Natal II 26 Desember, Stefanus – Martir: Merayakan dan Menghidupi Natal

Natal dan Santo Stefanus (Ist)

Kis. 6:8-10. 7:54-59

ANEH, di Hari Natal II, kita malah memperingati St. Stefanus, martir.

Kemarin,  kita bicara tentang sukacita Natal.  Hari ini, kita merenungkan tentang sengsara dan kematian. Dimana hubungannya?

Saya pribadi, mendapat sebuah gambar Natal dengan tulisan: Kelahiran Kristus membawa Allah kepada dunia. Salib Kristus, membawa manusia kepada Allah. Dan pada peristiwa kemartiran St. Stefanus ini, kita temukan, betapa benar kata-kata itu.

Peristiwa Natal yang kita rayakan kembarin, membawa Allah masuk ke dunia, juga kedalam hati dan hidup kita.

Tetapi kenyataan di dunia, kehadiran Allah dalam diri bayi Yesus, tidak diperhatikan dan tidak diperdulikan oleh penduduk kota Bethlehem.

Sekarang pun, Natal dirayakan sebagai peristiwa pesta, yang sibuk dipersiapkan selama sebulan yang lewat, hari kemarin selesai dan hari ini kita sudah kita tutup dan kita kembali sibuk pada kegiatan dan kehidupan kita sehari-hari.

Tujuh Catatan Seputar Hari Natal: Untuk Kalangan Sendiri, Juga Matt dan Luc

Apa yang terjadi di kota kecil Bethlehem 2000 tahun yang lalu, masih terjadi sekarang ini, bahkan dalam skala seluruh dunia?

Tetapi Stefanus menunjukkan,  bahwa ia bukan orang dunia. Hidupnya dipenuhi Roh Kristus. Bahkan sampai matinya pun, dia bersikap seperti Yesus Kristus. “Ya Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka.”

Ia mendoakan para pembunuhnya, sebelum ia meninggal dilempari batu. Stefanus menerima salib Kristus, yang membawa dia bersatu dengan Kristus, yang dilihatnya saat surga terbuka dan dilihatnya Kristus berdiri di sisi kanan Allah Bapa.

Natal yang kemarin kita rayakan adalah suatu renungan, sebuah kenangan akan peristiwa indah luar biasa, saat Allah secara istimewa mau hadir di tengah kita. Allah yang merendahkan diri, menghampakan diri, mengosongkan diri – begitu kata Rasul Paulus.

Peristiwa itu kita kenangkan dengan meriah, indah dan mengharukan. Dalam keindahan, kegembiraan dan suasana pesta. Karena itu,  dunia dapat ikut berpesta. Karena kemeriahan, keindahan, pesta pora, adalah bagian dari bentuk kegiatan di dunia.

Asal-usul Yesus Sang Imanuel

Tetapi hari ini, semua sudah selesai. Kegiatan rutin sudah mulai lagi. Kelelahan Natal mulai membekas pada tubuh kita dan kita menyeret diri kita, untuk kembali pada tugas dan beban hidup kita sehari-hari.

Karena itulah, Natal baru mulai hari ini. Allah yang hadir dalam kekosongan, dalam derita, sepi, beban hidup, ketidakpastian, perpecahan hidup dan segala sesuatu yang harus kita tanggung dalam hidup kita sehari-hari.

Di sini Allah hadir. Mungkin Allah duduk di sudut pesta kita kemarin. Tetapi hari ini, Dia sungguh ada di sisi kita, dalam setiap langkah yang kita ayun dan ke tiap beban yang kita seret.

Dalam perjuangan dan derita kita, kita boleh mengalami “Kematian kecil” dan “Salib Kehidupan.”

Di situ Allah ada besama kita. Di situ Allah menjadi Immanuel, Allah beserta kita. Jika kita kemarin berucap: Selamat Merayakan Natal. Maka, pada hari ini, bersama St. Stefanus – martir,  kita boleh saling berucap: Selamat Menghidupi Natal. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: