Nyanyian Sore di Tembang malam

anak-anak papua di pedalaman Bandara Ewer, AgatsDI sore yang cerah kusaksikan sejumlah anak remaja muda berlarian di lapangan bola, tentu saja mereka sedang bermain sepak bola. Mereka bukan klub profesional tetapi sekadar olah raga. Tanpa wasit, tanpa peluit, tanpa seragam dan tanpa sepatu. Kostum mereka warna-warni ada yang sekadar mengenakan kaos singlet, bahkan ada yang mengenakan “jaket kulit” alias telanjang tanpa […]

anak-anak papua di pedalaman Bandara Ewer, Agats

DI sore yang cerah kusaksikan sejumlah anak remaja muda berlarian di lapangan bola, tentu saja mereka sedang bermain sepak bola. Mereka bukan klub profesional tetapi sekadar olah raga. Tanpa wasit, tanpa peluit, tanpa seragam dan tanpa sepatu.

Kostum mereka warna-warni ada yang sekadar mengenakan kaos singlet, bahkan ada yang mengenakan “jaket kulit” alias telanjang tanpa kaos maupun baju…

Mereka berlari ceria berteriak penuh gairah berebut bola namun tanpa rasa benci apalagi dengan semangat berkelahi. Oh, tidak, jangankan berkelahi, bermaki pun tidak. Sekurang-kurangnya tak terdengar di telingaku, syukurlah!

Lalu kulihat kolam ikan yang tak terlalu lebar tapi juga tak sempit berbentuk lingkaran. Airnya keruh namun ikan-ikan masih kelihatan warna-warni ada merah ada putih ada hitam ada yang blentong-blentong ada yang besar ada yang kecil, hebat!

Ikan-ikan itu berenang dalam keheningan tanpa saling menyerang apalagi menghancurkan satu sama lain. Yang kecil tenang berenang yang besar tenang berenang semua tenang dalam satu kolam, meski air kolamnya keruh (makanya ada ungkapan memancing di air keruh?), mereka tetap tenang teduh!

Lapangan bola, kolam ikan jadi Nyanyian sore di Tembang malam melantunkan pelajaran berharga merajut harmoni dalam keberagaman dalam keceriaan dan kerukunan dengan saling Kasih walau kadang berselisih, lawan tak perlu menjadi musuh, berbeda namun tak perlu saling membunuh!

Dan seketika Matahari tenggelam sore berubah menjadi malam, duhai Juwita malam, tebarkan berkatMu bagi semesta yang akan beristirahat segera, senandungkanlah Tembang Ninabobo bagi siapa saja yang sedang berduka agar terlelap dalam pelukan Sang Sukacita

Muntilan
02.09.2014

»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶

“abdi Dalem palawija”
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan

Photo credit: anak-anak Papua di pedalaman Agats, tak jauh dari Bandara Ewer (Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply