Ilustrasi: Doa by Beliefnet

NAMA imam Jesuit yakni Romo Suhardiyanto SJ dari Komunitas Residensial SJ di Bener, Yogyakarta untuk kesekian kalinya telah ‘dicatut’ orang –entah siapa- untuk menyebarkan artikel tentang formula doa tertentu.


Kepada Sesawi.Net, Pembesar Komunitas SJ di Bener – Yogyakarta memastikan bahwa postingan formula doa tersebut bukan dari Romo Suhardiyanto SJ.


“Rasa-rasanya teks doa seperti yang muncul di jalur medsos itu bukan dari Romo Suhardiyanto SJ. Di milis dan grup internal SJ, juga tidak ada dan muncul postingan tersebut,”  kata Romo Y. Ispuroyanto Iswarahadi SJ, Superior Rumah Residensial SJ Komunitas Bener, Yogyakarta menjawab Sesawi.Net pada hari Jumat (11/5/18) pukul 16.30 WIB petang tadi.


Pertanyaan dan konfirmasi tentang hal itu sebenarnya telah kami kirim kepada Romo Is sejak siang, beberapa jam sebelumnya. Namun, karena butuh waktu melakukan rekonfirmasi, Romo Is baru memberikan keterangannya petang hari.


Dan Jumat malam ini, Romo Is kembali menegaskan bahwa postingan di grup-grup WA yang telah ‘mengatasnamakan’ Romo Suhardiyanto SJ itu jelas palsu.


“Sudah ada jawaban dari Romo Suhardiyanto SJ bahwa doa itu bukan merupakan hasil tulisannya,” tegas Romo Is.


Tidak ada nama itu


Di Ordo Serikat Jesus Provinsi Indonesia juga tidak nama imam Jesuit bernama “Hardiyanto SJ”. Yang nyata ada hanyalah imam Jesuit yang bernama Romo HJ Suhardiyanto SJ, kelahiran tahun 1948.


Pada saat ini, Romo Suhardiyanto SJ sedang tidak ada di Yogya, melainkan tengah berada di luar kota sehingga konfirmasi internal antarimam SJ juga membutuhkan waktu.


Untuk kesekian kalinya, nama Romo Suhardiyanto SJ telah ‘dicatut’ pihak tak dikenal.


Meski tidak persis menulis namanya secara benar melainkan ‘hanya’ Hardiyanto SJ, namun agaknya postingan nama itu ‘tertuju’ kepada Romo Suhardiyanto SJ.


Beberapa imam dan frater SJ, termasuk mantan alumni Girisonta, dengan sangat jelas menyebutkan bahwa rumusan doa model seperti bukan ‘khas’ Katolik, apalagi khas Yesuit.


Dengan demikian, marilah kita berhenti menyebarkan teks doa yang terasa ‘aneh’ tersebut.


Kalau kita menerima kiriman teks doa tersebut, sebaiknya langsung dihapus saja dan tidak perlu dikirim ke jaringan percakapan internal di jalur medsos.


Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.