Offering The Best or Left-Overs? (2)

(sambungan)

Bahwa kepada ayah kita saja kita harus bersikap hormat, bukankah seharusnya kita justru lebih hormat lagi kepada Tuhan, Sang Pencipta segalanya termasuk diri kita? Dia menciptakan kita dengan begitu indahnya, lengkap dengan segala rancangan penuh damai sejahtera agar kita semua memiliki masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Bahkan Yesus Kristus, anakNya yang tunggal pun rela Dia berikan agar kita semua tidak lagi berakhir dalam kebinasaan melainkan bisa memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Sayangnya hanya sedikit yang menyadari hal ini secara jelas. Sebagian lainnya tidak menghargai betapa besar kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Bukannya bersyukur dan rindu untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, mereka malah sibuk menimbang-nimbang neraca keuangan dan segala yang mereka miliki. Untung rugi hanya didasari pada hal finansial dan butuh tidaknya pertolongan Tuhan. Memberi hanya agar jangan sampai berkurang rejeki, atau dengan sangat terpaksa memberi kepada Tuhan supaya jangan masuk neraka, atau supaya usaha mereka lancar jauh dari kebangkrutan. Sangatlah wajar jika Tuhan marah besar melihat kelakuan seperti ini.

Lebih jauh kita bisa melihat apa yang memicu kemarahan Tuhan yang merasa diperlakukan tidak hormat ini dalam ayat selanjutnya pada Maleakhi pasal 1. “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.” (Maleakhi 1:8).

Kalau ada pemimpin daerah atau negara datang berkunjung ke rumah kita, bukankah kita akan menyediakan semua yang terbaik yang ada pada kita untuk menjamunya? Itu akan kita beri sebagai rasa syukur dan terima kasih kita kepadanya. Kalau kita hanya beri yang sisa atau buruk mutunya, bukankah itu berarti penghinaan? Dan dengan sangat jelas Tuhan menyampaikan teguran itu disertai contoh yang sangat sederhana yang bisa dicerna oleh siapapun. Perilaku seperti ini sangatlah tidak pantas, dan bagi Tuhan merupakan sebuah kecemaran bahkan penghinaan (ay 7). Begitu murkanya Tuhan terhadap sikap-sikap demikian, hingga berkata “Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa.” (ay 14). Teguran Tuhan sangat keras, dan itu wajar karena dengan berbuat demikian kita merendahkan Tuhan, yang seharusnya ditinggikan di atas segalanya. Lebih dari orang-orang yang kita hormati di dunia ini.

Sikap seperti ini jelas tidak pantas untuk dilakukan. Tidak kepada orang yang kita hormati di dunia, apalagi kepada Tuhan semesta alam. Apalagi kalau kita melihat betapa banyaknya janji berkat, perlindungan bahkan keselamatan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita manusia, yang ia ciptakan dalam posisi sebagai anak dan ahli warisNya. Salah satu firmanNya dalam Mazmur bunyinya seperti ini: “Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.” (Mazmur 81:17). Janji berkat Tuhan lainnya dibeberkan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.

Tuhan jelas menjanjikan segala yang terbaik buat kita. Dia memberikan yang terbaik. Tapi bagaimana dengan kita? Jika kepada orang tua kita, dan kepada orang-orang yang kita hormati saja kita harus memberikan yang terbaik, bukan sesuatu yang asal-asalan atau malah sisa-sisa saja, tidakkah Allah jauh lebih layak untuk mendapatkan yang terbaik dari kita yang mengaku anak-anakNya? Hari ini mari kita renungkan, apakah selama ini kita sudah memberi apa yang terbaik dari kita untuk Tuhan? Atau kita masih mengedepankan neraca untung rugi, hitung-hitungan dalam pengukuran duniawi ketika hendak memberi untuk Tuhan? Have we offered Him nothing but the best of us, or are we still thinking of giving him just the left-overs? Apakah kita rindu untuk memberi yang terbaik atau kita malah memberi remah-remah atau sisa-sisa karena terpaksa?

Jangan potong hak Tuhan, hormati Dia dengan layak dengan memberi yang terbaik dari kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: