Pastor di Pedalaman Papua Ikut Sibuk Tangani Pasien Digigit Ular

ular menggigit by istINI adalah kisah nyata yang baru saja terjadi Minggu tanggal 25 Januari 2015. Selesai ekaristi, ada anak remaja digigit ular. Maria yang tergigit ular segera berlari menghampiri pastor dan orang-orang tua di depan gereja. Pak Klistus salah seorang bapak tua pengurus stasi memegang kaki dengan erat sembari berteriak tolong agar segera dicarikan ikat/tali. Tak satu pun dari banyak orang tergerak hati menolong. Padahal nyawa sudah diujung tanduk. Pastor lalu mengambil karet ban di motor dan memberikan kepadanya untuk diikatkan dibagian atas yang tergigit. Anton pemuda stasi berlari-lari memanggil ibu kandung Maria dan meminta tolong di tempat pesta nikah yang sedang banyak berkumpul orang untuk mengantarnya ke Puskesmas Pupul 2 dengan waktu perjalanan tercepat satu jam. Tidak satu pun yang mau mengantar Maria ke puskesmas dan ibu kandungnya pun tidak juga tergerak hati untuk datang menolong. Setelah 45 menit ibu itu datang bersama pemuda mencari anaknya. Padahal 45 menit anak ini tidak tertolong, maka 99 prosen kemungkinannya akan mati. Di puskesmas ibu itu berujar: “Pastor minta maaf. Tadi saya tidak segera datang ke gereja karena saya berfikir itu anak orang lain.” Jadi kalau anak orang lain, dia tidak peduli dengan nyawa orang. Baru dia peduli hanya karena dia anak kandung. Demikian juga dalam kehidupan masih ada saja orang yang bersikap demikian dalam konteks yang berbeda. Semoga kita menemukan kebahagiaan dengan melayani orang lain: hidup semata-mata demi orang lain dan Tuhan. Dan anak yang digigit ular black papua ini sembuh. Pastor tempelkan batu hitam dan rupanya –entah mengapa– bisa menyelamatkan nyawanya. Kalau dibawa ke puskesmas dengan jarak tempuh setidaknya 1 jam perjalanan, rasanya nyawa anak yang tergigit ular jenis black papua ini tidak akan tertolong lagi. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

ular menggigit by ist

INI adalah kisah nyata yang baru saja terjadi Minggu tanggal 25 Januari 2015. Selesai ekaristi, ada anak remaja digigit ular. Maria yang tergigit ular segera berlari menghampiri pastor dan orang-orang tua di depan gereja.

Pak Klistus salah seorang bapak tua pengurus stasi memegang kaki dengan erat sembari berteriak tolong agar segera dicarikan ikat/tali. Tak satu pun dari banyak orang tergerak hati menolong. Padahal nyawa sudah diujung tanduk. Pastor lalu mengambil karet ban di motor dan memberikan kepadanya untuk diikatkan dibagian atas yang tergigit.

Anton pemuda stasi berlari-lari memanggil ibu kandung Maria dan meminta tolong di tempat pesta nikah yang sedang banyak berkumpul orang untuk mengantarnya ke Puskesmas Pupul 2 dengan waktu perjalanan tercepat satu jam. Tidak satu pun yang mau mengantar Maria ke puskesmas dan ibu kandungnya pun tidak juga tergerak hati untuk datang menolong.

Setelah 45 menit ibu itu datang bersama pemuda mencari anaknya. Padahal 45 menit anak ini tidak tertolong, maka 99 prosen kemungkinannya akan mati.

Di puskesmas ibu itu berujar: “Pastor minta maaf. Tadi saya tidak segera datang ke gereja karena saya berfikir itu anak orang lain.”

Jadi kalau anak orang lain, dia tidak peduli dengan nyawa orang. Baru dia peduli hanya karena dia anak kandung. Demikian juga dalam kehidupan masih ada saja orang yang bersikap demikian dalam konteks yang berbeda. Semoga kita menemukan kebahagiaan dengan melayani orang lain: hidup semata-mata demi orang lain dan Tuhan.

Dan anak yang digigit ular black papua ini sembuh. Pastor tempelkan batu hitam dan rupanya –entah mengapa– bisa menyelamatkan nyawanya. Kalau dibawa ke puskesmas dengan jarak tempuh setidaknya 1 jam perjalanan, rasanya nyawa anak yang tergigit ular jenis black papua ini tidak akan tertolong lagi.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply