Othak-athik Gathuk Nomor Urut Parpol

nomor urut parpol

KE-10 partai politik yang lolos verifikasi KPU untuk berlaga di pemilu legislatif 2014 telah mendapatkan nomor urut masing-masing,  Senin (14/1)  awal pekan ini. Pentingnya peristiwa tersebut tampak dari semarak hadirnya pucuk pimpinan kesepuluh parpol. Tak kurang Hatta Rajasa, Anas Urbaningrum, Aburizal Bakrie, Wiranto, dan Prabowo tampil langsung mengambil undian nomor parpol yang dipimpinnya.

Urutan hasil undian sudah kita bersama yaitu: Partai Nasdem (nomor 1); Partai Kebangkitan Bangsa (nomor 2); Partai Keadilan Sejahtera (nomor 3); PDI-P (nomor 4); Partai Golkar (nomor 5); Partai Gerindra (nomor 6); Partai Demokrat (nomor 7); Partai Persatuan Pembangunan (nomor 9); dan Partai Hanura (nomor 10).

Yang menarik adalah setelahnya: bagaimana nomor-nomor tersebut tiba-tiba dimaknai khusus – sebagai alat dan simbol perjuangan parpol menggaet konstituen.

Mari kita ikut-ikutan mengotak atik angka-angka yang tiba-tiba menjadi ‘keramat’ bagi parpol tertentu. Angka yang dianggap bagus diusung tinggi, angka jelek ditutupi dengan sejumlah alasan.

Nomor 1

Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, satu NKRI. Wah, itu sih semua langsung ngeh. Betapa beruntungnya parpol yang menyabet nomor mudah ini. Untuk kampanye cukup acungkan satu jari, hemat energi bagi juru kampanyenya. Biasanya yang diajukan jari telunjuk.

Sisi lain, cara mengacungkan angka satu tersebut menentukan penafsiran. Acungkan angka satu ke udara serasa seorang murid yang mau bertanya. Ditaruh di depan bibir berarti menyuruh diam. Ditaruh miring di dahi mengisyaratkan ada yang sableng. Ditaruh dekat lubang hidung pasti dikira mau ngupil. Angka satu juga bisa berarti ketimpangan, karena hanya ‘Yang’ tanpa ‘Ying’– sifatnya individual.

Nomor 2

Secara universal parpol dengan nomor dua menggunakannya sebagai simbol victory – kemenangan, dengan cara mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah yang dipisahkan membentuk huruf V. Dua bisa juga menunjukkan kelengkapan – kesempurnaan:  dunia – akhirat, jasmani – rohani, ying – yang.

Sisi lain, nomor dua secara historis mengingatkan akan peserta politik yang bukan parpol di zaman Orde Baru. Rasanya nomor itu tidak membawa banyak kenangan menggembirakan atau mencerahkan. Dua juga diingat sebagai kampanye Keluarga Berencana – dua anak saja.

Nomor 3

Nomor ini populer sebagai nomor ‘metal’. Cukup acungkan jempol, telunjuk, dan kelingking. Metal sebagai simbol pembaharuan, anti status quo, semangat dinamis dan kemudaan.

Sisi lain, nomor metal sering juga jadi nomor mental alias kalah kalau menghadapi kalangan yang gamang terhadap perubahan.bendera-partai-politik-ilustrasi-_121210145444-496

Nomor 4

Empat menunjukkan empat pilar kebangsaan Indonesia. Hal yang menarik bagi masyarakat rasional yang sehat. Empat juga mengingatkan akan slogan ‘empat sehat’. Empat penjuru angin menunjukkan kelengkapan arah, bisa berarti merangkul semua.

Sisi lain, dalam aksen tiociu, angka 4 diucapkan ‘si’ yang sama dengan ucapan ‘mati’. Maka banyak yang menghindari angka 4 seperti halnya banyak yang menghindari angka 13.

Nomor 5

Angka harusnya langsung dikaitkan dengan Pancasila sebagai dasar negara yang kadang dilupakan atau sengaja tidak diingat. Mudah diacungkan, cukup bentang satu tangan atau sebaliknya tangan dikepalkan untuk menunjukkan tekad dan semangat kuat.

Sisi lain, acungan lima jari dari polisi berarti ‘stop’, berhenti, jangan jalan dulu. Hal itu bisa dikaitkan menjadi tidak majunya suatu parpol atau malah kemunduran dari keberhasilan sebelumnya. Slogan ‘lanjutkan’ akan bertentangan dengan angka ini.

Nomor 6

Untuk menunjukkan angka enam umumnya jempol saja yang diacungkan, tidak perlu dengan lima jari lainnya. Acungan jempol berasosiasi bahwa parpol tersebut paling jempolan. Jari jempol harus diacungkan tegak ke atas; kalau miring ke samping berarti minta tumpangan, kalau ke bawah berarti kalah alias masuk kotak.

Sisi lain, mendapat nilai 6 di sekolah berarti pas-pasan, cukup naik kelas tapi sama sekali tidak cemerlang. Lolos tepatnya. Angka 6 bahkan dikenal sebagai angka setan jika diulang tiga kali.

Nomor 7

Nomor 7 dipercaya sebagai angka sempurna dalam salah satu kitab suci. Seperti lengkapnya 7 hari dalam sepekan. Untuk mengenalkannya, bisa hanya mengacungkan jempol dan jari telunjuk. Hati-hati kalau diacungkan lurus ke depan bisa menjadi simbol penewasan – alias didor.

Sisi lain, angka 7 dalam kepercayaan mistik Cina, dianggap simbol kemarahan dan pembiaran.

Nomor 8

Penulisan angka 8 yang tanpa akhir dan awal menyiratkan kesinambungan, termasuk angka beruntung yang disukai orang.

Sisi lain, menyiratkan kebingungan karena tak berakhir dan bisa menjadi seperti kacamata kuda.

Nomor 9

Angka 9 merupakan tingkat tertinggi perubahan, angka yang bagi sebagian orang merupakan ikon panjang umur dan keabadiaan – angka paling sempurna.

Sisi lain, agak repot menyiratkan simbol angka ini. 9  juga merupakan kebalikan dari angka 6, yang bisa berarti angka setan. Angka 9 bisa menyiratkan kesombongan pula, seakan-akan terpisah dari realita sekitarnya yang rata-rata bernilai sedang.

Nomor 10

Cara menunjukkan angka 10 bisa saja dengan satu tangan menunjukkan telunjuk dan tangan lain dikepalkan. Atau ada yang hanya mengepalkan sebelah tangan untuk menunjukkan bulatnya tekad dan semangat.

Sisi lain, terlalu repot untuk menggunakan dua tangan, melelahkan buat juru kampanyenya. Kalau diamati, angka 10 menyiratkan ketidakseimbangan antara dua karakter – satu tinggi langsing, satu bulat lonjong.

Sekedar othak athuk menjelang tidur saja. Jika ada kesamaan antara tafsiran dengan parpol yang menyandangnya, itu sekedar kebetulan belaka.

Photo credit: Ilustrasi (Kompas, Antara, Republika)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: