Ayat bacaan: Maleakhi 1:8
=======================
“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.”

Seperti apa sikap kita dalam memberi persembahan setiap minggunya di gereja? Banyak orang yang berhitung dalam melakukannya. Memberi besar kalau sedang ada yang hendak diminta, tapi hanya sepeser kalau sedang baik-baik saja. Soal perpuluhan dijadikan polemik, apakah 10% dari pendapatan sebelum atau sesudah melunasi rekening bulanan. Ada juga yang sangat pelit dalam memberi persembahan tapi royalnya bukan main kalau memberi tips atau saat mentraktir rekan bisnis. Bahkan membayar parkir pun lebih besar ketimbang memberi persembahan. Alasannya banyak. Ada yang pernah berkata “ah, buat apa banyak-banyak, nanti kalau diselewengkan bagaimana?” Padahal masing-masing dari kita punya pertanggungjawaban sendiri. Kalau memang dicurangi itu urusan mereka dengan Tuhan, bukan urusan kita. Urusan kita adalah memberi yang terbaik sebagai persembahan syukur kepada Tuhan yang idealnya dipakai untuk memperluas KerajaanNya di muka bumi ini. Itu adalah dua hal yang berbeda yang tidak ada gunanya dicampur-adukkan.Ada yang berdalih sedang banyak pengeluaran bulan ini, ada yang merasa sayang duit kalau memberi dalam jumlah yang layak, cuma sekedar memberi saja dan sebagainya. Belum lagi yang memberikan uangnya tidak dalam keadaan baik alias yang sobek, lusuh dan sulit dipakai lagi sebagai alat tukar dalam berbelanja. Ada yang menggulung-gulung uangnya seperti kertas yang hendak dibuang ke tong sampah. Saat pemimpin pujian mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi kita, sejauh mana kita menyadari pentingnya akan hal itu?

Ambil contoh sederhana saja. Sebagai anak yang berbakti, setelah kita menerima segala yang terbaik dari orang tua kita dalam memberi makan, mengajarkan budi pekerti, menyekolahkan kita sampai selesai tanpa memandang seberapa besarpun yang harus mereka korbankan demi kita, tidakkah kita seharusnya rindu untuk memberikan yang terbaik pula kepada mereka dan membahagiakan mereka setelah kita sudah mampu? Itu akan menjadi kerinduan anak yang berbakti. Tapi namanya manusia, banyak pula yang kemudian melupakan orang tuanya saat sudah sukses. Mereka tidak lagi peduli, hanya datang di hari-hari tertentu atau kalau sempat dan tidak capai, bahkan ada yang tega menempatkan orang tuanya di rumah jompo padahal tinggalnya di satu kota dan di rumahnya ada begitu banyak kamar tidak terpakai. Kesedihan para orang tua yang terbuang ini sudah terlalu sering saya dengar dari kunjungan-kunjungan ke rumah-rumah jompo. Seorang anak yang berbakti pasti akan menghargai usaha mati-matian orang tuanya dalam membesarkan mereka dan akan selalu memberi yang terbaik bagi orang tuanya.

Kalau kepada orang tua saja seperti itu, bukankah keterlaluan kalau kita melupakan segala yang terbaik yang sudah diberikan Tuhan dalam perjalanan hidup kita? Bukankah Tuhan sudah membekali kita dengan begitu banyak talenta, membukakan kesempatan, menolong kita dalam banyak hal, menyertai kita dan yang jauh lebih besar lagi, menganugerahkan kita keselamatan dan pemulihan hubungan yang sempat terputus denganNya akibat dosa dengan mengorbankan Yesus? Kalau begitu, bagaimana kita bisa sedemikian tega berhitung untung rugi kepada Tuhan?

Seperti itulah yang banyak terjadi di kalangan orang percaya. Semua orang yang mengharapkan berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi hanya rela memberikan sisa-sisa kepada Tuhan. Itupun dengan rasa berat hati dan bersungut-sungut. Bukannya memberi dengan sukacita tapi malah dalam keadaan terpaksa dan merasa seperti diperas atau malah dirampok. Kalau kepada orang tua dunia kita saja kita bisa mendapat cap durhaka, entah apa cap yang pantas diberikan kepada orang-orang percaya yang bersikap seperti itu kepada Tuhan.

Dalam kitab Maleakhi kita bisa melihat bagaimana Tuhan saking kecewanya sampai merasa muak dan murka ketika mendapat perlakuan yang tidak pantas dari umatNya. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (Maleakhi 1:6).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.