Paroki MRPD Pancasila Pontianak: Rekoleksi Belajar Olah Hidup bersama Pastor Provinsial Kapusin

Rekoleksi pengolahan hidup bersama Pastor Mayong OFMCap di Gereja MRPD Pancasila Pontianak, Minggu (25/3/18).

DALAM rangka menyambut Hari Raya Paskah, sesudah Misa Minggu Palma hari Minggu (25/3) lalu,  Paroki MRPD Pancasila Pontianak mengadakan rekoleksi umat se-paroki. Yang ikut adalah kaum dewasa, OMK, mahasiswa.


Semuanya berjumlah 148 orang,  tidak termasuk panitia.  Para suster SMFA dan suster KFS ikut menggabungkan diri dengan umat paroki MRPD.


Tema rekoleksi adalah “Iman dan Perbuatan” bersama Pastor Mayong Andreas Acin OFMCap, Provincial OFMCap Provinsi Pontianak. 


Menurut pastor Kapusin ahli Hukum Gereja dan  alumnus Pontifical and Royal University of St. Thomas, Manila, konten rekoleksi lebih fokus pada motivasi.


Karenanya, ia lalu banyak mengutip pesan-pesan bijak.


Semua itu  dipaparkan  dengan gaya bahasa sederhana, pembawaan rileks. Ini dengan harapan agar peserta jangan sampai mengantuk. Karena itu, selingan humor membuat rekoleksi ini menjadi menarik.


Provisial Ordo Fransiskan Kapusin Provinsi Pontianak: Pastor Mayong OFMCap sebagai nara sumber di rekoleksi umat di Gereja Maria Ratu Pencinta Damai – Paroki Pancasila, Pontianak.

Pastor Mayong memberi dua sesi pertemuan.


Satu sesi bicara tentang “Beriman Kristiani” yang membutuhkan dan mengandaikan kualifikasi serta kemampuan berikut ini:

Spiritualitas. Artinya, orang mesti memiliki relasi erat dengan Allah dan mampu menafsirkan kehendak-Nya bagi Gereja dan dunia. Ia mesti juga memiliki relasi yang baik dengan sesama umat beriman dan umat beriman lain serta masyarakat.Relasi Yesus dengan Bapa-Nya yang begitu istimewa itu akan memunculkan wibawa tersendiri dalam diri Yesus.Secara manusiawi, relasi antarpribadi seperti ini bukanlah suatu relasi sekali untuk selamanya.Waktu yang berlalu bisa saja membuat relasi yang berawal manis menjadi hambar; yang tadinya hangat lalu menjadi dingin.

Oleh karena itu, kata Pastor Mayong OFMCap, untuk menjaga kesegaran relasi, setiap saat relasi tersebut harus dipupuk dan dibina. Tentu saja, kita tidak tahu pasti, apakah relasi Yesus dengan Bapa-Nya itu seperti relasi manusiawi seperti kita yang harus selalu dipupuk.


Tetapi kalau kita menyimak Injil Lukas, ada sesuatu hal yang menarik. Yakni,  Yesus selalu menyediakan waktu khusus untuk bisa berdoa kepada Bapa-Nya.


Ada pepatah dalam bahasa Itali  yang berbunyi:  “Dal Tempo al Tempio, dal Tempio al Tempo.”


Tempio secara harafiah berarti kuil atau tempat ibadah atau tempat bertemu dengan Tuhan.  Sementara tempo berarti waktu.  Yang dimaksud di sini adalah hidup sehari-hari yang dijalani dalam waktu.


Kalau mencari padanannya dalam bahasa kita, mungkin kita bisa mengatakan hal ini:  “Dari altar ke latar, dari latar ke altar.”


Secara sederhana, kedua ungkapan ini mau menunjukkan relasi timbal balik yang amat erat  yang semestinya ada:  antara dimensi rohani (tempio, altar) dan dimensi jasmani aktivitas manusia (tempo, latar).


Kita menghadap Allah dalam doa untuk mempersembahkan kepada Dia apa yang kita lakukan selama hari-hari hidup kita. Dan sebaliknya, kita membawa apa yang kita dapatkan dalam doa, dalam pertemuan dengan Tuhan, ke dalam kegiatan hidup kita sehari-hari.

Mencintai tugas/pelayanan sebagai panggilan khusus, memiliki kegembiraan dalam menjalankan pelayanan.Memiliki daya pikat, keteladanan dan daya juang.Mau belajar terus-menerus dan terbuka terhadap perkembangan zaman yang cepat berubah.

Tekun mengikuti program kegiatan rekoleksi bersama Pastor Mayong OFMCap di Gereja MRPD Pancasila, Pontianak, 25 Maret 2018. (Ist)

Kualitas kerohanian mendalam dan liturgis


Seorang yang beriman haruslah seorang yang suka berdoa,  bukan berbicara tentang doa, serta menyerahkan diri kepada Allah. Ia harus rajin membangun hidup dari sakramen-sakramen khususnya Sakramen Ekaristi dan Tobat.


Ia harus rajin membaca Kitab Suci sebagai kekuatan dasar, merenungkannya secara mendalam agar mampu menyampaikannya kepada umat beriman. Selain itu ia perlu juga mengembangkan sikap devosional. 


Hal itu dijelaskan melalui contoh kongret tentang tujuh keutamaan yakni:

Rendah Hati.Sederhana.Mengampuni.Suci, saleh.Berbelaskasih.Adil.Jujur.

Inilah kualifikasi orang beriman:

Mampu menahan diri.Bijaksana.Tidak materialistis.Ramah.SopanPendamai.Suka Menolong.

Aneka ilustrasi

“Sepatah kata yang ramah dapat menghangatkan tiga bulan di musim dingin.” Pepatah Jepang.“Orang yang serakah adalah orang yang menggali kubur untuk dirinya sendiri.” Pepatah Bijak.“Bumi cukup untuk melayani keperluan manusia, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.”  Mahatma Gandhi.“Uang adalah pelayan yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk.” Phineas Taylor Barnum.“Jangan mengharapkan dunia kelihatan terang, jika Anda selalu memakai kacamata gelap.” Charles Elliot.“Rahasia untuk menjadi bahagia tidak terletak pada melakukan yang disukai, melainkan menyukai apa yang dilakukan” –Sir James M. Barrie .“Satu-satunya rintangan yang akan selalu menghalangi seseorang dari kesuksesan adalah ‘Tidak Memulai’.”  John Maxwell“Bukan kesulitan yang membuat kita takut, melainkan ketakutan yang membuat kita sulit. Jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Jangan katakan pada Tuhan, ‘Aku punya masalah’, tetapi katakan pada masalah, ‘Aku punya Tuhan yang Maha Segalanya.” Greg Subiakno

Anda masuk dalam kategori mana? 

“14 P’: Pergi Pagi Pulang Petang, Penghasilan Pas-pasan, Pantat, Pinggang Pegal Pegal, Pala Pusing-pusing.“Lagu Mingguan Karyawan”:

Minggu 1 – Semua bunga ikut bernyanyi (baru gajian);
Minggu 2 – Kasih-Nya seperti sungai  (gaji mengalir dan mulai dinikmati);
Minggu 3 – Kutahu Tuhan pasti buka jalan (gaji mulai menipis);
Minggu 4 – Tuhan kasihanilah kami (gaji sudah habis);
Minggu 5 – Dalam Yesus kita bersaudara (sudah mulai pinjam, ngutang).


Suasana rekoleksi.

 Hidup sebagai saudara dalam kasih sesuai filosofi lima jari 

Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.Ada si jangkung jari tengah yang sombong , paling panjang dan suka menghasut jari telunjuk.Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.Dan ada kelingking yang lemah dan penurut.

Album: Dubes Vatikan Mgr. Piero Pioppo Berkati Gereja St. Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila Pontianak


Sr. Kresentia Yati SMFA

Suster biarawati SMFA (Suster Misi Fransiskan Santo Antonius) Pontianak, kelahiran Sungai Uluk, Putussibau; sekarang belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Program Studi Manajemen dan Bendahara Pengelola Pertukangan Santo Yusup, Keuskupan Agung Pontianak.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: