Panggilan dari Gua Maria Sawer Rahmat

PhotoGrid_1435837838534PERJALANAN dari Jakarta menuju Kuningan Jawa Barat terasa cepat berlalu. Melintas jalan tol Cipali (Cikampek-Palimanan) yang baru diresmikan Juni 2015 lalu, saya berkendara menuju Gua Maria Sawer Rahmat di desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Perjalanan darat yang umumnya menghabiskan waktu enam hingga tujuh jam kini -melalui tol baru dengan tarif termahal yakni Rp. 96.000 – jarak Jakarta Kuningan hanya memakan waktu sekitar tiga jam. Tidak sulit mencapai Gua Maria Sawer Rahmat ini. Setelah keluar tol Cipali saya berbelok menuju ke arah Cirendang yang mulai meliuk-liuk jalannya. Kendaraan melewati jalan beraspal yang mulus, sementara di kiri kanan jalan terdapat rumah-rumah penduduk dengan pepohonan yang rindang. Di luar mobil udara mulai terasa sejuk, menyegarkan paru-paru yang terbiasa terpapar polusi kota Jakarta. Gua Maria yang diresmikan tahun 1990 oleh Kardinal Tomko ini terletak di kaki gunung Ceremai sekitar 700 km diatas permukaan laut. Banyak penunjuk arah di jalan yang menunjukkan lokasi Gua Maria sehingga tidak perlu kuatir tersesat. Saya mengarahkan mobil melewati jalan menanjak menuju desa Cisantana. Suasana pedesaan yang hijau dan asri makin terasa, di kanan kiri jalan terdapat terasering persawahan yang indah. Beberapa pedagang yang menjual buah-buahnan seperti jambu air, labu dan nanas tampak menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Tak berapa lama saya tiba di sebuah tempat parkir mobil yang memang dikhususkan untuk peziarah. Di tempat parkir luas tersebut terdapat beberapa warung yang menjual makanan khas desa setempat seperti ubi ungu, kerupuk, dodol nanas, jus sirsak, emping pedas manis dan lain-lain. Setelah menyiapkan sedikit air mineral dalam tas, saya melangkahkan kaki ke arah bukit. Di pojokan jalan sebelum memasuki jalan setapak ada tongkat-tongkat kayu yang berjajar dengan rapi. Rupanya para peziarah dapat menggunakan tongkat kayu panjang 1,5 m tersebut sebagai penopang tubuh dalam perjalanan yang menanjak ke atas. Setelah mengambil satu tongkat saya segera menyusuri jalan setapak di Bukit Totombok tempat Gua Maria ini berada. Jalan setapak yang saya lewati mengarah ke sebuah tempat datar yang diatasnya terdapat bangunan yang dikenal sebagai Taman Doa Getsemani. Suasana tenang, sejuk dan khidmat mulai terasa sewaktu saya berhenti di taman ini dan berdoa. Tampak lukisan Yesus dalam ukuran besar sedang berdoa di Taman Getsemani sebelum ditangkap para prajurit Romawi dan beberapa bangku serta lilin menyala di dalam bangunan kecil itu. Dari situ saya melanjutkan jalan setapak berundak-undak yang semakin tinggi. Dengan bantuan tongkat kayu saya menjalani jalan salib ini dari satu perhentian ke perhentian lainnya. Pohon dan semak di kanan kiri jalan membuat prosesi jalan salib saya tidak terlalu berat, sesekali saya memperhatikan kupu-kupu, laba-laba dan serangga lain muncul dari sela-sela daun hijau menandakan harmoni ekosistem masih terjaga di sini. Jangan kuatir kepanasan karena oksigen yang tersedia di tempat ini amat bersih bagai O2 di tabung oksigen bagi pasien paru-paru. Jika lelah, bisa berhenti sejenak sambil menikmati keindahan lereng bukit Totombok ini. Kaki-kaki saya memang harus diistirahatkan setiap menanjak, namun apalah arti “penderitaan” itu dibanding Tuhan Yesus saat memikul salibNya? Saya menyelesaikan perhentian jalan salib dan kelelahan saya terbayar ketika tiba di Gua Maria Sawer Rahmat. Di hadapan saya terdapat gua besar dengan patung Maria di dalamnya. Patung berwarna putih setinggi dua meter tampak anggun berdiri dengan tangan terkatup. Dibawah patung banyak bunga-bunga dan lilin-lilin yang dinyalakan peziarah. Saya menyalakan lilin dan mengucapkan doa-doa permohonan. Setelah itu saya menuju sebelah kiri gua dimana terdapat empat pancuran yang mengalirkan air segar dan bersih dari sebuah curug (air terjun) untuk mencuci muka dan kaki. Curug tersebut dikenal dengan nama curug Sawer (jatuhnya seperti air yang disawerkan). Itulah sebabnya gua ini disebut Gua Maria Sawer Rahmat. Kemudian saya mendaraskan satu kali putaran rosario sambil duduk di bangku semen yang ada di depan gua. Terbayang perjalanan jauh yang sudah saya tempuh. Dalam agenda libur saya, tak tertulis acara mengunjungi Cigugur, Kuningan ini tetapi entah mengapa Tuhan membuat suatu rencana lain yang tak terduga. Ziarah ini tiba-tiba mengingatkan saya akan sebuah tugas yang harus saya emban. Saya seolah mendapatkan peneguhan dalam pergumulan itu. Begitulah cara kerja Tuhan, mendadak, penuh kejutan, tak terduga dan mencerahkan. Saya yakin, jika DIA menyuruh saya mengemban sebuah tugas tertentu maka Dia juga menunjukkan kepada saya apa saja yang harus saya lakukan.

PhotoGrid_1435837838534

PERJALANAN dari Jakarta menuju Kuningan Jawa Barat terasa cepat berlalu. Melintas jalan tol Cipali (Cikampek-Palimanan) yang baru diresmikan Juni 2015 lalu, saya berkendara menuju Gua Maria Sawer Rahmat di desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Perjalanan darat yang umumnya menghabiskan waktu enam hingga tujuh jam kini -melalui tol baru dengan tarif termahal yakni Rp. 96.000 – jarak Jakarta Kuningan hanya memakan waktu sekitar tiga jam.

Tidak sulit mencapai Gua Maria Sawer Rahmat ini. Setelah keluar tol Cipali saya berbelok menuju ke arah Cirendang yang mulai meliuk-liuk jalannya. Kendaraan melewati jalan beraspal yang mulus, sementara di kiri kanan jalan terdapat rumah-rumah penduduk dengan pepohonan yang rindang. Di luar mobil udara mulai terasa sejuk, menyegarkan paru-paru yang terbiasa terpapar polusi kota Jakarta.

Gua Maria yang diresmikan tahun 1990 oleh Kardinal Tomko ini terletak di kaki gunung Ceremai sekitar 700 km diatas permukaan laut. Banyak penunjuk arah di jalan yang menunjukkan lokasi Gua Maria sehingga tidak perlu kuatir tersesat.

Saya mengarahkan mobil melewati jalan menanjak menuju desa Cisantana. Suasana pedesaan yang hijau dan asri makin terasa, di kanan kiri jalan terdapat terasering persawahan yang indah. Beberapa pedagang yang menjual buah-buahnan seperti jambu air, labu dan nanas tampak menjajakan dagangannya di pinggir jalan.

Tak berapa lama saya tiba di sebuah tempat parkir mobil yang memang dikhususkan untuk peziarah. Di tempat parkir luas tersebut terdapat beberapa warung yang menjual makanan khas desa setempat seperti ubi ungu, kerupuk, dodol nanas, jus sirsak, emping pedas manis dan lain-lain.

Setelah menyiapkan sedikit air mineral dalam tas, saya melangkahkan kaki ke arah bukit. Di pojokan jalan sebelum memasuki jalan setapak ada tongkat-tongkat kayu yang berjajar dengan rapi. Rupanya para peziarah dapat menggunakan tongkat kayu panjang 1,5 m tersebut sebagai penopang tubuh dalam perjalanan yang menanjak ke atas.

Setelah mengambil satu tongkat saya segera menyusuri jalan setapak di Bukit Totombok tempat Gua Maria ini berada. Jalan setapak yang saya lewati mengarah ke sebuah tempat datar yang diatasnya terdapat bangunan yang dikenal sebagai Taman Doa Getsemani. Suasana tenang, sejuk dan khidmat mulai terasa sewaktu saya berhenti di taman ini dan berdoa. Tampak lukisan Yesus dalam ukuran besar sedang berdoa di Taman Getsemani sebelum ditangkap para prajurit Romawi dan beberapa bangku serta lilin menyala di dalam bangunan kecil itu.

Dari situ saya melanjutkan jalan setapak berundak-undak yang semakin tinggi. Dengan bantuan tongkat kayu saya menjalani jalan salib ini dari satu perhentian ke perhentian lainnya. Pohon dan semak di kanan kiri jalan membuat prosesi jalan salib saya tidak terlalu berat, sesekali saya memperhatikan kupu-kupu, laba-laba dan serangga lain muncul dari sela-sela daun hijau menandakan harmoni ekosistem masih terjaga di sini.

Jangan kuatir kepanasan karena oksigen yang tersedia di tempat ini amat bersih bagai O2 di tabung oksigen bagi pasien paru-paru. Jika lelah, bisa berhenti sejenak sambil menikmati keindahan lereng bukit Totombok ini. Kaki-kaki saya memang harus diistirahatkan setiap menanjak, namun apalah arti “penderitaan” itu dibanding Tuhan Yesus saat memikul salibNya?

Saya menyelesaikan perhentian jalan salib dan kelelahan saya terbayar ketika tiba di Gua Maria Sawer Rahmat. Di hadapan saya terdapat gua besar dengan patung Maria di dalamnya. Patung berwarna putih setinggi dua meter tampak anggun berdiri dengan tangan terkatup. Dibawah patung banyak bunga-bunga dan lilin-lilin yang dinyalakan peziarah.

Saya menyalakan lilin dan mengucapkan doa-doa permohonan. Setelah itu saya menuju sebelah kiri gua dimana terdapat empat pancuran yang mengalirkan air segar dan bersih dari sebuah curug (air terjun) untuk mencuci muka dan kaki. Curug tersebut dikenal dengan nama curug Sawer (jatuhnya seperti air yang disawerkan). Itulah sebabnya gua ini disebut Gua Maria Sawer Rahmat.

Kemudian saya mendaraskan satu kali putaran rosario sambil duduk di bangku semen yang ada di depan gua. Terbayang perjalanan jauh yang sudah saya tempuh. Dalam agenda libur saya, tak tertulis acara mengunjungi Cigugur, Kuningan ini tetapi entah mengapa Tuhan membuat suatu rencana lain yang tak terduga.

Ziarah ini tiba-tiba mengingatkan saya akan sebuah tugas yang harus saya emban. Saya seolah mendapatkan peneguhan dalam pergumulan itu. Begitulah cara kerja Tuhan, mendadak, penuh kejutan, tak terduga dan mencerahkan. Saya yakin, jika DIA menyuruh saya mengemban sebuah tugas tertentu maka Dia juga menunjukkan kepada saya apa saja yang harus saya lakukan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply