Paskah di Pantai Selatan dan Siantan Pontianak

paroki siantan pontianakok

SAYA merayaan Minggu Paskah bersama umat di Stasi Theodorus Padmowidjajo. Romo Padmo MSC adalah pendiri Yayasan Bhakti Mulia dan mempunyai sekolah-sekolah “Bhakti Mulia” di Keuskupan Purwokerto. Saya adalah salah satu murid di SMP Bhakti Mulia Purwodadi tahun 1973 – 1975 kelas IE dan masih ada kelas IF. Jadi kelas I ada 6 kelas paralel; muridnya sangat banyak pada waktu itu. Sekarang sekolah itu hampir tutup karena kalah saingan dengan SMP Negeri.

Keuskupan Purwokerto menjadikan tahun 2015 ini sebagai Tahun Pastoral Pendidikan. Dan di SMP Bhakti Mulia yang hampir mati itu dikirim dua imam SDB (Romo Mateus, mantan rektor di tempat pembinaan SDB dan Romo Catur) untuk membangkitkan kembali semangat pendidikan sebagai sarana pastoral dan misi Gereja mewartakan Kerajaan Allah.

Perintis Stasi Theodorus di desa Wirosobo, Pantai Selatan Laut Jawa itu adalah seorang guru SD, Pak Paulus Danuri, asal Bantul yang sekolah di Sekolah Guru dan Sekolah Katekis di Purbalingga yang didirikan oleh Pastor BJJ Visser MSC.

Pastor BJJ Visser adalah salah satu dari tiga MSC pertama yang datang di wilayah Purwokerto untuk mengambil alih dari pelayanan Jesuit di daerah itu.

Pada kesempatan Perayaan Paskah itu saya meminta Bapak Paulus Danuri untuk menceriterakan riwayat adanya umat katolik di daerah yang terpencil di ujung timur-selatan Keuskupan Purwokerto dan berbatasan dengan Keuskupan Agung Semarang itu. Memang pada waktu beliau datang tahun 1960an sebagai guru muda di desa itu, sudah ada 3 atau 4 orang yang beragama katolik.

Mereka menjadi katolik karena pewartaan dari orang katolik dari desa tetangga berama Ringgit. Dan desa Ringgit sendiri ada orang katolik karena ada seoang pemuda bernama Kamin yang kemudian dibaptis di Purworejo oleh Pastor MSC Belanda yang sudah mulai berkarya tahun 1927 di Kota Purworejo.

Pemuda Alfonsus Kamin itu meninggalkan desa pertanian yang sunyi untuk sekolah dan karena itu ia berkenalan dengan agama katolik dan dibaptis. Dari peristiwa itulah maka umat katolik juga merembet ke desa Wirosobo. Semua itu diceritakan oleh bapak Guru Paulus Danuri yang usianya hampir 80 tahun, masih sehat, mempunyai anak-anak 9 orang dengan para menantu 9 orang juga dan cucu ada 30an.

Gereja tempat Perayaan Ekaristi yang dibangun sejak tahun 1975 itu juga berdiri di atas tanah hibah dari Pak Danuri. Beliau mengatakan, “Umat di sini ada 105 warga, dan yang 30 orang adalah anak-cucu saya, atau sepertiga dari umat adalah keluarga saya sendiri. Saya hibahkan tanah ini untuk membangun Gereja, supaya ada Gereja untuk Misa, bukan di rumah-rumah umat berpindah-pindah.”

Dimana ada umat katolik, pastilah ada sejarah mulainya. Buah dari Paskah dan daya kekuatan Kristus yang bangkit nampak dalam kuasa pewartaan Injil itu untuk menumbuhkan iman di mana-mana dan terbentuklah Jemaat Allah. Pola yang terjadi di Filipi ketika Paulus berkhobah kepada para wanita di pinggir sungai di kota itu akan terus terulang.

“Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis. 16:14).

Barangkali Pertobatan Lidia itu adalah awal terbentuknya umat di Filipi yang begitu berkenan di hati Paulus dan mendapatkan Surat dari Sang Rasul itu dengan isi pengungkapan iman yang sangat indah seperti Kidung Filili 2: 3 – 11 itu; yaitu tentang Kristus yang telah mengosongkan diri-Nya.

Refleksi ini mulai saya tulis di Biara Suster PBHK Yogya, tetapi saya selesaikan di Pastoran Gereja Katolik Stella Maris Siantan, Pontianak, Kalimantan Barat, sebuah kota yang dibelah oleh Sungai Kapuas. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di daerah ini, tetapi saya menyaksikan Gereja dan Umat Allah sudah terbentuk di sini berkat karya para misionaris OFMCap, kemudian dilanjutkan oleh MSC.

Saya belum tahu banyak informasi tentang Sejarah Gereja di tempat ini, namun deretan foto para pastor yang pernah berkarya di paroki ini, yang terpajang berderet di dinding Pastoran, menjadi saksi bisu suatu karya misi untuk menghadirkan kerajaan Allah, buah kebangkitan Kristus, juga di tempat ini.

Selamat Paskah.

Kredit foto: Seorang imam ditandu dalam sebuah perayaan iman di Siantan, Pontianak, Kalbar. (Ilustrasi/Ist)

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply