Nikodemus di Malam Hari

Ayat bacaan: Yohanes 3:1-2
=======================
“Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”

nikodemus, malam hari

“Orang sakit tidak mengenal waktu.” Itu kata ayah saya yang hingga hari ini masih saya ingat. Profesinya sebagai dokter ia jalani bukan sebagai profesi semata, tapi sebagai bentuk pengabdiannya untuk menolong orang. Ada jam praktek tetap seperti dokter lainnya. Tapi ia tidak pernah menolak pasien yang datang, bahkan di tengah malam atau menjelang subuh sekalipun. Ia selalu siap untuk pergi ke rumah sang pasien seandainya orang itu tidak bisa datang sendiri. Orang bisa sakit kapan saja. Dan terkadang sakit itu serius sehingga sedetik pun sungguh berharga. Terlambat sedikit saja nyawa bisa keburu melayang. Belakangan setelah saya dewasa, saya melihat betapa banyaknya dokter yang dengan kaku menerapkan waktu kerjanya. Jika itu tidak sesuai dengan jam praktek, mereka pun tidak peduli terhadap orang yang sedang sekarat dan sangat membutuhkan bantuan mereka. Seorang tetangga pun pernah mengeluh. Saudaranya keburu meninggal karena dokter itu lebih memilih untuk terus tidur ketimbang mengurus pasien askes. Pembantunya yang menjumpai dan berkata bahwa untuk pasien askes tidak dilayani oleh sang dokter. Nyawa manusia ternyata bertingkat-tingkat saat ini. Ada nyawa yang mahal, ada nyawa yang murah bahkan tidak dianggap punya harga. Dan melihat itu semua, saya baru sadar bahwa apa yang dilakukan ayah saya sejak dahulu ternyata sungguh mulia.

Sebagai manusia, kita menyadari bahwa masalah bisa datang kapan saja. Masalah pun tidak mengenal waktu. Setiap saat kita bisa berhadapan dengan problema kehidupan, setiap saat kita bisa berada dalam kegelapan, meski mungkin sedetik yang lalu hidup kita masih aman-aman saja. Beruntunglah kita memiliki Tuhan yang juga tidak mengenal waktu untuk menolong kita. Tidak ada jam sibuk, tidak ada jam berhenti. Dia ada kapan saja, dimana saja. Setiap saat kita membutuhkan pertolonganNya, Dia tetap bersedia mendengarkan kita.

Anda ingat kisah Nikodemus yang mencari Yesus di malam hari? Kita bisa melihat kisah ini dicatat dengan jelas oleh Yohanes. “Ia datang pada waktu malam kepada Yesus..” (Yohanes 3:2). Mengapa Nikodemus memilih waktu malam yang seharusnya dipakai untuk beristirahat untuk menemui Yesus? Ada yang mengira bahwa ia sibuk bekerja dan hanya di malam harilah ia punya waktu luang. Ada yang berpendapat bahwa ia mengendap-endap di malam hari agar tidak ketahuan orang-orang Farisi lainnya agar tidak dihujat atau dipermalukan. Nikodemus bukanlah orang biasa. Dengan jelas dikatakan bahwa statusnya adalah sebagai seorang pemimpin agama Yahudi. (ay 1). Masakan seorang guru besar, seorang pemimpin pergi merendahkan dirinya untuk menemui seseorang? Maka sebagian orang berpendapat bahwa ia memilih waktu gelap agar tidak ketahuan. Pendapat lain mengatakan bahwa malam hari adalah saat yang lebih tepat, karena suasana lebih senyap dan minim gangguan sekitar yang bisa membuyarkan konsentrasi. Yang pasti, kedatangannya memang bukan di jam normal, sehingga setiap kali Yohanes menyinggung tentang Nikodemus, ia selalu menghubungkannya dengan waktu kedatangan Nikodemus yang tidak normal. “Nicodemus, who came to Jesus before at night” (7:50,Amplified Bible), “And Nicodemus also, who first had come to Jesus by night.” (19:39). “Itu lho, Nikodemus yang datang malam-malam menemui Yesus..” seperti itulah Yohanes selalu menggambarkan Nikodemus.

Kita tidak tahu apa alasan yang sebenarnya. Tapi itu semua tidak penting. Apa yang penting untuk kita lihat adalah ia belum mengetahui siapa Yesus sebenarnya, segala tentang Yesus masih gelap baginya, dan ia ingin menyingkapkan kegelapan itu dan mengenal kebenaran yang membawa terang. Kedatangannya menunjukkan kerinduannya untuk mengenal Yesus lebih jauh secara langsung, bukan dari kata orang, bukan dari pengamatan dari jauh saja. Dia tahu bahwa Yesus berbeda dari manusia lainnya. “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” (3:2). Tanda-tanda yang dilakukan Yesus sejauh pengamatannya sudah menunjukkan sesuatu yang berbeda, tapi ia ingin mengenal lebih jauh secara pribadi, secara dekat, secara langsung, secara nyata. Dan Yesus melayaninya meski secara manusiawi itu bukan waktu yang tepat.

Nikodemus bisa saja cuek, dia bisa saja berpegang pada statusnya dan menjaga wibawanya, dia punya pilihan untuk tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya untuk selalu sesuai dengan Taurat, tapi Nikodemus menyisihkan semua itu untuk pergi datang menemui Yesus. Dan pertemuan dengan Yesus sesungguhnya telah menariknya keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam Terang dunia, the Light of the world. Sebuah pilihan yang tepat, karena jika kita berjalan mengikutiNya, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan lagi melainkan memiliki terang dalam hidup. “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (8:12).

Yesus sudah memanggil kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terangNya yang ajaib, dahsyat dan gemilang. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Yesus juga menjanjikan bahwa barangsiapa yang percaya padaNya tidak akan tinggal dalam kegelapan lagi. “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” (Yohanes 12:46). Kita harus bersyukur bahwa kita punya Allah yang luar biasa yang akan senantiasa siap menarik kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terangNya. Tidak peduli kapan, Dia selalu bersedia untuk menerima kita kembali, mengijinkan kita untuk mengenalNya lebih jauh secara pribadi, setiap saat, setiap waktu. Tangan Tuhan selalu terbuka untuk menyambut kita dengan lemah lembut. Dia rindu untuk kita kenal. Tapi untuk itu kita harus mau menyingkirkan hal-hal duniawi yang bisa merintangi langkah kita untuk mengenal Tuhan. Ego pribadi, wibawa, status, popularitas, harga diri di mata orang lain, semua ini bisa menghambat kita untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Firman Tuhan berkata: “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yeremia 29:13). Yesus bersabda “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8) Semudah itu? Yes, as simple as that. Yang dibutuhkan adalah kemauan atau kerinduan kita untuk mengenalNya secara lebih jauh dan lebih dekat, maka dia akan selalu membuka diriNya untuk menerima kita dan siap untuk menyingkapkan segala rahasia Kerajaan Surga kepada kita. (Matius 13:1). Nikodemus sudah melakukannya dan mendapatkannya. (Bacalah selengkapnya percakapan Nikodemus dengan Yesus dalam Yohanes 3:1-21) .Bagaimana dengan kita? Datanglah pada Tuhan, kapan saja, dimana saja, mari kenali Tuhan lebih lagi. Meski dalam keadaan tergelap sekalipun dalam hidup kita, Tuhan selalu siap untuk mengangkat kita masuk ke dalam terangNya jika kita mau datang kepadaNya dan rindu untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi.

Pengenalan akan Kristus adalah langkah menuju terang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: