Pastor-Benny-Susetyo-Pr

PEN@ Katolik

Untuk membantu mencegah perpecahan yang mengancam kebhinekaan, anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Pastor Antonius Benny Susetyo Pr mengajak umat Katolik untuk selalu terlibat dalam kegiatan masyarakat di tingkat RT, RW, desa atau kelurahan, sehingga tercipta kerja sama, kerukunan, persahabatan, pertemanan dengan umat beragama lain.


Pastor Benny Susetyo berbicara dalam talk show bertema “Kebhinekaan Berawal dari Keluarga” yang dihadiri sekitar 300 umat Katolik di Gedung Karya Pastoral Paroki Santa Helena, Curug, Tangerang, 29 April 2018.


Dalam acara yang diselenggarakan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki Curug bekerja sama dengan Komunitas Pria Katolik (KPK), Couple for Christ (CFC), Legio Maria  dan Wanita Katolik RI di paroki itu, Pastor Benny mengakui saat ini kemajemukan bangsa Indonesia sedang diuji. “Kalau dulu persahabatan antara Katolik dengan agama lain dianggap biasa, akhir-akhir ini mengalami hambatan sejak meletusnya kasus Ahok. Hal ini disebabkan karena semua persoalan digiring ke ranah politik identitas,” tegas imam itu.


Pastor Benny mengaku dekat KH Hasyim Muzadi, tokoh Islam dan mantan Ketua Umum Nahdatul Ulama (NU) dari Malang, Jawa Timur. “Dulu, saya boleh bermain ke tempat Hasyim Muzadi, tapi kini kalau saya bertandang ke tempat beliau menjadi masalah. Inilah maka saya sebut kemajemukan sedang dalam ancaman, dan sebagai warga negara Indonesia, ini pekerjaan rumah berat bagi seluruh umat Katolik.”


Bahkan ancaman itu, terasa sampai pada pemilihan ketua OSIS di sekolah. “Anak-anak mulai diajarkan memilih pengurus OSIS yang seagama. Pergaulan dikotak-kotakan  sehingga anak terlibat dalam kelompok yang hanya satu agama. Ini sangat mengerikan,” kata imam itu.


Maka, pastor itu mengajak orangtua untuk selalu menjalin hubungan baik di tengah masyarakat tanpa membedakan suku, agama dan kepercayaan dan dengan melibatkan putera-puterinya agar mereka mengenal keragaman di Indonesia dan menumbuhkan saling hormat-menghormati. “Jika anak Anda bergaul dengan orang lain berbeda iman, itu berarti ia belajar mengenal dan memahami agama lain. Anak yang mengalami proses perkembangan sosial yang baik akan saling menghargai,” jelas Pastor Benny.


Pastor Benny juga mengkritik Gereja Katolik yang hanya bergiat sebatas ruang terbatas. “Kalau boleh anak-anak sekolah Minggu diajak mengunjungi masjid, vihara, atau kelenteng, sehingga mereka mengenal tempat ibadah agama lain.”


Menjawab pertanyaan peserta soal kafir yang diucapkan umat agama lain kepada penganut Katolik (Kristen), Pastor Benny menganjurkan agar ucapan itu tidak ditanggapi. “Yang menyebut kafir untuk orang lain itu tidak mengerti arti kata kafir. Kafir sebenarnya ditujukan kepada mereka yang tak mengenal Tuhan, sementara orang Katolik percaya adanya Tuhan,” jelas imam itu.


Selain Pastor Benny, acara itu menampilkan Psikolog Pendiri Rumah Konsultasi Tiga Generasi Anastasia Satryio M.Psi  dan pasangan suami-istri Cosmas Damianus Heru Prakasa dan Margaretha Heryawan.


Menurut Anastasia Satryio, orangtua perlu mengenalkan keberagaman di Indonesia dengan mengajak anak-anak untuk terbuka dan menghilangkan kecurigaan kepada pihak lain. “Sebelum membangun kebersamaan perlu kita hilangkan rasa saling curiga,” kata psikolog itu seraya mengajak orangtua mendiskusikan keberagaman di ruang keluarga dan memperkenalkan suku-suku yang ada, mengajak anak-anak berkunjung ke tempat lain untuk mengenal agama, suku, adat istiadat, makanan khas lain, “sehingga bisa tahu tentang keberagaman itu.”


Pasutri Cosmas-Margaretha membangun keluarga dari suku Jawa (Heru) dan suku Tionghoa (Etha). Kendati awalnya masing-masing ditolak keluarga tapi dalam perjalanan keduanya saling menerima perbedaan, bisa tetap akur dan mempunyai anak yang bertumbuh dalam perbedaan. (Konradus R Mangu)


talk2talk3talk

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.