Pastor Richmond Nilo jadi imam ketiga yang tewas di Filipina dalam enam bulan terakhir

Pastor Richmnond Nilo

Pastor Richmnond Nilo. Foto Courtesy, Ilsa Reyes

“Kami sangat sedih dan sangat terganggu karena satu lagi imam dibunuh secara brutal. Pastor Richmond Nilo, Kepala Paroki Santo Vincent Ferrer di Keuskupan Cabanatuan, ditembak mati dan tewas di tempat pada sore hari kemarin di dalam Kapel Barangay Mayamot, Zaragoza, Nueva Ecija, tepat ketika dia akan merayakan Misa.”


Pernyataan para uskup Filipina itu ditulis dan ditandatangani oleh ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Agung Davao Mgr Romulo G Valles, 11 Juni 2018. Pastor Nilo adalah imam Katolik ketiga yang dibunuh dalam beberapa bulan terakhir. Pastor Tito Paez dibunuh bulan Desember 2017 dan Pastor Mark Anthony Ventura pada bulan April 2018.


Pastor Nilo, yang juga Administrator Keuangan Keuskupan Cabanatuan, ditembak mati oleh penyerang tak dikenal dan tewas di tempat di dalam kapel sesaat sebelum merayakan Misa pada Minggu, 10 Juni 2018, sekitar pukul 5 sore. Laporan awal mengungkapkan para tersangka melarikan diri ke arah yang tidak diketahui menggunakan mobil. Serangan itu terjadi hanya empat hari setelah Pastor Rey Urmeneneta, mantan kapelan polisi, selamat dari upaya pembunuhan di Kota Calamba, 6 Juni 2018.


Seraya mencela tindakan yang dikatakannya “sangat jahat” itu, para uskup juga berdoa untuk istirahat abadi jiwa Pastor Nilo. “Kami juga berdoa bagi keluarga yang ditinggalkannya. Kami ikut berdoa bersama Uskup Sofronio Bancud SSS, para klerus, religius, dan umat awam Keuskupan Cabanatuan dalam menghadapi kematian brutal imam mereka di tangan para pembunuh berdarah saat ini, ketika seluruh Gereja Filipina sedang merayakan tahun 2018 sebagai Tahun Imam & Orang-Orang Hidup Bakti.


Sekali lagi para uskup memohon kepada pihak kepolisian untuk “bertindak cepat dalam menyelidiki dan mengejar para pelaku kejahatan keji ini serta membawa mereka ke pengadilan.”


Selain berbagai posisi penting, Pastor Nilo, 43, dikenal karena keterlibatan aktifnya dalam kerasulan untuk orang tuli dan bisu di keuskupan. Kematian imam itu adalah “hari tragis dan hari kehilangan yang tak dapat diperbaiki,” bagi Keuskupan Cabanatuan, kata Uskup Cabanatuan Mgr Sofronio Bancud.


“Kami mengutuk dengan istilah paling keras dan kami sangat meratapi pembunuhan brutal terhadap Pastor Nilo, serta meningkatnya kekerasan dan budaya impunitas bahkan terhadap klerus yang tak berdaya di negara ini,” kata Mgr Bancud.


Uskup itu mengatakan, tidak ada imam, dan tidak ada manusia yang layak dibunuh dengan kebrutalan, tanpa hormat, dan impunitas yang keras seperti itu. “Maka, membunuh seorang imam, apa pun motif atau alasannya, bukan hanya tidak kristiani dan tidak manusiawi, bukan juga jiwa orang Filipina,” kata uskup itu.


Uskup Bancud kemudian menuntut keadilan bagi Pastor Nilo yang telah melayani keuskupannya selama hampir 17 tahun, saat dia ia meminta umat beriman untuk berdoa bagi jiwa imam yang terbunuh itu dan juga bagi berakhirnya pembunuhan di negara itu.


“Kami menuntut keadilan, penyelidikan menyeluruh dan tidak memihak atas kasus ini, dan penyelesaiannya yang cepat, saat kami juga memohon kepada mereka yang mungkin memiliki pengetahuan material tentang masalah ini untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian,” kata uskup.


“Kami sungguh-sungguh meminta umat kami untuk berdoa bagi Pastor Richmond, bagi perdamaian, penyembuhan dan keamanan umat-umat kami, dan bagi para klerus dan religius, terutama di keuskupan kami,” lanjut Mgr Bancud. (paul c pati berdasarkan berbagai laporan dari CBCPNews)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: