Paus Fransiskus dan Biduk Gereja

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya Kamis 21 September 2013 Paus Fransiskus menggegerkan dunia dengan apa yang dikatakannya dalam wawancaranya di salah satu Jurnal Jesuit di Italia. (lihat: http://www.sesawi.net/2013/09/21/paus-gereja-tidak-boleh-dengan-mudah-mengecam-sesuatu/ ) Wawancara Antonio Spadaro, kepala editor majalah Jesuit di Italia, La Civiltà Cattolica, memiliki kesempatan untuk mewawancarai Paus Fransiskus.  Wawancara tersebut dilakukan dalam beberapa kali kesempatan di […]

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya Kamis 21 September 2013 Paus Fransiskus menggegerkan dunia dengan apa yang dikatakannya dalam wawancaranya di salah satu Jurnal Jesuit di Italia. (lihat: http://www.sesawi.net/2013/09/21/paus-gereja-tidak-boleh-dengan-mudah-mengecam-sesuatu/ )

Wawancara

Antonio Spadaro, kepala editor majalah Jesuit di Italia, La Civiltà Cattolica, memiliki kesempatan untuk mewawancarai Paus Fransiskus.  Wawancara tersebut dilakukan dalam beberapa kali kesempatan di bulan Agustus 2013.  Hasil wawancara, setelah mendapat persetujuan dari Vatikan, kemudian secara serentak diterbitkan oleh 16 majalah kepunyaan Jesuit di seluruh dunia. Naskah asli dapat diunduh di http://www.americamagazine.org/pope-interview .

Dalam wawancara itu Paus mengungkapkan pendapatnya seputar isu-isu yang tengah dihadapi oleh jaman dan Gereja.  Paus mengawali siapa dirinya, “Saya adalah seorang pendosa.”  Pernyataan ini tentu membelalakkan mata.  Beliau menyamakan dirinya dengan pengalaman Matius si penginjil ketika Yesus menunjuknya untuk berpartisipasi dalam tugas penggembalaan.  Ini sungguh sebuah pengakuan diri bahwa Paus sama seperti manusia yang lain yang membutuhkan rahmat penebusan dari Allah.  Pernyataan ini mengingatkan kita akan apa yang beliau minta ketika pertama kali menampilkan diri setelah konklav di Vatikan, “Doakanlah saya.”  Paus Fransiskus mengangkat semangat kerendahan hati dan aspek kemanusiaan.

Diungkapkan pula dalam wawancara itu seputar kehidupan dan panggilannya sebagai seorang Jesuit.  Rupanya tokoh favoritnya ialah Peter Faber (1506-46), salah satu sobat Jesuit pertama yang juga rekan St. Ignatius di Universitas Paris.  Tokoh ini dikagumi karena kapabelitasnya dalam berdialog, selain dia seorang yang mendalam dan pribadi lembut serta penuh kasih.

Selanjutnya wawancara mendalami tentang gagasan eklesiologi yang kental mempengaruhinya. Beliau menjawab, “Gambaran gereja yang saya suka ialah umat beriman Allah (LG 12)… Tidak seorangpun diselamatkan sendirian… tetapi Allah menarik kita untuk menatap kompleknya jaringan relasional yang mengambil tempat dalam komunitas manusia. Allah masuk dalam dinamika, terlibat dalam jaringan relasional manusia itu.”  Pada bagian ini beliau menegaskan pentingnya berpikir dan bertindak bersama dengan umat Allah, baik itu awam dalam semua golongan maupun hierarki.  Dengan lain kata, Gereja harus mengedepankan dialog dengan semua elemen, bukan monopoli hirarki.

Hal lain yang paus singgung ialah topik seputar orang muda dan sikap keramahan gereja. Katanya, “Gereja membutuhkan kemampuan untuk menyembuhkan luka dan untuk menghangatkan hati umat beriman…  Gereja terkadang mengunci diri dalam hal-hal sepele, dalam aturan pemikiran yang sempit.  Yang terutama mesti diwartakan: Yesus Kristus telah menyelamatkan engkau.  Oleh karenanya, para pelayan Gereja harus melayani dengan berdasar pada kasih diatas segala hal.”   Penegasan perihal turba (turun ke bawah) senantiasa diutarakan untuk menekankan bahwa jangan sampai ada satupun yang ditinggalkan, bahkan mereka yang berada di paling ujung.

Untuk itu, Paus Fransiskus membuka horizon tentang bagaimana mengaplikasikan semua ajaran gereja.  Dalam banyak isu, ajaran Gereja sudah sangat gamblang. Namun cara berpastoral bukan semata-mata mentransfer dogma.  “Kita tidak bisa lagi melulu mengangkat isu-isu seputar aborsi, pernikahan homo dan penggunaan kontrasepsi.  Ini tidak mungkin… tetapi ketika membicarakan hal-hal ini, kita mesti membahasnya bersama mereka dalam konteknya.  Ajaran Gereja perihal tersebut sudah jelas dan saya adalah anaknya gereja tapi ini semestinya tidak perlu dibahas sepanjang waktu…”

Kemudian topik tentang hidup religius, kuria Roma, dukungan terhadap kaum wanita, teologi feminist, bahkan tempat wanita dalam keputusan gereja diutarakan secara singkat.  Juga tanggapannya tentang Vatikan II cukup menarik. “Vatikan II itu bagaikan membaca kembali Injil dalam terang budaya kontemporer. Vatikan II telah melahirkan gerakan pembaharuan yang berasal dari Injil yang sama. Buahnya cukup melimpah.”  Lalu wawancara mengalir ke seputar hal spiritualitas, selain tentang seni dan dukungan bagi para pejuang kehidupan. Wawancarai diakhiri dengan doa.

Tanggapan

Hasil wawancara di atas memiliki tanggapan yang menggoncangkan. Seperti komentar dalam America’s National Catholic Register, “Sejujurnya, saya begitu terganggu. Sebenarnya segalanya jelas bahwa paus tidak mengubah ajaran gereja, beliau hanya memengubah penekanannya. Pernyataan paus kendati hanya beberapa kata tetapi telah mengoncangkan.”

Namun menarik bila kita menyimak sebagian tanggapan atas wawancara ini dari para pengamat.  Pada komentarnya atas pertemuan dengan Paus, Spadaro mengatakan, “Kita memiliki paus yang luar biasa.  Beliau memiliki sebuah visi yang besar, bukan sebuah lompatan yang besar.  Visinya ialah untuk melihat gereja di tengah-tengah mereka yang membutuhkan kesembuhan.”  Senada, John Allen Jr, seorang analis Vatikan, menuliskan, “Paus tidak menentang ajaran tradisional tetapi berusaha memberi arah tekanan pada Gereja dari penghakiman kepada belas kasih.”  Menurut John Allen, paus menunjuk pada “bertindak”. Paus mengatakan  para homoseksual harus diperlakukan dengan hormat, penuh kasih dan penuh kepekaan. Dengan lain kata, seperti pendapat  David Gibson dari Religion News Service, “ lebih pastoral, kurangi klerikalis dan doktrinisasi.” Menurutnya, pastoral justru akan memberi perubahan hati.  Richard Rohr menggarisbawahi apa yang dinyatakan Paus dalam wawancara justru esensi dari kekristenan “Kristianitas itu ialah melihat pertama-tama dengan kaca mata kasih dan belaskasih.”

Umumnya komentar ini mengerucut pada benang merah yang serupa.  Komentar-komentar di atas  hendak mengafirmasi apa yang dikatakan oleh paus, “Sudah banyak waktu Gereja bicara tentang batas-batas. Mengisi waktu untuk membahas mana yang dosa dan mana yang bukan dosa. Ini saat Kita, Gereja bicara tentang arah yang baru. Mari kita bicara tentang Kerahiman dan Cinta kasih.”

Pekerjaan Rumah

Tentu ini kemudian menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi Paus dan koleganya, para uskup. “ini benar-benar tantangan yang besar bagi paus,” komentar Hans Kung. Mengingat dari awal masa kepausannya, Paus Fransiskus sebenarnya telah menunjukkan attitude ini. Sikap anti klerikalisme dengan menata ulang kuria Roma, merekrut perwakilan dari benua-benua untuk melengkapi bobot konsultasinya, melibatkan awam dalam pengelolaan bank Vatikan, menindak tegas para “koruptor” gereja.  Selain sikap kepada ateis, kelompok gay, orang muda dan imigran yang mengundang tidak hanya umat Kristen tetapi juga dunia untuk peka terhadap gerakan keselamatan Allah yang real.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan.  Pertama, semua pernyataan paus, juga sebelum wawancara ini harus ditempatkan sebagai kerangka berpikir seorang gembala Geraja, yang ingin mengusung kembali seruan Gregorius Agung “Hamba dari segala hamba” dalam kepausannya. Maka kepausannya adalah karya pelayanan bagi keselamatan.  Cara berpikir ini tentu akan mempengaruhi para pelayan gereja untuk memiliki attitude seperti pengganti Petrus ini. Kedua, melihat apa diungkapkan dalam wawancara, kita tidak menyangsikan bahwa beliau akan membuat kebijakan pastoral yang berangkat dari kebutuhan gereja dan dunia dengan tetap mengedepankan dialog. Keputusan tidak pernah ada di tangan paus, selalu dalam kolegialitasnya, bersama saudara-saudaranya uskup di seluruh dunia. Ketiga, kita menunggu apa yang akan terjadi di bulan Oktober. Pada bulan Oktober, para kardinal akan berkumpul dengan ‘gang 8’ dan memberi masukan kepada paus.  Kira-kira keputusan-keputusan apa yang akan dicetuskan.

Selamat bekerja pausku yang ku sayang.

Doa kami, domba-domba Kristus yang kau gembalakan.

 

*NB. Diolah dari berbagai sumber.

Oleh: Wahyu Tri Haryadi SCJ, Filipina

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply