Ayat bacaan: 1 Samuel 15:24
=====================
“Berkatalah Saul kepada Samuel: “Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.”

Ngeles adalah sebuah bahasa gaul yang menggambarkan sebuah sikap menghindar dari kesalahan, perdebatan, pembicaraan, tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan sendiri tapi mencari alasan pembenaran atau juga menimpakan kesalahan kepada orang lain alias mencari kambing hitam. Sikap ini kerap muncul kepada orang-orang yang tidak mau mengaku salah. Betapa kreatifnya manusia dalam merancang alasan agar tidak disalahkan. Ada banyak alasan yang bisa disampaikan, mulai dari yang sederhana sampai yang ‘canggih’. Ironisnya sikap seperti ini sudah dilakukan oleh anak-anak kecil. Ada teman saya yang bekerja di sekolah dasar internasional. Ia bercerita bahwa pada suatu kali ada salah seorang murid yang mengambil milik teman sekelasnya. Anak yang menjadi korban pun panik mencari benda kepunyaannya. Untungnya sekolah itu memiliki CCTV di kelas dan setelah diselidiki, sang pelaku pun ketahuan. Ketika dipanggil, anak ini tidak mengaku salah. Ia bersikukuh mengatakan bahwa ia tidak melakukan itu. Setelah bukti video ditunjukkan, ternyata ia masih bisa ngeles lagi dengan berkata ia hanya salah ambil karena mengira barang itu miliknya. Padahal di CCTV jelas terlihat bahwa ia membuka tas temannya dan mengambil dari dalam tas tersebut. Bagaimana bisa anak sekecil itu melakukan tindakan tidak terpuji lalu ngeles menutupi perbuatannya? Kalau masih kecil saja sudah begitu bagaimana nanti setelah dewasa? Padahal anak ini berasal dari keluarga lebih dari cukup. Teman saya pun geleng-geleng kepala menceritakan pengalamannya tersebut.

Seribu satu alasan lebih dipilih ketimbang menyampaikan maaf dengan tulus kalau melakukan sebuah kesalahan. Ngeles sudah menjadi seperti budaya saja bagi sebagian besar manusia. Dalam berselisih paham, kita lebih suka mengeluarkan jurus “sebab-akibat”, “Saya terpaksa harus berbuat itu karena kamu begini, begitu..” dan sebagainya. Padahal kalau dipikir baik-baik, semua keputusan ada di tangan kita. Kita cenderung untuk mencari alasan ketika bersalah, bahkan ketika kita sedang meminta maaf pun seringkali alasan-alasan ini masih juga tercetus keluar dari bibir kita. Setidaknya untuk mengurangi konsekuensi yang harus kita tanggung akibat kesalahan kita syukur-syukur bisa melepaskan kita sepenuhnya.

Saul pernah melakukan itu dalam serangkaian kesalahan yang ia perbuat. Seperti yang sudah dibahas kemarin, masa depan Saul sebenarnya sangat menjanjikan. Ia bahkan dikatakan dipenuhi Roh Allah seperti halnya nabi (1 Samuel 10:10-13). Tapi ketidaksetiaannya kepada Tuhan menjadi awal keruntuhannya. Dilanda ketakutan akan kehilangan jabatan sebagai raja dan berbagai kekhawatiran lainnya, bukannya menyerahkan pada Tuhan, tetapi ia justru meminta petunjuk dari arwah karena gentar menghadapi bangsa Filistin dan takut tidak didukung lagi oleh bangsanya. (13:11-12). Ini jelas merupakan kesalahan besar di mata Tuhan.

Apakah ia sadar dan bertobat? Sayangnya tidak. Dalam 1 Samuel 15 kita bisa melihat bagaimana Saul kembali berlaku buruk. Saat itu Saul diperintahkan untuk menumpas orang Amalek secara total, termasuk ternak-ternak yang mereka miliki. (ay 3). Itu bunyi perintahnya, tapi Saul tidak melakukan tepat seperti itu. “Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.” (ay 9). Saul dan rakyatnya tidak menuruti perintah Tuhan. Mereka menyimpan ternak-ternak yang gemuk dan hanya menghabisi yang berada dalam kondisi buruk. Mereka merasa sayang jika membuang kesempatan untuk bisa menjadi makmur lewat ternak-ternak hasil rampasan itu. Dan Tuhan pun marah, sampai berkata menyesal menjadikan Saul sebagai raja atas dua hal: Saul telah berbalik dari Tuhan dan tidak melaksanakan firmanNya. (ay 11). Ketika teguran Allah disampaikan Samuel kepada Saul, apa reaksinya? Bukannya mengakui kesalahan dan bertobat, Saul malah mencoba menutupi dengan berbagai macam kebohongan. “Jawab Saul: “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.” (ay 15). Saul kira-kira ngeles begini: “bukannya bandel, tapi justru kami sengaja menyimpannya yang ujung-ujungnya tetap untuk dipersembahkan kepada Tuhan juga kok..” Alasan yang sama kembali ia ulangi pada ayat berikutnya. “Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal.” (ay 21).

Samuel terus mencecarnya sampai ia tidak bisa berkelit lagi dengan alasan tersebut. Alasan satu gagal, alasan kedua pun hadir. “Berkatalah Saul kepada Samuel: “Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.” (ay 24). Kali ini Saul berdalih bahwa ia terpaksa melanggar karena takut kehilangan kekuasaan/jabatan karena ditentang rakyat. Karenanya ia menuruti rakyatnya dan berani mengorbankan perintah Tuhan untuk itu. Saul ngeles dengan mengemukakan berbagai alasan untuk memberi pembenaran atas pelanggarannya. Dan ini jelas merupakan keputusan yang keliru bahkan bodoh. Bodoh, karena manusia mungkin bisa ditipu tetapi tidak akan ada satupun alasan yang bisa mengelabui Tuhan karena tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Tuhan. Atas perilakunya yang buruk, pada akhirnya kita bisa melihat konsekuensi yang harus ditanggung Saul. Segala awal gemilang yang ada pada Saul harus berakhir dengan kejatuhan dan kebinasaan.

Sesungguhnya tidak ada satupun hal yang tersembunyi bagi Tuhan. Mungkin kita bisa memperdaya manusia lewat alasan-alasan yang kita ciptakan, tetapi itu tidak akan pernah mampu memperdaya Tuhan. Pada saatnya kelak kita harus mempertanggungjawabkan segala-galanya di hadapan tahta Tuhan, termasuk pula berbagai alasan yang mungkin kita anggap biasa-biasa saja atau bukan apa-apa dibanding dosa-dosa lainnya yang menurut kita lebih serius. Ngeles, apapun alasannya tetap merupakan kebohongan yang punya konsekuensi serius. Bukankah firman Tuhan sudah berkata: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37) Dari contoh Saul kita bisa melihat bahwa terus bikin alasan bisa membuat kita kehilangan kepercayaan dari Tuhan. Pilihan ada pada kita. Apakah kita mau bersikap dewasa dan dengan lapang dada mengaku dengan jujur dan bertanggung jawab atas kesalahan kita lalu memperbaikinya atau kita memilih untuk terus membela diri dengan berbagai alasan lalu kehilangan kepercayaan Tuhan. Semua tergantung keputusan kita.

Jangan biasakan ngeles karena itu buruk di mata Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.