ada hanya 500-an orang saja.

Namun demikian, perjalanan Bapa Suci ini merupakan sebuah kesempatan berharga bagi kelompok minoritas ini. Tentunya dengan sejuta harapan agar juga bisa mendapatkan dukungan dari Gereja Katolik Semesta.

Hari ini, Paus Fransiskus minta kepada seluruh umat beriman untuk berdoa bagi peziarahan penting ini.

Sumber & Photo credit: Tempi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.