AWAL bertugas di Pangkalan Bun, Pastor Mohr MSF mengaku tidak terlampau sulit untuk berkomunikasi dengan umat Katolik setempat yang sebagian besar adalah suku Dayak.

“Saya merasa tidak terlalu susah untuk berkomunikasi dengan mereka karena bahasa mereka sudah bercampur dengan bahasa Indonesia. Mereka menyebut bahasa mereka dengan istilah ‘Bahasa Tamuan’. Saya tahu beberapa istilah Dayak seperti ‘huma’, ‘inday’ dan beberapa suku kata yang sering dipakai oleh masyarakat setempat.”

Pastor Mohr MSF berpendapat bahwa dalam tugas penggembalaan yang dijalankan oleh seorang imam, keterlibatan para pemimpin umat di dalamnya sangat diperlukan. Pastor Mohr MSF mengagumi seorang guru agama yang bernama Pieter Dinan, yang mampu berjalan jauh dan pandai berkomunikasi dengan umat.

“Dewasa ini di sepanjang aliran Sungai Barito telah menjadi basis Gereja Katolik yang cukup maju. Banyak paroki-paroki besar, seperti misalnya Paroki St. Mikhael Tamiyang Layang yang memiliki umat di atas 500 KK, Paroki St. Petrus dan Paulus Ampah dan Paroki St. Paulus Buntok yang memiliki jumlah umat kurang lebih sama. Paroki St. Yohanes Patas memiliki jumlah umat sekitar 250 KK. Hampir 10 ribu umat Katolik juga berada di hulu Sungai Barito, misalnya di wilayah Muara Teweh dan Puruk Cahu. Mesti ada misionaris-misionaris seperti kami pada jaman dahulu yang pergi mengunjungi mereka.” ucapnya dengan nada penuh harap.

Pastor Mohr MSF memuji umatnya di Stasi Hayaping yang masuk dalam wilayah pelayanan Paroki Tamiyang Layang.

“Mereka sendiri secara aktif berkumpul. Setelah dipilih ketua umat yang baru, mereka kemudian memilih seksi-seksi dalam kepengurusan umat dan sekarang mereka sudah membuat rencana kerja yang konkrit. Meskipun saya sedang sakit, mereka tetap mampu melakukan karya yang hebat.”

Pastor Mohr diwawancarai tim peserta workshop Writing and Journalism

Sesi wawancara: Pastor Mohr sedang menerima para peserta workshop jurnalism untuk sebuah sesi wawancara di Banjarbaru, Banjarmasin, Sabtu 10 Mei 2014. (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin/Dionisius Agus Puguh Santosa)

Prihatin dengan kondisi masyarakat Dayak sekarang

Sembari mengenangkan kembali masa lalunya yang indah di Pangkalan Bun, Pastor Mohr MSF membandingkan situasi pada masa lalu dan situasi terkini, “Saat saya bertugas di Pangkalan Bun selama 16 tahunan dengan 2 ribu umat di 30 stasi yang saya layani, saya menilai bahwa dinamika umat setempat sangat hidup. Kami banyak memberikan penataran-penataran atau semacam pembekalan kepada para pemimpin umat. Dewasa ini di wilayah yang pada masa lalu saya layani, telah digembalakan oleh delapan orang pastor.”

“Dalam sebuah rekoleksi, di situ dikatakan bahwa Tuhan Allah itu mencintai umat manusia. Dia hanya mencintai dan mencintai kita, dan Dia tidak berpatokan pada yang baik atau yang buruk. Tetapi bukan berarti Dia mencintai hal-hal yang buruk. Tuhan menilai kita dengan cinta-Nya yang begitu besar,” ujar Pastor Mohr MSF tentang kasih Allah yang dialaminya selama ini.

Pada suatu waktu Pastor Mohr MSF sempat pulang ke negara asalnya dan tinggal di sana selama dua tahun. Salah seorang sahabatnya berkata, “Kamu tinggal saja di Jerman.”

Namun Pastor Mohr MSF menjawab, “Saya ingin tinggalkan Eropa dan mau tinggal di Indonesia lagi. Saya senang hidup bersama dengan umat saya masyarakat Dayak di Kalimantan.”

Di bagian akhir perbincangan Pastor Mohr MSF mengingatkan bahwa, “Gereja punya misi ‘option for the poor’ sesuai dengan semangat Konsili Vatikan II.”

Pastor Mohr MSF prihatin atas kehidupan masyarakat Dayak yang saat ini mulai kehilangan kuasa atas negerinya sendiri, terutama akibat aktivitas pertambangan yang marak terjadi. “Dimana mereka akan menanam karet dan berladang? Tentu situasi ini kan menjadi masalah besar!” pungkasnya.

Sebelum mengakhiri perbincangan sore itu, Pastor Mohr MSF berpesan, “Kita tidak bisa hidup tanpa iman kepada Yang Maha Kuasa. Tanpa Dia, hidup kita tidak akan mempunyai arti.”

Biodata Pastor Joseph Richard Mohr MSF

Nama Lengkap : Pastor Joseph Richard Mohr, MSF
Asal : MSF Provinsi Jerman
Tanggal Lahir : 15 Maret 1937
Masuk Biara : 1956
Kaul Pertama : 8 September 1957
Tahbisan Imamat : 29 Juni 1963
Tiba di Indonesia : 20 Februari 1964
Cuti ke Jerman : 1989-1990
Tinggal di Provinsialat MSF Banjarbaru : 2013-sekarang

Karya:
• Bertugas di wilayah Keuskupan Palangkaraya, Kalteng  (1964-1965)
• Asisten Provinsial MSF Kalimantan (1977–1980)
• Pastor Paroki St. Paulus Pangkalan Bun (sejak 7 April 1965-1981)
• Bertugas di Sampit, Keuskupan Palangkaraya  (1981-1988)
• Bertugas di Buntok (1991-2002)
• Pastor Paroki St. Yohanes Patas (1996-2007)
• Bertugas di PLP “Putak IDI” Ampah (2002-2011)
• Bertugas di Stasi Hayaping, Paroki St. Paulus Ampah (2011-2013)
• Sekarang ini menetap sementara di Rumah Komunitas MSF di Banjarbaru, Keuskupan Banjarmasin, Kalsel.

 Photo credit: Pastor Joseph R. Mohr (Dok. Komisi Komsos Keuskupan Banjarmasin/Dionisius Agus Puguh Santosa)

 Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.