Pahlawan Zaman Now: Orang Muda yang Heroik

November 10, 2017Pahlawan Zaman Now: Orang Muda yang Heroik

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20). Itu peringatan keras Yesus. Lagi dan lagi, Yesus berhadapan dengan tembok tebal dalam hati banyak orang. Bukan karena mereka jahat, tetapi sebaliknya, karena mereka terlalu yakin bahwa mereka telah suci.

Sewaktu Agama Menggantikan Tuhan

Memang yang paling mudah adalah menaati patokan agama secara kaku. Dengan itu, segala sesuatu diukur dengan patokan hitam-putih, benar-salah, baik-buruk, berdasarkan apa yang sudah digariskan dalam aturan agama. Akibatnya, hati manusia dibiarkan tumpul. Lebih buruk lagi, agama menjadi jalan yang justru menjauhkan mereka dari Tuhan. Agama bisa disamakan, disembah, dimuliakan, seolah sebagai Tuhan sendiri.


Kita melihat berkali-kali Yesus melakukan hal yang baik di hari Sabat. Gilanya, menyembuhkan orang sakit dianggap sebagai tindakan yang melanggar larangan hari Sabat. Yesus dinilai telah “bekerja” di hari yang suci. Berkali-kali komentar nyinyir diarahkan pada Yesus yang bergaul akrab dengan pendosa, pemungut cukai, pelacur. Orang suci tidak boleh bergaul dengan orang kotor, itu kata mereka yang mendaku sebagai orang suci.

Belajar dari Yesus Mengenai Kekudusan yang Heroik

Kekudusan Yesus adalah kekudusan yang mengalir deras dari ketaatan-Nya yang mutlak kepada Bapa-Nya. Kekudusan Yesus yang berakar pada pengalaman dicintai secara mendalam oleh Bapa-Nya memberi-Nya keberanian untuk melakukan yang baik, dengan risiko dituduh telah melanggar patokan agama. Kekudusan Yesus yang mengalir dari hati Bapa-Nya memampukan-Nya untuk selalu merangkul, merobohkan sekat-sekat pemecah-belah, menyapa semua.


Tragisnya, bangsa kita terus dicabik oleh kekuatan kegelapan yang gemar menggoreng sajian nikmat pemecah-belah. Meskipun jelas tidak berdasarkan pada data historis bangsa dan negeri ini, orang-orang bebal bermuka saleh gemar menyanyikan lagu “pribumi lawan non-pribumi.” Ketika ada kemacetan di satu titik kota ini, para pejalan kakilah yang disalahkan karena jumlah mereka terlalu banyak. Ketika jumlah sepeda motor dibiarkan tak terkendali jumlahnya, ruas jalan dan ruas pejalan kakilah yang disalahkan. Ketika orang bodoh ditegur secara keras, orang yang menegur itu justru dilaporkan.


Ini hanya contoh-contoh, betapa asyiknya bermain dengan kategori “kita lawan mereka”. “Yang sama melawan yang berbeda”. “Yang menguntungkan secara finansial melawan mereka yang membela kepentingan banyak orang.”

Negara dan Bangsa Kita Butuh Kamu

Negeri dan bangsa kita membutuhkan secara mendesak orang-orang beriman yang justru karena beriman berani mendasarkan pilihan tindakannya pada hati Tuhan, yang melampaui patokan pemilah dan pembeda. Kekudusan semacam ini membutuhkan ketahanan untuk menerima berbagai cela. Tanpa kekudusan yang heroik, segala bentuk laku agama, dengan massa besar di sana-sini, hanya menjadi kedok berbagai agenda busuk.


Jelas ada berbagai kekuatan gelap di kalangan petarung politik. Dari pihak kita, semakin mendesaklah mengembangkan kekudusan yang heroik. Jujurlah menguji hatimu. Apakah hal baik yang kulakukan memampukanku untuk merangkul banyak orang, atau justru menciptakan kotak-kotak? Apakah aku merasa lebih baik hanya jika aku menyetankan orang yang berbeda? Apakah agamaku kuperlakukan sebagai yang mahakuasa melampaui Tuhan sendiri?


Menjadi pahlawan zaman now di negeri ini tidak lagi berarti membawa senjata melawan musuh asing. Menjadi pahlawan zaman now di negeri ini berarti jujur terhadap suara hati yang mengakar kokoh pada Tuhan, bukan pada patokan kaku agama yang bisa ditafsirkan dan dipelintir sesuka hati.


Semoga gema jerit perjuangan para pahlawan bangsa dan negeri ini menggempur roboh kepalsuan banyak orang.


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply