Ngejudge

Ayat bacaan: Yohanes 1:46=========================”Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”Berkecimpung di dunia musik membuat saya bisa melihat perkembangan yang terjadi dari sisi lebih dalam. Kalau dahulu musisi-mu…

Ayat bacaan: Yohanes 1:46
=========================
“Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Berkecimpung di dunia musik membuat saya bisa melihat perkembangan yang terjadi dari sisi lebih dalam. Kalau dahulu musisi-musisi hebat kebanyakan lahir di kota-kota besar dengan fasilitas yang relatif lebih baik, saat ini banyak pemain potensial yang lahir dari kota-kota yang secara historis belum tercatat sebagai kota penghasil talent. Bukan hanya di pop, tapi juga di genre-genre yang biasanya membutuhkan keahlian khusus seperti jazz misalnya. Dari pengamatan saya dan hasil tanya-tanya, perkembangan teknologi yang semakin pesat ternyata memberi kemudahan bagi mereka untuk mengakses beragam sumber untuk belajar sehingga meski ada keterbatasan sarana pendidikan formal, kemauan mereka untuk mengasah minat dan bakat sangat terbantu oleh keberadaan internet. Saya bertemu dengan sebuah grup yang berasal dari sebuah kota di bagian bawah pulau Sumatra, mereka ternyata piawai dalam membawakan musik dengan tingkat kesulitan tinggi meski mayoritas pemainnya masih bocah, bahkan ada yang berusia hanya sepuluh tahun. Maka kalau anda mendengar ada musisi dari kota kecil yang tidak punya sejarah musik, jangan buru-buru menganggap remeh mereka, karena boleh jadi mereka justru lebih baik daripada para pemain di kota-kota besar.

Agaknya sudah menjadi seperti sifat manusia untuk cenderung terlalu terburu-buru menarik kesimpulan terhadap sesuatu dan menjatuhkan ‘vonis’ sebelum mereka mempelajari, mengetahui dan mengenal terlebih dahulu seseorang dengan baik.  Ambil contoh apabila kita tengah berada dalam satu lingkungan kecil di sebuah kota dimana kebetulan kita bertemu dengan beberapa orang yang tidak sopan, kita bisa dengan cepat berkata “kota ini benar-benar kasar, isinya orang (maaf) kurang ajar semua!” Padahal beberapa orang itu sama sekali tidak cukup representatif untuk mewakili keseluruhan penduduk di kota itu yang bisa mencapai ratusan ribu orang. Atau ketika ada seorang anak yang bandel, orang terbiasa dengan cepat berkata: “orang tuanya nggak benar..” atau bilang “tidak heran, memang sudah turunan..” Kalau ada satu orang yang kita temui sedang marah, kita bisa dengan cepat beranggapan bahwa ia pemarah. Waktu berpapasan dengan orang yang tidak tersenyum, kita langsung menganggap bahwa orang itu sombong. Saat disapa tidak membalas dengan wajar, kita anggap mereka angkuh.Padahal mungkin saja mereka sedang punya beban pikiran dan tidak fokus kepada sapaan kita. Ada banyak contoh lain dari kecenderungan manusia untuk menilai terlalu cepat hanya berdasarkan pandangan sesaat atau pendapat prematur yang terlalu singkat untuk bisa kita ambil kesimpulannya. Sikap seperti ini pun pernah terjadi bahkan terhadap Yesus sendiri.

Yesus pun mengalami sikap terburu-buru ‘ngejudge‘ seperti itu? Ya, Alkitab menyebutkan hal itu. Mari kita lihat kisahnya. Ketika Yesus tengah mengumpulkan murid-murid pertamaNya yang tertulis dalam Yohanes 1:35-51. Waktu Filipus bertemu dengan Natanael, ia berkata: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” (ay 45). Pada saat itu memang Natanael belum bertemu langsung dengan Kristus. Tapi meski demikian, ia malah terburu-buru mengambil kesimpulan. Beginilah reaksinya. “Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (ay 46).

Sebelum kita lanjutkan, kita perlu mengetahui latar belakang kota Nazaret sehingga Natanael bisa berkata seperti itu. Nazaret memang hanyalah kota yang kecil yang terletak sekitar 80 mil dari Yerusalem. Melihat letak geografisnya sebagai kota yang terletak pada jalur perdagangan dari Damaskus ke Galilea, mungkin Natanael mendengar banyak kekacauan dan tindak kriminal disana, sehingga langsung menyimpulkan bahwa adalah tidak mungkin jika seorang Mesias akan datang dari kota kecil yang kacau situasinya seperti Nazaret. Saya tidak tahu bagaimana pastinya pandangan orang di masa itu tentang kota Nazaret. Mungkin ada banyak orang yang berpendapat sama, bahwa kota itu tidak ada baiknya seperti kata Natanael, tetapi faktanya adalah jelas. Yesus “orang Nazaret” melakukan banyak mukjizat dan menunjukkan penggenapan nubuat-nubuat sebelumnya lewat banyak nabi dalam Perjanjian Lama seperti yang disebutkan Filipus. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan: “Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kisah Rasul 10:38). Berbuat baik dan menyembuhkan ini juga tertulis dalam Injil Matius. “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Matius 11:5). Lebih dari mukjizat kesembuhan dan pelepasan, Yesus juga menebus dosa-dosa kita dengan nyawaNya sendiri dan melayakkan kita untuk menerima janji keselamatan. Ini semua dilakukan oleh “Seorang” yang tumbuh dan dibesarkan di Nazaret. Jika kita mundur ke belakang melihat Yesaya 53:3, disana dinubuatkan bahwa Mesias akan merupakan orang yang hina, dan dengan berasalnya Yesus dari Nazaret, nubuatan ini pun terbukti terpenuhi.

Seandainya pertanyaan Natanael ditujukan kepada kita: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”, bagaimana reaksi kita? Apakah kita ikut merasa itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin atau kita bisa menjawab “ya, sesuatu yang baik tentu bisa saja datang dari mana saja, termasuk dari Nazaret.” Janganlah terlalu cepat menggeneralisir sesuatu, jangan terburu-buru menilai dan terlalu gampang menyimpulkan sesuatu. Kita harus menjaga diri agar tidak terperosok pada kecenderungan mengambil kesimpulan negatif terlalu cepat. Kita bisa belajar dari reaksi Filipus terhadap reaksi negatif Natanael yang prematur itu. Ia merespon dengan: “Mari dan lihatlah!”. “Come and see.” Mungkin akan ada banyak pertanyaan mengenai Yesus yang ditujukan kepada kita oleh orang-orang yang belum percaya. Mereka mungkin pesimis, ragu atau sulit menerima kebenaran. Kita pun harus mampu mengatakan hal yang sama. Satu hal yang pasti, kita tidak akan bisa menjawab demikian apabila kita tidak mencerminkan terang Kristus sama sekali. Sebab tidak mungkin orang mau mencoba mengenal kalau tidak ada apapun dari kita yang mencerminkan pribadiNya. Aplikasi lainnya, jangan takut memulai dari sesuatu yang kelihatannya kecil, karena itu bisa jadi sesuatu yang luar biasa besar apabila kita tekuni dan membawa Tuhan untuk bertahta disana. Jadi, mungkinkah ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Jawabannya, tentu saja. Sang Penebus, Tuhan kita Yesus Kristus datang menebus dosa kita dengan berawal dari sana.

Jangan terburu-buru menyimpulkan apalagi menuduh sebelum mengetahui dengan baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply