Pastor Berlibur ke Lombok

PADA hari ini kami mengawali rekreasi dengan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Widyantardi. Dalam homilinya, Rm. Widyantardi merenungkan tetap bertahan dalam perutusan saat mengalami situasi sulit. Ekaristi selesai pukul 07.00 wita dilanjutkan sarapan pa…

Sasak Lombok kain dan alat pemintalan

PADA hari ini kami mengawali rekreasi dengan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Widyantardi. Dalam homilinya, Rm. Widyantardi merenungkan tetap bertahan dalam perutusan saat mengalami situasi sulit. Ekaristi selesai pukul 07.00 wita dilanjutkan sarapan pagi. Sembari makan kami saling bercanda dan tertawa.

Agenda hari ini kami pergi ke beberapa pantai: Kuta Lombok, Tanjungan dan beberapa pantai yang agak susah diingat. Kami mengunjungi kerajinan tangan terbuat dari tanah liat.

Ada kekhasan kerajinan tangan Lombok, yaitu kendi maling. Kendi maling adalah kendi untuk minun yang diisi dari bawah tetapi keluarnya dari samping. Beberapa romo belajar membuat asbak. Setelah itu kami pergi ke pembuatan kain tenun.

Sasak Sade

Pergi ke Lombok kalo belum datang ke Desa Sasak Sade rasanya kurang lengkap. Sebab Desa Sasak Sade merupakan desa tertua Suku Sasak.

Guide dari Desa Sasak menjelaskan kebudayaan Sasak Lombok.

Ada yang menarik dari kunjungan ini:

  1. Rumah adat terbuat dari kotoran kerbau dan tanah liat.
  2. Ada filosofi dari rumah adat dengan atap dibuat pendek di pintu masuk dan anak tangga tepat di bawah atap. Maksudnya adalah agar orang menundukkan kepala sebagai simbol hormat pada tuan rumah.
  3. Cara orang Sasak melamar anak gadis dengan cara menculik. Anak gadis dipacari lima lelaki kemudian anak gadis memilih satu lelaki. Kemudian lelaki itu menculik anak gadis pada pukul 00.00 -01.00. Selain jam itu, lelaki akan didenda.
  4. Suku Sasak hidup menggerombol di satu kampong permukiman. Mereka hidup dari bertani.

Saya tertarik dengan kehidupan di Lombok. Sejauh memandang di jalan ada banyak anjing berkeliaran. Selain itu ada kerbau dan sapi yang menjadi pemandangan selama perjalanan.

Anehnya lagi, Lombok disebut sebagai provinsi 1.000 masjid. Sedang Paroki di Lombok hanya ada tiga.

Menurut Pak Leksi ada satu kampung namanya Kampung Hindu. Saya merasa hidup toleransi di Lombok cukup baik. Umat muslim melihat para turis dengan pakain minim tidak mempermasalahkan. Mungkin para turis merupakan sumber penghasilan penduduk. Umat muslim bertoleransi dengan umat Hindu saat nyepi juga nampak menurut cerita Pak Leksi.

Umat Katolik ada di Ampenan dan Mataram. Padahal tiga paroki itu ada di satu pulau seluas Lombok. Saya membayangkan jika temu pastoral seperti di Purwokerto, maka para pastor harus menyebrangi pulau. Dengan demikian di luar Mataram dan Ampenan tidak ada umat katolik.

Dengan semboyan 1.000 masjid se-Lombok jelas umat muslim menjadi agama mayoritas. Namun realitasnya dengan hadirnya turis dengan pakaian minim, anjing berkeliaran tanpa takut dinajiskan jika dijilat, umat Hindu tinggal di satu kampung, dan tiga paroki menjadi gambaran hidup toleransi mereka cukup baik.

Satu hal yang bisa saya apresiasi dari Lombok adalah kebersihan jalan kota, jalan aspal yang bagus tanpa lobang, dan pantai yang masih bening biru.

Besok, kami berencana misa di Paroki St. Antonius Padua Ampenan.

Menurut Sr. Anselma ada 3.300 umat separoki dengan hanya satu romo paroki SVD yang saat ini tengah retret.

Paroki St. Antonius tidak mempunyai stasi. Jika dibandingkan dengan Sidareja, Kroya, Majenang yang jumlah umatnya tidak lebih dari 1.000 dan di situ sudah ada dua imam, maka tata kelola pastoral di Lombok bisa dikatakan cukup baik.

Perjalanan kami hari ini cukup lelah karena kami mengunjungi beberapa pantai dan beberapa romo berenang.

Kami tiba di RR Aryo pukul 20.30 wita. Demikian cerita dolan di Pulau Lombok.

Kredit foto: Ilustrasi (Tenun Sasak khas Lombok produksi Desa Sade di Lombok Tengah/Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply