Pasar Rindu

Pasar malam di sebuah sudut di SaigonADA saatnya kita merindukan sebuah pasar tradisional. Dan bukan pasar malam. Seolah kita sudah begitu modern dengan ruko, mall, supermarket, bahkan hipermarket sehingga perlu sebuah nostalgia; pasar. Seolah kita telah asing dengan tradisi blusukan belanja dan beralih ke tradisi pesan lewat telepon atau klik mouse: tunggu beberapa saat – datang – bayar. Ruang publik Istilah […]

Pasar malam di sebuah sudut di Saigon

ADA saatnya kita merindukan sebuah pasar tradisional. Dan bukan pasar malam.

Seolah kita sudah begitu modern dengan ruko, mall, supermarket, bahkan hipermarket sehingga perlu sebuah nostalgia; pasar. Seolah kita telah asing dengan tradisi blusukan belanja dan beralih ke tradisi pesan lewat telepon atau klik mouse: tunggu beberapa saat – datang – bayar.

Ruang publik

Istilah pasar tradisional mengingatkan kita pada arena jual beli yang kumuh, tak tertata dengan aneka barang dagangan yang terselebar. Di sana kita bisa mencari beragam jajanan, makanan, beraneka perkakas yang unik dan aneh sekalipun.

Istilah ini juga mengingatkan suatu public square yang riuh dengan suasana tawar menawar yang toleran rasa persaudaraan, arena pertemuan yang ramah manusiawi, tempat perkenalan yang cepat, lengkap dengan omongan politik sekedarnya, gosip murahan atau sekedar sumpah serapah. Sebuah suasana yang kadang kita jauhi karena kesan jorok namun toh ngangeni… suasana yang norak dan ndeso tapi toh sekarang ini jadi pilihan untuk kampanye dan menarik simpati massa.

Kita memerlukan suasana persaudaraan serba apa adanya, yang spontan, sedikit semrawut, tak terlalu rapi dan sopan. Kita menyukai lelucon sedikit norak bahkan cabul. Kita pingin nimbrung nggossip tentang korupsi tokoh-tokoh demokrasi atau kisah asmara bakul jamu dengan lurah pasar. Kita juga merindukan sapaan dan omelan.

Terkadang kita justru merasa tercerabut dari akar bila perilaku kita terlalu berorientasi untung rugi, percepatan kapital, pada pasar yang terlalu menuntut ketrampilan individual atas nama profesionalitas.

Kita pernah capek pada struktur kontempetisi. Kita pernah lelah pada sistem yang terstruktur rapi, mekanis dan cepat, pada segala manajemen yang rumit. Kita bosan bergaul dengan prasarana serba otomatis modern tanpa kata, pelayanan cepat hemat tanpa sentuhan terimakasih khas manusia atau senyuman tanpa ketulusan jiwa.

Kita merindukan pasar tradisional lantaran akar kekerabatan masih terasa kental. Kita masih lekat dengan unsur ketimuran yakni paguyuban dan kekeluargaan. Kita merindukan pasar tradisional di mana laju perekonomian lebih setara. Ada majikan dan penjual tenaga, ada rentenir dan mbok bakul yang ngutang. Namun jurang kaya miskin tak terlalu tinggi.

A touch of class kurang menjulang. Monopoli tidak kentara. Dan pemilik modal yang kuat masih sedikit dikenal warga pasar. Ada borjuis-borjuis kecil namun toh menghidupi semangat sosial.

Pendek kata, kita memimpikan masyarakat yang ideal di mana sistem pasar dilengkapi dengan sistem ekonomi pelayanan (service economy) di mana ada saling kepedulian antar manusia yang penuh sehingga setiap warga masyarakat menyadari harkat martabatnya masing-masing dalam masyarakat di mana ia hidup.

Pasar malam di Saigon ok

Pasar malam: Sebuah pemandangan biasa terjadi setiap malam di banyak sudut Saigon –sekarang Ho Chi Minh City– di Vietnam, tak jauh dari Katedral Notre Dame Saigon. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Adakah kerinduan itu tanda alienasi. Kota-kota di Indonesia ini selalu ramai dengan panji, keramaian, kerumunan bahkan mobilisasi massa. Di sana yang ada celotehan riuh rendah, obral janji dan kampanye hitam, orasi menggelegar meski tanpa harmoni seperti dalam Twillite Orchestra.

Entah dalam pesta demokrasi, pentas seni, olahraga, hajatan atau sekedar kongkow-kongkow. Pada saat jalan-jalan kota tak lagi ramai oleh panji, umbul-umbul dan barisan massa, orang merasa ruang hampa. Ketika kegairahan massa untuk berkumpul, bergerombol menurun, orang merasa kolektivitas seolah ikut musnah. Dinamika kehidupan bersama seolah hambar tanpa mobilisasi massa.

Namun mereka yang rindu manusia seia sekata dalam tujuan bersama siap kecewa. Kerumunan itu bukan koletivitas. Mereka bergerombol bukan demi solidaritas, kesetiaan. Mereka berada bersama-sama di suatu tempat namun tanpa tujuan bersama.

Mestinya kemasyarakatan tercipta oleh a community of destiny dan dengan demikian juga a community of hope. Masyarakat tumbuh dan berkembang dalam suatu bangsa tatkala penduduknya mulai merasa dalam satu solidaritas dan mempraktekkan solidaritas itu dalam segala tantangan dan penerimaan. Tanpa solidaritas tak mungkin dikatakan masyarakat ada.

Tapi siapakah ‘kita’ dan siapakah ‘mereka’?

Yang merindukan pasar bukanlah mereka yang hidup dari dan senantiasa belanja di pasar. Yang merindukan pasar adalah mereka yang mengalami bentrokan nilai-nilai dalam dadanya. Mereka yang menghendaki kebebasan individual namun pada saat yang sama menginginkan kebersamaan.

Pasar tradisional

Orang seperti Mbok Mirah selalu pergi ke pasar sayur malam hari di Purwodadi, Grobogan karena itulah hidupnya. Ia tak pernah merindukan pasar tradisional sebagai romantisme karena ruang keluarga lebih merindukan kehadirannya. Sesekali ia kepingin nonton pasar malam bersama cucu tercinta. Tapi ia harus mencari rupiah demi rupiah. Ia harus mengayuh sepeda dari Gambrengan, tujuh kilo meter dari Purwodadi, membawa grobog sayurnya. Ia harus berangkat jam 6 sore karena geliat pasar sayur terjadi malam hingga subuh.

Sementara yang mengaku “kita” tetap belanja sayur di mall. Katanya lebih higienis, lebih praktis. Atau tidak dicap ketinggalan. Kita makan hamburger biar kelihatan keren ketimbang wajik, tempe goreng atau klepon. Tanda kemajuan? Tanda modernisasi? Tanda bahwa manusia Indonesia makin peduli soal kesehatan? Atau sebaliknya tanda makanan telah menguasai manusia?

Pasar tradisional Ist

Suasana pasar tradisional di tepian jalan: Inilah suasana pasar tradisional di sebuah badan jalan di Lentora, Sulawesi Tengah (Ilustrasi/Ist)

Kita merasa modern dengan gambaran mall yang rapi, sopan, bersih, mewah, efisien. Suatu sikap, kondisi atau perangkat yang pada dasarnya kerinduan setiap orang. Di sana kita bersentuhan dengan segala sesuatu yang serba asing; makanan padat protein, pakaian bermerk, bantal yang empuk. Dengan dolar dan jutaan rupiah kita mampu membawa beberapa barang-barang yang sarat teknologi.

Segalanya bisa kita dapatkan di mall. Kita dapatkan barangnya, kita tinggal jiwa dan semangatnya. Di mall kita menuntut efesiensi, pelayanan perfek, suasana cantik dan nyaman. Namun di arena lain paradigma kita tetap biasa. Kita belanja di mall sambil merindukan pasar tradisional. Barang pembelian kita global, pemikiran lokal.

Malam itu, gerimis kecil mengguyur jalanan. Dengan penutup plastik di kepalanya, Mbok Mirah kembali mengayuh sepedanya ke Gambrengan. Tawanya berurai setiap kali tetangganya sesama pedagang sayur mendahuluinya. Sapaan lugas, janji pertemuan ibu-ibu RT, canda tentang utang piutang ikut meluncur penuh persaudaraan. Terbayang tawa cucunya yang sedang dibaringkan supaya segera tidur…

Kredit foto: Pasar malam tradisional di Saigon, Vietnam (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi) dan pasar tradisional di Lentora, Sulawesi Tengah (Ilustrasi/Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply