“Nada untuk Asa”, Harapan Jadi Energi Positif di KAJ

Nada dan Gita

AWALNYA hanyalah sebuah panggung biasa. Tirai merah besar masih jatuh tergelar rapi di panggung utama. Dalam sekejap lalu muncullah Fanny Rahmasari, presenter sebuah program infotainment, mengantar masuk acara pentas Nada untuk Asa.

Nah, gara-gara ulah nakal Mama Yuni (Christian Reynaldo), Fanny yang harus mengantar buka wicara pergelaran Nada untuk Asa di Teater Jakarta, TIM, 20-21 September 2014, harus berhenti bicara. Alih-alih tersinggung, Fanny malahan merespon santai terhadap clemongan pemimpin kelompok waria ini. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Kisah clemongan yang kian sering dilontarkan Mama Yuni inilah yang menjadi daya pikat utama pergelaran Nada untuk Asa ini. Jodi tidak saja menjadi ‘roh’ penyegar kisah hidup para waria yang hari-harinya selalu dicekam kecemasan. Lebih dari itu, Jodi menjadi semacam ‘penyambung rasa’ antara kisah para waria dengan para pemain lain, semua pendukung pementasan Nada untuk Asa. Tampil dengan model drama panggung miri-mirip Kua Etnika-nya Djaduk Ferianto, Nada untuk Asa berhasil dipresentasikan secara karikatural sangat menarik.

Waria dalam dunia sosialita
Dunia waria menjadi semacam latar belakang panggung kehidupan bagi para pemain lain yang ikut menghidupi pergelaran Nada untuk Asa ini. Dibesut oleh Romo Steve Winarto, imam diosesan dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), maka kaum waria pimpinan Jodi lalu bersinergi cerita dengan pasukan tatib, jaringan ibu-ibu sosialita, aktivis advokasi AIDS bernama Gita (Tantri Moerdopo) yang tangkas, dan sejumlah orang mapan.

waria bersama 3

Kelompok waria pimpinan Mama Yuni (paling kiri, depan): Dalam masyarakat tradisional maupun modern, kelompok waria selalu menjadi marginal karena disingkirkan dan tidak diperlakukan secara terhormat, apalagi oleh pasukan tata tertib umum kota. Inilah potret buram manusia modern dimana Gereja sebenarnya ditantang untuk terlibat memperlakukan mereka sebagai warga negara terhormat, meski secara seksual dan sosial mengalami perilaku menyimpang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

waria bersama 2

Sampah masyarakat: Dimana-mana kelompok waria selalu dianggap ‘sampah masyarakat’ oleh masyarakat perkotaan atau terlebih di kelompok masyarakat tradisional. Kelompok Waria pimpinan Mama Yuni mencoba bertahan dalam tekanan sosial seperti ini. Bahkan, karena perlaku seksual mereka yang menyimpang, dalam pementasan drama ‘Nada untuk Asa’ ini mereka sering disebut sebagai ‘biang kerok’ tersebarnya virus HIV. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Diproduksi oleh Komsos KAJ bersama kelompok Teaterri dan Jaringan Sahabat Positif KAJ yang dimotori Romo Harry Sulistyo selaku Ketua Komsos KAJ, Nada untuk Asa berkisah tentang bagaimana virus HIV ini tanpa ba-bi-bu bisa menjadi racun dalam tubuh manusia. Di sini, kelompok waria yang cenderung berperilaku seksual secara menyimpang kena batunya: dituduh menjadi biang penyebab tertularnya kelompok manusia mapan.

Dalam Nada untuk Asa, dimana-mana kaum waria lalu disingkiri, dikejar-kejar pasukan tatib, ditolak kelompok sosialita, dan terakhir malah dituduh menjadi penyebab meninggalnya Donny, sosok bapak dan suami yang sempurna.

pasukan tatib

Pasukan militer kenangan alm. Bobby– Beginilah gaya karikatural pasukan militer dimana alm. Bobby dulu pernah bergabung masuk.. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

arisan 1

Arisan gaya ibu-ibu sosialita: Fanny Rahmasari (menunduk) membawa kelompok ibu-ibu sosialita –la Crême de la Crême begitu orang modern bilang– untuk arisan bersama di sebuah galeri. Di tengah pameran galeri sembaru ngerumpi dan arisan, kelompok waria menyerbu masuk la  ini dan mereka pun heboh. Sosialita tak mau menerima kaum waria karena perlaku mereka yang menyimpang dan juga karena bukan kelas sosialnya. Sementara, pergelaran drama “Nada untuk Asa’ mengibarkan semangat egalitarian –seperti kata Mama Yuni– “Kita kan juga (sesama) manusia!”. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Meski datang dari antah berantah dan sudah almarhum, namun toh ‘roh’ keberadaan FX Bobby ini masih menyandera keluarganya –terwakili oleh keluarga mapan– jaringan kelompok advokasi AIDS, kaum warita, sosialitas, dokter, perawat dan bahkan para suster rohaniwati CB di RS Sint Carolus Jakarta.

Semua pihak menjadi bulan-bulanan cerita bagaimana virus HIV dituding sebagai penyebab meninggalnya Donny, kelompok waria sebagai penyebab peretas beredarnya virus mematikan yang melemahkan system kekebalan tubuh ini. HIV telah membuat dokter dan pak dosen ikut senewen. Perawat St. Carolus dan suster-suster CB juga ikut dibuat sibuk, karena harus menenangkan amuk emosi masyarakat yang didera kecemasan akibat isu tertular virus HIV.

Serba minimalis
Beberapa jelujur tali ukuran besar menjadi penghias utama di panggung Nada untuk Asa. Romo Steve Winarto –sang pembesut pergelaran ini—sengaja memanfaatkan properti panggung ini sebagai bagian ceritanya. Jelujur tali-temali yang terlempar dari atas hingga lantai panggung tidak saja menjadi penghias, melainkan fungsional.

Seorang waria menyampirkan akhir hidupnya di tali-temali ini, usai dipermak habis oleh pasukan tatib yang selalu bersikap garang terhadap kelompok waria. Nada –ibu muda beranak dua—juga nyaris menyampirkan nasib hidupnya di tali-temali ini, sebelum akhirnya ditemukan oleh seorang suster CB yang memberinya harapan.

tali

Peson tali-temali: Dalam teater modern, peran properti seperti tali-temali kadang menjadi aksentuasi tersendiri. Pementaran drama “Nada untuk Asa’ juga memanfaatkan tali sebagai latar belakang panggung di sisi tengah maupun untuk ‘koreografi’ adegan kekerasan dan kematian karena di ujung tenggelamnya asa atau harapan. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Konsep serba minimalis juga terjadi pada kelompok music di tataran panggung bagian depan. Memanfaatkan perkusi dan sejumlah instrumentlainnya, kelompok music ini menjadi pengiring laku peristiwa dan pemberi ‘roh’ suasana atmofir kehidupan sepanjang pergelaran berdurasi hampir 2,5 jam ini.

Ada kalanya, music disertai tata cahaya yang menarik berhasil menghadirkan suasana kuburan yang temaram. Namun, di bagian lain music berikut alunan solo penyanyinya menghadirkan dramaturgi Kisah Passio khas Jumat Agung yang memaksa para penonton tergelak dalam tawa. Ketika para jawara sosialitas tengah ber-clubbing ria dalam sebuah pameran lukisan, music menjadi roh penyemangat kelompok yang diam-diam punya moto: Reguklah kehidupan, selagi bisa dan tidak dilarang!

Maka, jazzy tunes menjadi suguhannya.

Menggantang asa
Darimana munculnya pertobatan dan perbaikan kualitas hidup, kalau tidak dimulai dari harapan?

Eksistensi manusia –demikian kata Martin Heidegger—sering kali terlempar pada situasi yang tidak dipilihnya sendiri. Ia berada di ambang batas yang oleh Heidegger dia sebut sebagai Grenzsituationen.

Inilah situasi-situasi batas dimana manusia hanya bisa dihadapkan oleh dua pilihan: mati atau hidup lagi dengan ‘kualitas kehidupan’ yang berbeda.

Elisabeth Kübler-Ross, dokter ahli psikiatri, mencermati fenomena grenzsituationen ini pada pasien-pasien terminal dimana di hadapan mereka hanya ada satu opsi: mati nelangsa atau mati ‘berkualitas’. Terhadap pasien-pasien terminal ini, Kübler-Ross menawarkan konsep ‘hiburan iman’ khas kristiani yakni pengharapan atau harapan.

Nada dan suster Sesil

Suster Sesil CB datang membawa asa: Wulan Tilaar pemeran tokoh Suster Sesil CB datang membawa harapan kepada Nada (Lia Probo) agar di tengah terpuruknya kondisi psikis dalam kondisi grenzsituationen mau berobat menyembuhkan penyakit virus HIV-nya di RS Sint Carolus Jakarta. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Jadilah dalam Nada untuk Asa ini muncullah seorang ‘Suster CB’ Sesil (Wulan Tilaar)  yang menasehati Nada untuk bersedia berobat di Sint Carolus Jakarta untuk menaklukkan virus HIV yang telah bersarang di dalam tubuhnya. Belakangan juga muncul sejumlah suster CB betulan yang bersama Nada lalu duduk berlutut mensyukuri ‘pertobatannya’ dengan atmosfir serba rohani: gambar Bunda Maria sebagai latar dengan alunan Ave Maria gaya Bach-Gounod persembangan kelompok musik.

Harapan inilah yang akhirnya mendamaikan Nada (Lia Probo)  dengan Susan (Dona Arsinta), perempuan lain yang pernah singgah di hati suaminya tanpa pernah dia ketahui selama ini; juga kelompok waria dengan ibu-ibu sosialita. Harapan inilah yang juga menghadirkan ‘pertobatan’ dan perdamaian dalam hubungan internal keluarga Nada: ia dengan kedua anaknya, ia dengan iparnya dan keluarga mertuanya, ia dengan kelompok waria, ia dengan pasukan RS Sint Carolus termasuk dokter, perawat dan tentu saja Suster-suster CB, pemangku rumah sakit katolik terbesar di Ibukota Jakarta ini.

Suster sesilia

Nada untuk Asa: Nada kembali menemukan gairah hidupnya kembali ketika mau merengkuh harapan mau sembuh dari penyakit terkena virus HIV sebagaimana didorong oleh Suster Sesil CB bersama para suster lainnya dari RS Sint Carolus Jakarta. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Positif!
Kalau positif terjangkit kena virus HIV, sudah barang tentu dunia ibaratnya terbalik. Maka jauhilah narkoba dan seks bebas di jalanan. Namun, kalau mendapat jaringan pertemanan iman dengan lingkaran sahabat, maka itu baru namanya positif!

Sebagai gerakan mengumpulkan berbagai kelompok umat dari berbagai kalangan, Sahabat Positif tentu saja bernilai ‘positif’. Inilah jaringan kelompok iman berbagai kalangan dari semua paroki di KAJ yang baru digagas oleh Romo Harry Sulistyo Pr –Ketua Komsos KAJ— dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini. Hasilnya ya positif seperti pergelaran Nada untuk Asa yang tampil menarik di Teater Jakarta, TIM, 20-21 September 2014. Di sini, banyak orang terlibat di dalamnya: ada Romo Yustinus “Ius” Ardianto Pr dari Paroki Kalvari Lubang Buaya Jaktim, Romo Suhardi Antara Pr (pemeran Dokter Arya), Ria Probo, presenter Dona Arsinta, dan Wulan Tilaar –anak pemilik industri kosmetik Martha Tilaar.

Nada dan Gita bersama

Merengkuh asa dalam pelukan: Terus dibombardir Gita (Tantri Moerdopo) agar mau berobat demi diri dan kedua anaknya, akhirnya Nada (Lia Probo) berhasil merengkuh kembali asanya, yakni kemauan untuk berobat di RS Sint Carolus Jakarta. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

tarian 1

Nada menemuka asa: Keceriaan membuncah dalam diri Nada (Ria Probo) ketika dokter memberitahukan dia berhasil sembuh dari sakitnya. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Kalau saya boleh memuji, maka penampilan prima berhasil ditunjukkan oleh Mama Yuni (Christian) yang oleh banyak penonton sampai diragukan itu benar cowok atau cewek; Gita (Tanti Moerdopo) yang tangkas bicara dan sangat energik, Nada (Lia Probo) yang tetap eksis di panggung teater sejak ikut kelompok Bengkel Teater-nya WS Rendra. Juga ragam gaya karikatural kelompok pasukan tatib Tali Bunbun dan pasukan waria pimpinan Mama Yuni.

Sebagai sebuah gerakan iman, kelompok Jaringan Positif telah melahirkan sesuatu yang positif dan berharga di KAJ: mengemas pementasan teater untuk dua tujuan sekaligus. Satu kali kayu, maka dua ‘pulau’ tujuan tercapai: menghibur umat dan khalayak ramai dan membantu RS Sint Carolus Jakarta untuk program fund-raising.

Pergelaran seni Nada untuk Asa tidak saja menularkan hawa positif –bernilai baik—di lingkungan umat katolik KAJ. Lebih dari itu, Nada untuk Asa sebagaimana tergelar dalam pementasan akhir pekan lalu itu adalah penyebaran virus baik bernama harapan untuk menggapai kualitas hidup iman yang lebih baik. Nada untuk Asa tak lain adalah merajut energy positif bernama harapan.

pesta syukur

Mensyukuri rahmat kesembuhan: Di hari perayaan HUT-nya, Nada merayakan kesembuhan sakitnya dari tertular virus HIV sebagaimana ditampilkan dalam pergelaran ‘Nada untuk Asa’ di Teater Jakarta, TIM, Jakarta Pusat, 20-21 September 2014. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

tarian 2

Keceriaan bersama: Segenap pemain anggota Jaringan Sahabat Positif yang dibesut Romo Harry Sulistyo Pr dari Komisi Komsos KAJ melampiaskan kegembiraan bersama usai pergelaran drama “Nada untuk Asa’ berakhir di Teater Jakarta, TIM, 20-21 September 2014. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

 

Kredit foto: Pergelaran seni Nada untuk Asa (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: