Pak Nala di Warung Pojok: Cara Romo N. Drijarkara SJ Berfilsafat dari Kesehariannya (7)

INI beberapa pendapat dari sejumlah sahabat, rekan kerja dan para murid Romo N. Drijarkara SJ di mata Prof. Slamet Imam Santoso, Prof. Fuad Hasan, Romo F. Danuwinata SJ, Prof. Mudji Sutrisno SJ dan Prof. M. Sastrapratedja S. Setidaknya menurut mereka,  Romo N. Drijarkara SJ tidak merumuskan aliran filsafat tersendiri. Bahkan boleh dikata, beliau belum pernah menulis satu karya buku  secara utuh.

Beberapa buku yang mengungkap pemikiran beliau merupakan kumpulan bahan-bahan kuliah yang diberikannya dan kemudian disusun oleh orang lain menjadi sebuah buku. Sebuah buku babon tentang karya lengkap Drijarkara SJ juga ditulis oleh para sahabat, murid dan para Yesuit dan diterbitkan atas kerja sama USD, Serikat Jesus  Provindo dan Penerbit Kompas akhirnya berhasil diselesaikan penerbitannya di tahun 2006 lalu.

Bahkan menurut Romo F. Danuwinata SJ, satu-satunya manuskrip setebal 300 halaman yang pernah ditulisnya adalah disertasi doktornya di Universitas Gregoriana tentang fisuf Perancis Nicholas Malebrache. Dan itu pun sudah pasti hanya tersimpan rapi di Roma sana.

Perjalanan formasi sebagai Yesuit

Dalam sejarah formasinya sebagai Yesuit, sebagian besar hidup Romo N. Drijarkara lebih banyak dihabiskan di Negeri Belanda dan Roma. Sebagian lagi di Jogja dan Girisonta.

Ditugaskan belajar ilmu filsafat oleh Serikat Jesus Provinsi Indonesia bisa jadi karena dia memang cakap untuk bidang studi yang tidak mudah ini. Bisa jadi juga karena minatnya sebagai frater mahasiswa ketika belajar filsafat di Negeri Belanda.

Sepanjang rentang waktu studinya, sudah barang tentu beliau mempelajari aliran-aliran besar filsafat Barat yang diperoleh dari para guru-gurunya baik di Girisonta, Jogja, Belanda dan Roma. Di samping itu, menurut banyak pihak, beliau juga pintar menguasai berbagai bahasa asing. Bahkan disertasi doktornya pun ditulis dalam bahasa Latin klasik. Dari fakta tersebut, dapat diduga bahwa beliau amat menguasai bahasa-bahasa klasik dan juga bahasa Jawa kuno.

Dalam arti ini, kecakapan beliau sebagai filosof tak seorang pun meragukannya.

Dari mimbar

Dari latar belakang tersebut, menarik diajukan pertanyaan di sini adalah apakah dalam berfilsafat atau memberi kuliah filsafat Romo N. Drijarkara SJ selalu bicara dari atas mimbar?

Ternyata tidak demikian. Dalam berfilsafat, RomoN. Drijarkara SJ justru mengambil titik tolak dari keseharian hidup. Ia kemudian mengembalikan refleksi filosofisnya itu pada peristiwa keseharian yang dia temukan.

Fakta tersebut dapat ditilik dari beberapa hal berikut ini:

  1. Dalam rubrik Pak Nala di Majalah Praba naskah aslinya adalah bagian dari “Serat saking Roma”. Drijarkara SJ mencoba menggunakan peristiwa sehari-hari yang digulati dan sekaligus menjadi kegelisahan di tengah masyarakat. Seperti digambarkan oleh Romo Gregorius Budi Subanar SJ, Pak Nala identik dengan Nala Gareng, tokoh punakawan/abdi dalam pewayangan. Sekedar menyebut contoh, beliau menggunakan istilah seperti rayap, warung kopi, trasi, lumpia goreng, kemplu, dan lainnya  dan itu   kemudian diulas secara ringan dan menyentuh hidup keseharian.
  2. Dalam ulasannya tentang filsafat manusia, beliau menempatkan unsur-unsur hakiki keseharian manusia seperti kesehatan, tangan, kaki, sandang, pangan dan aspek kebertubuhan lainnya sebagai unsur penting bagi kedirian dan kemenjadian sebagai manusia.
  3. Meskipun mahir dalam bahasa klasik, Drijarkara SJ justru sering menggunakan bahasa Jawa kuno maupun bahasa Jawa sehari-hari dalam menguraikan filsafatnya. Dalam arti ini, N. Drijarkara SJ menempatkan akar kulturalnya sebagai titik tolak filsafatnya dan sekaligus menjernihkan dengan universalitas pandangannya. Melalui cara ini pula Drijarkara SJ memaknai dirinya sebagai bagian dari kebudayaan yang dijernihkan melalui filsafatnya. Oleh karena itu, beliau tahu persis kepada siapa pemikirannya hendak disampaikan, tak lain adalah sesama bangsanya sendiri.
  4. Dalam menyajikan pemikirannya, apapun medium yang digunakan, beliau mencoba untuk melepaskan diri bahkan menyembunyikan identitas personalnya sebagai seorang filsuf ataupun seorang profesor. Dalam rubrik Warung Pojok di Majalah Praba, bahkan nama Drijarkara SJ disamarkan menjadi Pak Nala atau beliau juga mempersilakan pembacanya menyebut Pak Nol saja. (lih. Dr. G. Budi Subanar SJ, Pendidikan a la Warung Pojok, USD: 2006). Lagi-lagi, dengan penyemaran namanya, beliau ingin sedekat mungkin tanpa jarak dengan dan menjadi bagian pembacanya. Kejadian-kejadian konkrit sehari-hari dipotretnya dan kemudian dipantulkan kembali melalui lensa pemikirannya.
  5. Menurut cerita yang dikisahkan para kerabatnya, bila ada kesempatan pulang kampung mengunjungi keluarga meski hanya sejenak, tak pernah memperlihatkan dirinya sebagai seorang terpelajar cendekia baik pembawaan diri maupun tutur katanya. Beliau berbicara dengan bahasa dan kosa kata yang kebanyakan digunakan orang di kampungya. Bahkan kalau menanggapi sesuatu, dibungkusnya dengan guyonan.

Barangkali bisa disebut di sini bahwa ketika di kampung halaman, Romo  N. Drijarkara SJ berfilsafat dengan goyonannya. Oleh karena itu bobot filsafat ketika di kampung terletak pada gurauan dan kejenakaanya. Dalam bukunya, Pendidikan ala Warung Pojok, Romo Dr. G. Budi Subanar, SJ dan Romo F. Danuwinata SJ membeberkan sosok Drijarkara SJ sebagai pribadi yang multi dimensi, keseriusannya, kejenakaannya, kekritisannya, kecerdasannya dan lebih-lebih kesahajaannya. (Bersambung)

Photo credit: Menjalan ikan (Mathias Hariyadi)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: