Paskah di Darit, Perbatasan Pontianak-Singkawang

Diakon-Antonius-Dedian-MSC

DARIT adalah sebuah pusat kecamatan yang terletak di tengah hutan antara kota Pontianak dan Singkawang. Jarak dari Pontianak kurang lebih 200 km dan bisa ditempuh dalam waktu 4 jam, demikian pula jarak tempuh ke Singkawang.

Ketika saya jalan-jalan menyusuri wilayah Darit ini, saya terkesan dengan pemandangan sebuah Gereja Protestan yang kecil, sederhana dan terbuat dari kayu Kalimantan yang tua dan kuat bertahan ratusan tahun. Gereja sederhana itu dibangun sejak zaman Belanda oleh Zending Protestan dan ada landasan untuk pendaratan pesawat kecil tepat mulai dari halaman Gereja itu memanjang ke depan sepanjang yang diperlukan untuk cukup mendaratkan pesawat kecil yang mungkin hanya memuat 3 orang dengan membawa logistik untuk umat pedalaman. Dari bekas-bekas atau jejak-jejak karya misi itu bisa dibayangkan kegiatan pewartaan Injil pada waktu itu yang baru mulai diperkenalkan kepada suku-suku asing yang sama sekali belum pernah mendengar berita tentang Yesus.

Saya melihat pemandangan itu, mengambil foto dan merenungkan betapa kuat semangat mewartakan Injil para misionaris pada waktu itu sampai menembus hutan lebat dengan pesawat kecil dan risiko yang tidak kecil. Pemandangan yang sama saya dengar juga terjadi di tanah Papua dimana sampai sekarang pun daerah-daerah terpencil di pegunungan hanya bisa dijangkau dengan pesawat-pesawat kecil.

Sekarang Darit sudah berubah. Biarpun letaknya ada di tengah hutan, namun jalan yang menuju daerah itu sudah halus dan lalu lintas kendaraan bermotor sudah ramai. Semula Darit berpenduduk jemaat beragama protestan karena Zending Belanda dan umat beragama Islam karena ada wilayah kesultanan orang-orang Melayu.

Gereja Katolik baru datang kemudian tahun 1905 mulai dari kota Singkawang oleh para misionaris dari Belanda. Namun kini penduduk Darit sudah banyak yang beragama katolik dan Tarekat MSC mulai berkarya di Darit tahun 1996 atas permintaan dari Uskup Agung Pontianak.

Paroki Darit diserahi 76 Stasi yang diambil dari 240-an stasi dari paroki induknya yang dilayani oleh para Pastor Fransiskan Capusin. Kebanyakan jalan ke Stasi itu ditempuh melalui jalan tanah yang berlumpur kalau musin hujan, sehingga diperlukan tenaga ekstra bagi para pastor yang melayani daerah itu.

Saya melihat di mana ada Gereja Katolik, di situ ada juga persekolahan katolik dan bila ada biara suster yang hadir, maka suasana Gereja sebagai wujud terbentuknya iman karena berita Paskah telah benar-benar lengkap di tempat itu. Warta kebangkitan diwartakan ke mana-mana oleh para murid bahkan Tuhan sendiri turut mewartakan Injil bersama mereka dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Bdk. Mrk. 16:20).

Panggilan di Paroki Darit dan Siantan di Kota Pontianak juga berkembang. Walaupun belum 20 tahun MSC hadir di wilayah itu, namun sudah ada dua imam putera Dayak asli yang menjadi MSC dan seorang lagi sudah hampir ditahbiskan diakon. Ada pula yang sedang menempuh pembinaan dalam tarekat MSC.

Menurut Pastor Dedian MSC yang merupakan putera Dayak, dan anak paroki Siantan Pontianak dan ditugaskan di Paroki Darit ini, murid anak-anak sekolah katolik cukup banyak sampai mencapai 400 anak. Anak-anak katolik suku Dayak yang sedang bersekolah itu adalah masa depan Gereja di daerah ini. Diperlukan pembinaan mudika dan pendampingan bagi mereka supaya tumbuh dan berkembang menjadi anggota Gereja Katolik yang mantab.

Kredit foto: Pastor Dedian MSC, imam Dayak pertama yang menjadi imam MSC dan kini ditugaskan di Paroki Darit, Kalbar. (Hidup Katolik)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: