Pastoral Solidaritas

Ilustrasi: Kolekte dalam sebuah misa bersama Mgr. Aloysius Murwito OFM di Stasi Sagare, tujuh jam perjalanan naik speedboat dari Asmat. (Mathias Hariyadi)

SYELLOM, Sugeng, Rahayu.


Pertemuan-pertemuan Umat Katolik menjelang Prapaskah, mengangkat tema solidaritas. Tema itu diangkat, didalami, di-diskusi-kan, tentulah ada maksudnya.


Dan maksud itu diharap menjadi terapan dalam hidup riil.


Gadis belia korban kecelakaan ‘pepeteng’, yang kini didampingi Suster di XXX, untuk living-nya butuh dana-dana.



Pastoral Keluarga: Tangani Pasangan Muda Hamil di Luar Nikah


Dana makan, dana tinggal, dana gizi untuk jabang bayi di perut, dana periksa rumah sakit, dll.


Gadis tersebut tiada tumpuan dari mana pun. Ortunya sudah cerai. Si pria, ragu-mangu tiada jelas untuk menanggung-jawabinya.


Lalu siapa yang meng-ulurkan tangan padanya untuk menolong. Sumbangan untuk keperluan itu, minimal ‘sak ler’ dalam satu bulannya.


Tiada lain adalah Gereja.


Ya, gereja, yang adalah kita, anda dan saya.


Gereja,adalah juga orang-orang yang terbuka, solider pada sesama yang sedang tak untung, kena rundung malang.


Untung ada Gereja.


Gereja Sidareja, tak apa.

Bulan pertama, sak ler, disumbang oleh seorang yang tak mau diketahui namanya, lewat seorang Suster.Bulan kedua, sak ler disumbang dari kas Pastoran.Bulan ketiga, separo ler disumbang dari pos dana fakir miskin. Separo dari donatur NN, via seorang Suster juga.Bulan keempat, separo ler dari pos dana fakir miskin paroki juga. Separo dari donatur NN.Bulan kelima, ……

Solidaritas, berarti lar & ler.


Wasalam


=peng-oedoed ’76=


NB: Sak-ler = Satu juta rupiah.

Imam praja anggota Diosis Purwokerto; sekarang berkarya pastoral di Paroki Subah, Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: