Paskah Inkulturasi Jawa untuk tumbuhkan solidaritas, kekeluargaan dan kerukunan

Inkulturasi


Lantunan musik Karawitan khas Jawa ‘Wijoyo Laras’, yang mayoritas personilnya beragama Muslim, terdengar di Gereja Paroki Santo Agustinus Kubu Raya Pontianak mengiringi lagu-lagu liturgi yang dibawakan oleh kelompok paduan suara gabungan dari paroki-paroki yang ada di wilayah Pontianak.


Hari itu, Minggu 8 April 2018, Paroki Kubu Raya merayakan Misa Paskah Inkulturasi dalam bahasa Jawa. Perayaan tahunan dari komunitas umat Katolik etnis Jawa itu bukan hanya dihadiri oleh ribuan umat Katolik etnis Jawa, melainkan oleh umat Katolik dari berbagai suku, seperti suku Dayak dan Tionghoa.


Menurut Kepala Paroki Kubu Raya Pastor Yandhie Buntoro CDD, tujuan dari  kegiatan Paskah Inkulturasi itu adalah untuk semakin menumbuhkan rasa solidaritas dan kekeluargaan serta kerukunan umat beragama dalam budaya yang beraneka ragam, “yang selaras dengan tema Paska 2018 yakni ‘Bergerak dan berjuanglah guna mewujudkan sukacita bagi seluruh ciptaan di bumi Kalimantan Barat.’”


Imam itu mengungkapkan rasa senang karena saat itu mereka boleh merayakan Paskah dengan bahasa yang sangat akrab di telinga mereka, yang dia percaya itu akan membawa nuansa budaya yang bagus bagi kehidupan kita. “Semoga kegiatan Paskah Inkulturasi ini membawa angin segar serta atmosfir positif di tengah masyarakat kita yang majemuk,” kata imam itu.


Setelah Misa yang dipimpin Pastor Laurentius Prasetyo CDD dengan lima imam konselebran termasuk Provinsialat CDD dari Malang, umat diundang menikmati santapan khas Jawa seperti nasi gudek, pecal, soto Jawa, aneka kue-kue dan minuman segar yang disediakan oleh masing-masing paroki, dan menikmati hiburan dan ramah tamah di samping halaman Gereja.


Pastor Yandhie CDD juga mengundang Grup Band Rock bernuansa budaya Jawa yaitu Gafarock (Gamelan Faiz Rock) asal Lamongan. “Kehadiran kami sebagai pekerja seni dalam konteks pelestarian budaya adalah untuk menghibur. Kehadiran perdana kami di tengah orang-orang Jawa yang beragama Katolik di Pontianak ini membawa warna tersendiri yaitu, bahwa perbedaan agama, bahasa dan budaya yang ada di Indonesia bukan menjadi unsur yang memisahkan, namun menyatukan agar kita senantiasa menjunjung tinggi kebhinekaan,” ungkap vokalis Gafarock, Faiz Alhabib.


(Suster Maria Seba SFIC)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: