Saturday, 01 November 2014

Orang “Kaya” Katolik: Dimaki Saat Khotbah, Dicari Saat Gereja Butuh Dana?

“Dalam khotbah di Gereja kami sering menjadi bahan kritik dan caci maki. Namun saat Gereja butuh dana dan bantuan, mereka mencari kami!” demikian curhat seorang umat, yang termasuk dalam kategori “orang kaya”, sebagaimana diceritakan oleh Romo Deshi Ramadhani, SJ.  Romo Deshi melanjutkan,”Yesuit yang hidup dan bekerja bagi orang miskin dianggap sebagai orang suci. Namun Yesuit yang mempunyai akses dengan orang kaya baru dibutuhkan saat pencarian dana.” Pembicaraan tentang “miskin” dan “kaya” menjadi salah satu topik hangat dalam seminar terbuka Latihan Rohani yang berlangsung Sabtu, 23 Juni 2012 di Kolese Kanisius, Jakarta.

 

Kisah bagaimana berhubungan dengan orang kaya selalu mewarnai sejarah Gereja. Dalam kitab suci Yesus pernah mengecam orang-orang kaya. Yesus mengatakan bahwa orang miskinlah yang berbahagia. “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga.” Namun sebenarnya Yesus tidak “alergi” dengan orang kaya. Yesus mendatangi orang kaya pemungut cukai. Yesus juga dikelilingi oleh wanita-wanita yang berada. Yesus pernah diminyaki dengan minyak mahal.

 

Pengalaman Ignatius Loyola

Ignatius mengalami hal yang kurang lebih serupa.  Karya dan keberadaan Ignatius bagi orang miskin dan sakit sudah tidak terbantahkan lagi. Ignatius membagi derma bagi orang miskin, bekerja di rumah sakit, dan melakukan pekerjaan lain bagi orang miskin.

 

Dalam Latihan Rohani Ignatius menyebutkan bahwa kekayaan adalah pintu utama yang mengarah pada keberdosaan. Ignatius menulis dalam Latihan Rohani tentang Panji Setan, yang menempatkan kekayaan sebagai pintu masuk ke dalam kedosaan. Latihan Rohani Nomer 142 menulis,”…bagaimana ia (setan) mengajak mereka supaya memasang jerat-jeratserta rantai-rantai: mula-mula harus membujuk dengan kelobaan akan kekayaan begitulah yang paling sering dilakukannya agar orang lebih mudah jatuh dalam kehormatan dunia yang hampa, dan akhirnya jatuh ke dalam keangkuhan yang besar. Jadi sebagai langkah pertama (yang mengarah pada dosa) ialah kekayaan, kedua: kehormatan, ketiga: keangkuhan, dan melalui tiga langkah ini, dia mengiring ke semua kedurhakaan lainnya.”

 

Kendati demikian, Ignatius juga bergaul erat dengan orang-orang kaya. Kebanyakan dari mereka memberikan dukungan karya-karya Ignatius dan para Yesuit. Berbagai karya pendidikan, pelayanan bagi orang miskin, rumah sakit, dsb dapat berjalan atas dukungan derma dari orang-orang kaya di sekitar hidup Ignatius Loyola.

 

Keterpecahan?

Romo Deshi menceritakan pengalamannya tentang bagaimana bersikap atas orang kaya yang korup, yang secara sosial dibenci oleh masyarakat sekitar. Saat berada di suatu tempat di Philiphina, Romo Deshi diminta untuk misa untuk seorang kepala desa yang selama hidupnya terkenal korup, dan banyak melakukan kejahatan. Masyarakat sekitar tidak menyukai orang tersebut. Ada keraguan bagaimana menyikapi semuanya itu. Dalam situasi seperti ini, Uskup yang membawahi wilayah itu memberikan nasihat pada Deshi,”Setiap orang perlu didoakan!” Jadilah orang kaya yang korup dan dibenci itu tetap dilayani.

 

Atas berbagai polemik dan keterpecahan Kaya-Miskin, Romo Deshi berkomentar,”Jangan-jangan cara-cara kita memandang orang kaya dan miskin sudah pincang!”

 

Seminar terbuka Latihan Rohani berlangsung di Kolese Kanisius, 23 Juni 2012. Seminar yang dihadiri sekitar 80 peserta dari berbagai kalangan umat ini  diadakan atas inisiatif PERHATI (Perkumpulan Harapan Tunas Indonesia) dan menghadirkan Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ dan Dr. Deshi Ramadhani, SJ, sebagai pembicara. Keduanya dosen STF Driyarkara Jakarta. Sumber ketiga dari kalangan awam, yakni Boen Kosasih, yang pernah retret Latihan Rohani selama sebulan. Acara ini dimoderatori oleh Romo In Nugroho, SJ.

 

Seminar ini menjadi salah satu mata rantai gerakan Yesuit provinsi Indonesia untuk membentuk jaringan, yang diharapkan ikut memikirkan dukungan bagi karya-karya Serikat Yesus di Indonesia. Selanjutnya, PERHATI akan mengadakan acara retret/rekoleksi dengan tema “Memberikan diri untuk Misi Rekonsiliasi” pada hari Sabtu, 28 Juli 2012 dan “Fund Raising is about restoring the web of relationships” pada hari Sabtu 17 November 2012 di Jakarta. Sedangkan di Yogyakarta juga akan diadakan acara yang sama masing-masing pada hari Minggu, 29 Juli dan Sabtu, 24 November.

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Orang “Kaya” Katolik: Dimaki Saat Khotbah, Dicari Saat Gereja Butuh Dana?"

Response on "Orang “Kaya” Katolik: Dimaki Saat Khotbah, Dicari Saat Gereja Butuh Dana?"