Pastor Markus Solo: Pendidikan bagi yang belum tercemar, kunci lenyapkan radikalisme

Pastor Markus Solo SVD bersama Paus Fransiskus. Ist

Pastor Markus Solo SVD bersama Paus Fransiskus. Ist

“Melenyapkan radikalisme butuh waktu. Kuncinya justru adalah pendidikan bagi mereka yang belum tercemar dengan ideologi radikalisme. Tekanan khusus dalam sektor pendidikan diberikan kepada pendidikan dini anak dan remaja di sekolah serta di dalam keluarga,” kata Pastor Markus Solo SVD.


Pernyataan itu diberikan kepada PEN@ Katolik oleh satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di Kuria Roma itu untuk menanggapi Diskusi Panel “Dialog Antaragama dan Resolusi Konflik” yang diselenggarakan oleh Yayasan Pengembangan Sosial dari CEMO (Centro de Estudios de Oriente Medio) bersama RSC (Religion & Security Council) di di Roma, 18 Mei 2018.


Model pendidikan yang harus diberikan kepada anak dan remaja itu, kata Pastor Markus Solo kepada media ini lewat media online, hendaknya sejalan dengan mobilisasi cinta budaya lokal dan bercorak pluralisme yakni “saling menghargai perbedaan dan saling memahami di dalam perbedaan.”


Pastor Markus Solo SVD, yang berkarya di Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) sebagai Kepala Biro Asia dan Pasifik  serta Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate, menjadi pembicara dalam diskusi panel itu. Pembicara lain adalah Dr Abdellah Redouane yang berkarya sebagai Sekretaris Jenderal Pusat Kebudayaan Islam Italia.


Dalam diskusi itu, Pastor Markus mengingatkan kepada para diplomat, pejabat organisasi internasional, cendekiawan, ahli, dan wartawan yang hadir apa yang diserukan oleh Paus Fransiskus kepada semua orang untuk “menjadi perajin perdamaian dan promotor dialog antaragama.”


Menurut imam asal Flores yang sudah bekerja 10 tahun di Vatikan itu, bentuk-bentuk utama dialog yang akan ditingkatkan di kalangan umat beriman dari berbagai agama adalah “dialog kehidupan, aksi, pertukaran teologis, dan pengalaman spiritual.”


Berkaitan dengan penyebaran ekstremisme di Asia, Pastor Markus mengatakan “ideologi-ideologi radikal telah merusak kerukunan antaragama di sejumlah negara.” Fenomena itu, lanjut imam itu, telah mempengaruhi Indonesia, negara yang dikenal sebagai contoh kerukunan antaragama bagi dunia. “Tetapi sekarang negara itu berulang kali menghadapi tantangan antaragama, seperti serangan teroris mematikan yang terjadi baru-baru ini terhadap gereja-gereja di Surabaya.”


Pastor Markus Solo SVD menegaskan bahwa “Pemberantasan ekstremisme membutuhkan waktu.” Tetapi imam itu yakin, “meningkatkan pendidikan untuk dialog antaragama, terutama di kalangan anak-anak dan kaum muda, serta pemerintahan yang baik, akan sangat membantu untuk mengembalikan budaya tradisional Asia berupa keterbukaan dan penerimaan terhadap pluralitas yang telah lama menjamin koeksistensi yang damai.”


Moderator diskusi Emiliano Stornelli mengatakan “di mana faktor agama terus disalahgunakan untuk memicu ekstremisme dan kekerasan, dialog antaragama dapat menjadi bagian solusi.” Dialog antaragama, lanjut Ketua RSC itu, memiliki potensi untuk memfasilitasi resolusi konflik dalam kerangka proses politik dan diplomatik yang lebih luas, dan dapat membantu menciptakan perdamaian dalam situasi pasca-konflik.”


Dia menyebut Timur Tengah sebagai contoh. “Tidak ada perdamaian yang nyata dan abadi yang akan mungkin terjadi tanpa mengatasi dimensi agama dari berbagai krisis regional. Maka, dialog antaragama merupakan kesempatan unik untuk mendorong dan mencapai rekonsiliasi yang tidak boleh disia-siakan oleh aktor lokal dan masyarakat internasional,” tegas Stornelli.(paul c pati berdasarkan religionandsecuritycouncil.org)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: