Nafas

Ayat bacaan: Mazmur 150:6
=======================
“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

nafas

Berapa menit anda sanggup menahan nafas? Rata-rata orang sudah kepayahan jika menahan selama dua menit. Ada sebagian orang yang sanggup lebih lama dari itu, terutama para penyelam-penyelam yang tinggal di pesisir pantai. Mungkin mereka sanggup bertahan lebih dari 5 menit tanpa masalah. Rekor Guiness book mencatat nama Peter Colat dari Swiss yang mampu menahan nafasnya selama 19 menit dan 21 detik. Ia memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Nicola Putignano yang berselisih hanya beberapa detik. Untuk bisa melakukannya, Colat terlebih dahulu menghirup oksigen murni selama 30 detik sebelum mencelupkan dirinya ke air dan berusaha bertahan dalam kondisi rileks di dalam air untuk menghemat oksigen. Rekor ini belum terpecahkan sampai hari ini. 19 menit tanpa bernafas? Itu luar biasa. Tetapi itulah rekor tertinggi manusia. Artinya lebih dari situ, situasi serius bisa terjadi. Orang akan menemui ajalnya jika tidak bernafas. Anda bisa bertahan hidup jika tidak makan dua atau tiga hari, tetapi jangan harap bisa bertahan jika tidak bernafas.

Ambillah segenggam debu, dan coba hembuskan nafas ke arahnya. Debu tentu akan beterbangan mengotori orang lain dan mungkin kita sendiri pun akan terkena debunya. Tetapi apa yang terjadi jika Tuhan menghembuskan nafasNya ke debu tanah? Yang terjadi adalah manusia! Manusia yang sangat kompleks, lengkap dengan organ tubuh, jaringan-jaringan, kemampuan berpikir, akal budi, punya perasaan dan sebagainya. Dalam kitab Kejadian itu disebutkan dengan jelas. “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kejadian 2:7). Itulah awal mulanya manusia ada. Hembusan nafas hidup berasal dari Tuhan, itulah yang membuat kita menjadi mahluk yang hidup. Artinya, jika kita bisa bernafas hari ini, itu berasal dari hembusan nafas Tuhan sendiri. Daud menggambarkan itu sebagai sebuah proses penciptaan yang dahsyat dan ajaib. “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:14). Dan memang demikianlah adanya. Hembusan nafas Tuhan menghadirkan kita di dunia ini, alangkah menyedihkannya apabila kita tidak mengingat itu dan terus berbuat kejahatan dalam hidup ini. Tuhan memberi nafasNya sendiri untuk menciptakan kita, Dia membuat kita untuk rencana-rencana atau perbuatan yang baik, untuk bertanggungjawab melestarikan seluruh keindahan yang telah Dia hadiahkan kepada kita, tetapi dengan melakukan hal-hal yang buruk maka itu artinya kita tidak menghargai sama sekali semua itu.

Jika kita menyadari bahwa nafas kita hari ini berasal dari hembusan nafas Tuhan, jika benar kita menghargainya, pernahkah kita berpikir untuk apa nafas kita sehari-hari kita pakai? Kita mungkin terengah-engah ketika naik tangga, sehabis berlari atau kecapaian setelah bekerja keras, di saat lain kita mungkin mengisi saat-saat kita bernafas dengan berkeluh kesah atau menyesali hidup. Pemazmur melihat sisi lain dari sebuah nafas. Ketika nafas ini masih berada pada kita, adalah baik jika itu dipakai untuk alasan yang baik dan tepat, alasan yang menjadi landasan kita untuk hidup, yaitu untuk memuji Tuhan. “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!” (Mazmur 150:6). “Let everything that has breath and every breath of life praise the Lord! Praise the Lord!” Kita harus terus bernafas kalau masih mau tetap hidup, dan selama bernafas itu masih bisa kita lakukan, hendaklah itu kita pergunakan untuk memuji Tuhan. Inilah ayat yang menjadi penutup dari rangkaian kitab Mazmur sepanjang 150 pasal itu.

Nafas tidak bisa kita simpan terlebih dahulu untuk dipakai kemudian. Jika kita memilih untuk menahan nafas, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk itu. Bahkan jika kita menahannya untuk waktu yang lama kita bisa pingsan atau bahkan menemui ajal alias mati. Karena itulah selagi nafas itu masih ada dalam diri kita, ketika kita masih diberi kesempatan untuk bernafas, kita harus mampu mempergunakannya dengan sebaik-baiknya demi memuliakan Tuhan. Memuji, menyembahNya dan mensyukuri kebaikan-kebaikan Tuhan bagi diri kita. Jangan sampai kita menyia-nyiakan nafas yang telah Dia anugerahkan kepada kita dengan hal-hal yang mengecewakan atau bahkan menyakiti hatiNya. “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada..” (Kisah Para Rasul 17:28), menyadari itulah kita harus mempergunakan setiap kesempatan yang ada dalam hidup kita. Selama nafas masih ada, pergunakanlah setiap hembusan dan tarikan untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Kita bisa memberi nafas buatan untuk menolong orang itu bisa, tetapi memberi kehidupan lewat debu tanah seperti Tuhan tidak akan pernah bisa kita lakukan. Kita tidak akan pernah bisa menghembuskan nafas ke dalam segenggam debu tanah untuk menghidupi seorang manusia seperti halnya Tuhan. Namun nafas yang kita miliki bisa dipakai untuk mengeluarkan kata-kata penghiburan bagi yang sedang susah. Kita bisa menaikkan pujian dan penyembahan, kita bisa mempergunakannya untuk membantu sesama. Jika kita mempergunakan nafas yang kita miliki untuk hal-hal yang demikian, disanalah kita bisa memuliakan Tuhan. Dan dengan cara itulah kita tidak menyia-nyiakan nafas kita selagi masih ada. Jangan sia-siakan setiap kesempatan yang masih ada, karena pada suatu saat nanti kita juga yang akan menyesal telah menyia-nyiakannya. Seperti apa anda mempergunakan nafas anda saat ini?

Pergunakan waktu-waktu yang masih ada selama kita masih bernafas untuk memuliakan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: