(sambungan)
Dalam Kejadian 39, kita melihat bahwa dalam keadaan pahit pun Yusuf senantiasa berjalan dengan Tuhan dalam hubungan yang erat. Disana kita bisa melihat bagaimana bentuk kedekatan hubungan antara Yusuf dengan Tuhan, sehingga Tuhan senantiasa menyertai Yusuf. Dan penyertaan itu membuat Yusuf menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Dengan jelas disebutkan bahwa yang membuat Yusuf selalu berhasil adalah karena penyertaan Tuhan, dan bukan karena kehebatan dirinya sendiri. “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” (Kejadian 39:2)
Kalimat itu bukan hanya sekali, tetapi disebutkan berulang-ulang dalam ayat-ayat selanjutnya. Ayat berikutnya berbunyi: “Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.” (ay 3-4). Ketika Yusuf kemudian dipenjara, kembali kita temukan ayat yang menyatakan tentang penyertaan Tuhan. “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu…..Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.” (ay 21,23).
 
Kisah hidup Yusuf sungguh menarik untuk disimak karena beberapa hal. Pertama, kita bisa menyaksikan bahwa Yusuf tahu apa yang menjadi panggilannya, tugasnya di dunia. Meski ia harus menempuh jalan hidup yang penuh liku, berat dan penuh penderitaan, sedikitpun hatinya tidak ragu akan rencana Tuhan. Kedua, kita bisa melihat bahwa meski di dalam banyak pergumulan, dalam situasi dan kondisi yang menurut orang menyedihkan, ia masih saja mengalami keberhasilan-keberhasilan disana. Keberhasilan-keberhasilan kecil yang kemudian bermuara pada sebuah keberhasilan besar seperti yang direncanakan Tuhan sejak semula pada dirinya. 
Yusuf bisa saja patah arang pada titik tertentu. Apakah pada saat ia hampir dibunuh saudaranya, saat dibuang ke sumur, saat difitnah oleh istri majikannya, saat dipenjara dan sebagainya. Bayangkan kalau Yusuf punya mental dan iman yang lemah, bisa jadi kisah hidupnya berbeda. Yusuf bisa luput dari pemenuhan panggilan sesuai rencana Tuhan dan beralih menjalani hidup sesuai jalan sendiri. Kalau itu yang terjadi, Yusuf tidak akan pernah menjadi orang kedua di Mesir dan bangsa itu akan mati karena kelaparan hebat yang melanda seluruh negeri. 
Dari kisah Yusuf kita bisa belajar bahwa untuk mencapai rencana Tuhan, untuk menjalankan panggilan, tetap ada pergumulan, kesulitan bahkan penderitaan dan pengorbanan. Tetapi pada akhirnya setelah badai itu selesai, kita akan berdiri menjadi orang-orang yang dewasa secara iman disertai keberhasilan dalam hidup yang bersukacita. Saya tidak mengaitkan bentuk sukacita dari hal-hal yang sifatnya materi atau finansial, tetapi kepada hidup yang bisa dengan jelas merasakan keberadaan Tuhan, hidup yang disertai Tuhan dan melibatkan Tuhan, dimana akan ada keberhasilan-keberhasilan kecil pada setiap langkah, baik pada saat tenang maupun tidak, dan itu karena ada peran Tuhan di dalamnya, bukan karena kekuatan sendiri. Jika anda lakukan itu, anda akan tahu bahwa menjalani panggilan meski sulit pada masa-masa awal menghasilkan banyak hal yang sangat berbeda dibandingkan melakukan segala sesuatu diluar panggilan anda. Ada perasaan damai sejahtera disana, ada kebahagiaan, ada senyum lega, rasa puas dan hal-hal indah lainnya meski anda belum sampai kepada titik puncak pemenuhan panggilan anda tersebut. 
(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.