Orang muda gelar Festival Think #3, wujud sejatinya Indonesia, yang membawa damai

OMK Damai

Lampu-lampu thing di bawah lambang negara burung Garuda mewarnai Festival Think #3/PEN@ Katolik/LAT

Nyala api lampu-lampu thing tampak berpendar-pendar di balik kertas lampion warna-warni. Seketika menyala terang, beberapa saat kemudian meredup, lalu kembali terang karena hembusan angin malam di dusun Wonokerso, Sawangan, Magelang. Usai dilanda hujan deras di sore hari, orang muda Katolik bekerja sama dengan berbagai kaum muda dari berbagai agama menggelar Festival Think #3 di pelataran Gereja Santo Yusuf Wonokerso.


Meskipun sempat tertunda karena diguyur hujan, Festival Think #3 bertema “Ada Hadir dan Berbagi” itu ditampilan di Hari Pentakosta 19 Mei 2018 dengan dekorasi lampu-lampu thing di bawah lambang negara burung Garuda yang dihiasi lampu warna-warni.


Kaum muda lintas agama menghibur kaum muda dan masyarakat malam itu dengan musik keroncong, musik akustik, maupun teater. Mereka menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan lagu-lagu khas anak muda yang sedang ngehit dengan gaya mereka, dengan aransemen yang segar.


Selain pagelaran seni, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menyampaikan pesan damai kepada khalayak yang hadir. Mgr Rubiyatmoko bertanya, “Apakah Panjenengan kabeh (Anda semua) merasa bahagia  malam hari ini? Seneng punya banyak teman? Senang ya?”


Mgr Rubi mengaku senang juga. “Rasanya di tengah-tengah orang-orang muda ini rasanya jadi muda lagi. Saya terus terang senang sekali dengan peristiwa atau acara kita malam hari ini, di mana kita mencoba membangun kebersamaan satu sama lain, meskipun kita punya banyak perbedaan,” kata uskup.


Menurut Mgr Rubi, acara malam itu untuk menyatukan visi dan misi membawa damai bagi masyarakat Indonesia. “Kalau hari ini, malam ini kita merasakan kegembiraan, sukacita, bahagia mempunyai sekian banyak teman yang berbeda-beda ini, mudah-mudahan pengalaman ini menjadi kekuatan bagi kita untuk kemudian kita bagikan kepada orang lain; bahwa kebersamaan itu sesuatu yang sangat berharga; bahwa hidup bersama dalam damai itu sungguh-sungguh menggembirakan kita semua,” kata uskup.


Uskup kelahiran Yogyakarta itu mengapresiasi masyarakat di Wonokerso karena mempunyai tradisi hidup bersama yang baik. “Gereja dengan masjid berdampingan. Umat juga hidup bersama dengan baik dalam damai, saling membantu, saling menolong. Ini merupakan salah satu contoh teladan yang sangat hebat yang sangat luar biasa sekali, yang bisa kita petik, yang bisa kita tularkan, kita kembangkan dalam kehidupan bersama kita,” kata Mgr Rubi.


Kepada kaum muda, Mgr berharap pengalaman kebersamaan penuh kedamaian itu sungguh menjadi kekuatan yang bisa dibagikan kepada masyarakat di sekitar. “Dengan cara itulah kita akan bisa menangkis berbagai macam hal yang menimbulkan keresahan, yang menimbulkan perpecahan, yang menimbulkan konflik di antara kita,” ujar uskup.


Menurut Alissa Wahid, malam itu dia menerima pelajaran sangat berharga di Wonokerso. “Ini loh, sejatinya Indonesia. Inilah loh, aslinya Indonesia.” Masyarakat bertepuk tangan dan Alissa menambahkan bahwa Indonesia bukan terdiri dari kelompok-kelompok yang saling bermusuhan atau saling membenci apalagi sampai berlaku keji.


“Aslinya Indonesia itu kita yang bersama-sama bekerja sama saling menjaga satu sama lain, berproses berjuang bersama untuk kemajuan bersama. Itu aslinya Indonesia. Dan saya tahu malam hari ini kerja yang dilakukan oleh teman-teman dari Gereja Katolik tidak sendirian. Ada teman-teman lain yang juga membantu,” kata Alissa seraya berterima kasih kepada warga Muslim di Wonokerso.


Ketua Komisi Hubungann Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS), Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan, Festival Think #3 kali itu merupakan salah satu kegiatan pre-event agenda Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda, 26-28 Oktober 2018. Perhelatan itu akan digelar oleh Komisi HAK KAS bekerja sama dengan Komisi Kepemudaan KAS, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Jaringan Gusdurian, Lakpesdam NU Jawa Tengah, serta berbagai komunitas lintas agama.


Tumpeng dipotong malam itu dan terbanglah balon-balon ke udara dilepas oleh Mgr Rubi bersama tokoh-tokoh masyarakat.(Lukas Awi Tristanto)


Festival Think #3/PEN@ Katolik/LAT

Festival Think #3/PEN@ Katolik/LAT

Suasana Festival Think #3/PEN@ Katolik/LAT

Suasana Festival Think #3/PEN@ Katolik/LAT

Mgr Robertus Rubiyatmoko/PEN@ Katolik/LAT

Mgr Robertus Rubiyatmoko/PEN@ Katolik/LAT

Mgr Robertus Rubiyatmoko dan Alissa Wahid memotong tumpeng/PEN@ Katolik/LAT

Mgr Robertus Rubiyatmoko dan Alissa Wahid memotong tumpeng/PEN@ Katolik/LAT

Mgr Rubi, Alissa Wahid, bersama tokoh-tokoh masyarakat melepas balon/PEN@ Katolik/LAT

Mgr Rubi, Alissa Wahid, bersama tokoh-tokoh masyarakat melepas balon/PEN@ Katolik/LAT

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: