Nyekar ke Girisonta, Apreasiasi Tinggi bagi Guru dan Karyawan Yayasan Kanisius Yogyakarta

BERBAGAI respons posisif dan dukungan moral terhadap tindak iman yakni nyekar dan tabur bunga di pusara para romo Jesuit yang pernah menjadi Direktur Yayasan Kanisius Yogyakarta. Intinya, semuanya merasa senang, haru, dan mendukung kegiatan seperti itu.

Taruhlah misalnya Ibu Suzana Maria, dosen Bahasa Inggris Universitas Satya Wacana Salatiga.

Beliau juga menjadi guru bahasa Inggris untuk para frater/bruder yang lagi menjalani masa novisnya di  Novisiat SJ St. Stanislaus Kotska Girisonta.

Di sebuah media sosial, Ibu Suzana menulis komentar demikian:  “Mereka yg tahu berterimakasih adalah mereka yang tahu menghargai pendahulunya.”

Sementara, Ibu Novi Suratri, guru SD Kanisius Kembaran, juga menulis testimonialnya sebagai berikut: “Kami yakin bahwa Romo-romo pendahulu yang sekarang sudah sumaré (tidur meninggal)  itumenjadi perantara doa-doa kami yang masih berziarah di dunia. Ketika para romo Jesuit itu masih sugeng (hidup) di dunia, mereka menjadi talang berkah bagi kita.”

Melalui email japrinya, Romo Sunu Hardiyanta SJ yang kini menjadi dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, juga menulis testimonialnya.Kanisius tabur bunga 3

“Keluarga saya, Bapak-Ibu, adik saya Siwi dan Hesti, telah dihidupi dan dihidupkan de facto oleh Kanisius. Kami sekeluarga makan, minum dan bertempat tinggal semuanya ya berkat Kanisius. Waktu masih kecil di SD, saya tahu bagaimana Bapak-Ibu hutang di Yayasan untuk membeli sawah, lalu mengangsur untuk jangka waktu yang lama. Saya belajar banyak dari Bapak-Ibu dan keluarga mengenai hidup,” tulisnya jujur.

“Saya hanya kagum, terutama setelah saya di STF dan tahap selanjutnya, melihat bagaimana Allah berkarya melalui Kanisius untuk keluarga kami. Kadang ada banyak suara bahwa gaji guru Kanisius itu kecil,” tulis romo Jesuit yang menekuni studi biologi ini.

“Saya perhatikan, mereka (para bapak-ibu guru ini) bisa merasa sangat bersyukur dan gembira menekuni panggilan menjadi guru. Terlebih Bapak-Ibu juga sangat merasa diperhatikan oleh Romo yang kini memimpin Yayasan Kanisius Yogyakarta. Ada banyak cerita mengenai hal ini, tetapi kalau saya tulis semua, Anda akan bosan membacanya. Mungkin karena itu maka sampai sekarang pun Bapak-Ibu selalu mencintai Kanisius.”

Sungguh, begitu besar cinta Allah dan saudara-saudari kepada Sekolah-sekolah Kanisius. Maka, sudah layak dan sepantasnya, kita semua bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para pejuang, para pendoa, para penderma dan para pencinta Yayasan Kanisius DIY.

Marilah kita saling bergandengan tangan dan saling mendoakan dalam langkah-langkah kecil perjuangan kita bagi Kanisius tercinta.

Photo credit: Suasana misa, acara nyekar dan tabur bunga di pusara para romo Jesuit  yang pernah berkarya sebagai Direktur Yayasan Kanisius Yogyakarta. Para romo Jesuit ini kini dimakamkan di Taman Getsemani Girisonta, satu kompleks dengan Kolese St. Stanislaus Kotska, Novisiat SJ, dan Wisma Emmaus. (Yayasan Kanisius Yogyakarta).

Kanisius tabur bunga 2

Kanisius tabur bunga dan Romo Rutten SJ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tautan:  Misa Tabur Bunga di Girisonta: 750 Guru dan Karyawan Kanisius DIY Membuncah Bungah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: