Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Network and Teamwork (2)

Ayat bacaan: Ibrani 10:24
==================
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.”

networkMudahkah mengatur sebuah pagelaran pentas musik? Tentu saja tidak. Tidak ada satupun acara panggung yang sanggup dikerjakan hanya oleh satu orang. Harus ada ketua, tim produksi, penghubung atau liaison dan sebagainya lengkap dengan anggotanya. Harus ada penyedia tempat, orang yang menata panggung, soundmen dan artis yang bermain. Lalu harus ada pula media yang bisa menginfokan tentang acaranya dan meliput. Dan tentu saja harus ada penonton. Semua ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah acara tidaklah pernah tergantung hanya dari satu orang melainkan atas kerjasama yang baik antara berbagai pihak yang terkait didalamnya.

Menyambung renungan kemarin, mari kita lihat kembali pentingnya sebuah network dan teamwork yang solid dalam mencapai sebuah keberhasilan. Sejatinya manusia memang diciptakan bukan menjadi mahluk yang tahu dan sanggup berbuat segalanya sendirian. Kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus saling berinteraksi dan terintegrasi dengan orang lain. Kita adalah bagian dari masyarakat, a part of the society yang terintegrasi di dalamnya. Dan ini haruslah kita ingat karena tidak satupun dari kita yang cukup hebat untuk bisa mencapai sukses sendirian.

Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan selalu mengingatkan kita agar tidak berjalan sendirian. Kita tidak pernah dianjurkan untuk menjadi manusia yang absolut dan merasa kita sanggup melakukan segalanya sendirian.Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya…Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. (Pengkotbah 4:9-10,12). Ini bunyi firman Tuhan yang dengan jelas mengingatkan kita sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itu kata pepatah kita. Dalam hal-hal kerohanian pun demikian. Network dan teamwork yang kokoh dibutuhkan bukan saja untuk kepentingan kita, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.

Tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat bahkan di saat-saat yang tidak terduga sama sekali. Cepat atau lambat kita akan kehabisan tenaga atau akal, kelelahan dan menjadi lemah. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Sebuah teamwork yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Dan itu sangatlah dibutuhkan terutama dalam menghadapi situasi-situasi yang sulit. Tanpa membangun network yang baik akan sulit bagi kita untuk memperoleh teamwork yang kuat. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan, atau untuk mencapai peningkatan-peningkatan atas usaha kita.

Dalam surat Ibrani kita bisa memperoleh ayat yang menyatakan hal ini dengan jelas. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24). Inilah kuncinya. Saling memperhatikan, saling mendorong, dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Lantas perhatikan selanjutnya kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (ay 25). Cara atau gaya hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 merupakan contoh yang sangat sempurna mengenai hal ini.

Jika untuk sukses dalam pekerjaan atau karir sebuah teamwork dan network itu diperlukan, untuk memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi ini pun demikian juga. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Masing-masing orang diberikan karunia talenta atau bakat-bakat berbeda yang hanya akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika tersambung atau terhubung dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita..” (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (ay 16). Semua ini dengan jelas menunjukkan pentingnya membangun hubungan dengan orang lain agar kita bisa memperoleh pencapaian-pencapaian dengan peningkatan yang signifikan.

Dalam segala hal, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan rohani kita memerlukan networking dengan teamwork yang kuat. Kekristenan tidak pernah berbicara untuk membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang sombong, eksklusif dan tertutup. Kita tidak dibentuk untuk menjadi orang yang hanya bersembunyi di balik tembok gereja saja. We need to expand our horizon to reach the world outside the walls. Di marketplace, lingkungan tempat tinggal, atau dimanapun kita ditempatkan kita harus bisa menjadi contoh bagaimana kasih bisa membuat pribadi-pribadi yang menyenangkan, ramah dan bersahabat dengan tulus tanpa terbatas oleh sekat apapun. Itu adalah sesuatu yang berbeda dengan cara pandang dunia dan itulah panggilan kita sebagai ciptaan baru. Ini saatnya untuk menjadi orang-orang yang mengerti akan pentingnya network dan teamwork dalam mencapai peningkatan dalam segala aspek hidup kita.

Kita adalah mahluk sosial sebagai bagian integral dari masyarakat dan bukan orang-orang eksklusif yang tertutup

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*