Pameran Diri dalam Beramal

Ayat bacaan: Matius 6:4
===================
“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Dunia terbiasa menunjukkan bahwa pemberian haruslah disertai nama agar terlihat siapa yang memberi dan berapa jumlahnya. Ada sebuah pesta pernikahan yang saya hadiri memberi nomor di setiap amplop sesuai daftar tamu. Orang pun terbiasa memberi dengan menyebut nama, setidaknya kartu nama, atau jelas-jelas di amplop. Dalam pemilu baik kepala pemerintahan, pejabat daerah maupun caleg kita sudah terbiasa pula melihat orang berusaha merebut pengikut dengan gelontoran hadiah mulai dari baju kaos, sembako bahkan uang. Untuk urusan ini, tentu saja pemberinya harus jelas. Kalau bukan langsung ada foto atau nama kandidat, ya minimal ada lambang partainya. Dahulu di tempat saya tinggal ada sebuah perkampungan yang letaknya tidak jauh, mereka ketiban rejeki pada saat-saat kampanye. Hari ini mereka memakai atribut A, besok orang yang sama akan memakai atribut B. Tidak soal, yang penting dapat dulu, sampai nanti ada pemilihan lagi. Pemberian seperti ini bukanlah pemberian tulus, karena ada agenda di balik itu untuk kepentingan pribadinya.

Memberi merupakan kewajiban semua manusia dan merupakan perbuatan mulia. Sedekah, sumbangan, bantuan, pengumpulan dana dan sebagainya adalah bagian dari ibadah yang dianjurkan oleh semua agama. Bagi kita pun demikian. Yesus berkata “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Pemberian adalah bagian dari kepedulian terhadap sesama yang memenuhi hukum kedua yang terutama yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39). Jangan lupa, saat kita memberi, itu artinya kita melakukan sesuatu untuk Yesus. (Matius 25:40). Memberi itu baik, tetapi motivasi di balik pemberian itu sesungguhnya sangat menentukan nilai pemberian kita. Apakah kita memberi karena rasa belas kasih dan turut prihatin dengan tulus atau kita memiliki maksud-maksud tersembunyi dibelakangnya? Apakah kita memberi karena kita mengasihi sesama dan ingin mengalirkan kasih Tuhan kepada orang lain, atau kita ingin mendapatkan keuntungan, pujian, penghargaan atau agenda-agenda yang menguntungkan kita secara pribadi atau golongan? Apa yang menjadi landasan atau dasar kita dalam memberi akan menghasilkan perbedaan nyata dalam penilaian di mata Tuhan.

Orang-orang Farisi, para ahli taurat dan pemuka agama di masa Yesus adalah contoh terkenal mengenai kemunafikan. Mereka memang menyumbang, mereka berdoa, mereka rajin berpuasa, namun semua itu hanyalah bentuk pameran rohani agar mereka terlihat kudus dan mendapat simpati di mata rakyat.  Yesus menegur keras motivasi mereka yang munafik ini. “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.” (Lukas 11:42-43). Perhatikan, mereka membayar perpuluhan, tapi mereka pilih kasih dan tidak mencerminkan bentuk kasih Allah dalam perbuatan mereka. Mereka selalu duduk paling depan di rumah ibadat agar mendapat pujian dari orang. Ini perbuatan tercela yang tidak mendapat hasil apa-apa dari Tuhan. Tuhan tidak berkenan dengan pemberian atau perbuatan yang didasari motivasi untuk memegahkan diri, mencari popularitas, pamor dan keuntungan dari manusia lain. Dalam hal memberi, apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah seperti ini: “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:2). Jangan tiru orang-orang Farisi yang suka menggembor-gemborkan pemberian dan ibadah mereka agar mendapat pujian orang. Tidak ada upah apapun yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang memiliki motivasi seperti ini, yang menjadikan pemberian mereka sebagai pameran rohani atau perbuatan dengan agenda-agenda dibelakangnya dengan berbagai tujuan selain karena Tuhan.

Lantas bagaimana seharusnya? Pertama, semuanya haruslah didasarkan kerinduan untuk memberkati orang lain atas dasar kasih. Lantas jangan lupa pula bahwa pemberian yang kita lakukan seharusnya tidak digembar-gemborkan, dipamerkan kepada orang apalagi dipublikasikan secara luas seperti yang sering kita lihat dalam infotainment-infotainment di berbagai stasiun televisi swasta. Perhatikanlah ada banyak yang mengundang wartawan ke rumah, atau bahkan meliput mereka ketika menyantuni anak yatim dan sejenisnya. Tidak jarang mereka bahkan menyebutkan berapa nilai yang mereka berikan. Ini adalah bentuk pameran rohani yang sangat tidak boleh kita tiru. Firman Tuhan jelas berkata: “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (ay 3). Dan, “hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (ay 4). Inilah pemberian yang bernilai di mata Tuhan.

“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. Perkataan ini diulang Yesus tiga kali seperti yang tertulis dalam Matius 6 untuk mengajarkan bagaimana kita harus melakukan tiga hal dalam ibadah kita, yaitu pemberian (ay 4), doa (ay 6) dan puasa (ay 18). Pemberian yang mendapat upah dari Tuhan adalah pemberian dalam ketulusan, dilakukan dengan hati yang murni, tanpa harus diketahui orang lain atau diumumkan. Tidak perlu orang lain melihatnya, karena Tuhan tahu dan akan memberkati apapun yang kita lakukan demi namaNya, termasuk perihal memberi ini. Karena itu penting bagi kita untuk cukup memberi dengan diam-diam, tidak pamer apalagi diumumkan agar Tuhan berkenan dan menurunkan tanganNya memberkati kita. Jika tidak, sia-sialah semuanya. Tidak peduli berapa besar nilainya, semua itu tidak akan bernilai apa-apa di mata Tuhan.

Pemazmur mengatakan “Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.” (Mazmur 112:5-6). Tapi ingat pula bahwa kita cukup memberi dengan keiklasan/kerelaan sesuai dengan kemampuan kita. Bukan besar kecilnya pemberian yang penting di mata Tuhan, tapi kerelaan dan ketulusan kita, itulah yang penting. “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” (2 Korintus 8:12). Kalau begitu, apakah kita akan berkekurangan kalau membantu orang lain? Alkitab berkata tidak. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Korintus 9:8). Tuhan sudah berjanji bahwa kebiasaan memberi yang didasari ketulusan atas kasih akan membuat kita senantiasa berkecukupan dalam segala hal, bahkan akan berkelebihan agar kita bisa memberi terus dan terus lebih banyak lagi.

Saat kita memberi, apa yang menjadi motivasi kita? Apakah kita mengharapkan balasan? Apakah kita mengharapkan pujian, penghormatan atau kekaguman dari mereka yang diberi atau orang-orang yang mengetahui pemberian anda? Apakah kita memberi dengan agenda-agenda tertentu? Atau kita akan merasakan kebahagiaan saat kita bisa memberi, meski orang lain bahkan yang diberi sekalipun tidak tahu itu berasal dari pemberian kita? Yang jelas kita harus sampai pada suatu tingkatan dimana kita akan lebih berbahagia saat memberi daripada menerima. (Kisah Para Rasul 20:35). Itulah yang seharusnya dirasakan oleh murid-murid Kristus yang tulus tanpa pamrih dan tidak mengharapkan imbalan atau pujian ketika memberi. Sifat keinginan untuk dipuji, dikagumi, ingin terlihat lebih dari orang lain sesungguhnya adalah bagian dari kesombongan yang akan sangat berbahaya apabila terus dibiarkan ada dalam diri kita.

Memberi itu sungguh baik, itu adalah sebuah perbuatan mulia yang sangat berkenan di mata Tuhan, tetapi lakukanlah itu dengan motivasi yang benar seperti apa yang diajarkan Yesus, agar semua itu bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan juga bagi kita sendiri.

Kita tidak akan menerima upah dari Tuhan jika kita mencarinya dari manusia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: