Musuh-musuh Tuhan

setan

GAGASAN  pokok dari Kitab Suci.

Betapa kecewa seseorang kalau menanam kebaikan, tetapi yang tumbuh justru kejahatan. Begitu pula Tuhan Allah terhadap Umat yang terpilih Dalam Injil (Mat 21:33-43) ada beberapa hal yang aneh dalam perumpamaan tadi, antara lain: Dalam kontrak pada umumnya si penyewa itu mestinya yang wajib melaporkan pertanggung-jawabannya kepada si pemilik sebelum diminta, namun di sini si pemilik yang mengirim utusan untuk minta pertanggung-jawaban mengenai hasil panenannya kepada si penyewa.

Hal ini menunjukkan adanya sesuatu yang tidak beres dalam diri penyewa, yaitu ingin mengambil tanah yang disewa itu sebagai miliknya.

Maka ketika utusan-utusan itu datang kepada penyewa untuk meminta laporan dari penyewa, malahan diperlakukan secara kejam dan ada yang dibunuh.
Sikap kejam dari penyewa itu menjadi amat nyata ketika ia juga membunuh anak dari si pemilik tanah itu sendiri, dengan tujuan agar ia diganggu lagi oleh si pemilik, karena ia berniat mau mengambil semua tanah milik si pemilik itu beserta dengan hasilnya.

Merenungkan pengalaman
Sekarang ini pun ada gejala nyata di masyarakat, banyak orang berambisi untuk mengambil milik orang lain untuk dijadikan miliknya sendiri secara tidak legal. Misalnya: maraknya penebangan hutan secara liar, penimbunan BBM, penggelapan dana bantuan, pemalsuan surat pengiriman dan masih banyak lagi praktik-praktik yang benar-benar meresahkan masayarakat, seperti ulah penguasaha besar mencaploki tanah atau rumah penduduk.
Dan tingkat internasional pun juga ada usaha-usaha untuk saling mencaplok dan mengambil milik Negara lain dengan cara-cara yang keras, sehingga menimbulkan pertentangan yang cukup sengit.
Mengapa bisa terjadi bahwa manusia menjadi begitu kejam? Karena mereka meninggalkan Tuhan.

Mereka lupa bahwa Tuhan yang memiliki bumi dan seisinya ini. Maka bilamana manusia tidak punya hubungan lagi dengan Tuhan, maka manusia merasa yang memiliki kuasa untuk memiliki segala-galanya.
Maka perumpamaan ini sebenarnya mau menjelaskan kepada kita sikap orang yang tidak tahu berterima-kasih kepada Tuhan, yang tidak mau mengenal Tuhan dan bahkan memusuhinya, walaupun mereka menerima segala-galanya dari Tuhan

Tuhan Allah telah memilih bangsa Yahudi sebagai Umat terpilih melalui sebuah perjanjian. Tetapi mereka tidak percaya kepada Allah. Kita dapat membandingkan perilaku Umat terpilih dengan orang-orang pada zaman sekarang. Karena, bilamana mereka puas dengan kehidupan mereka biasanya mereka lupa terhadap tujuan dan panggilan hidup mereka. Mereka menolak untuk menerima perintah Allah.

Kita juga punya pengalaman dari masyarakat kita, semakin orang menikmati kemakmuran dan kekayaan, semakin mereka lupa akan Tuhan. Mereka menolak moral dan mereka mau hidup semaunya saja tanpa satu pegangan hukum atau pun aturan.
Nabi-nabi zaman sekarang ini terdiri dari orang-orang yang berkemauan baik dan dari anggota Umat beriman dan anggota masyarakat, yang tetap setia kepada Tuhan untuk memperbaiki keadaan kita sekarang ini, terutama untuk merlaksanakan keadilan dan mempersatukan masyarakat. Tetapi banyak orang menentang.

Mencari pesan:

  • Perumpamaan ini juga cocok untuk kita: misalnya: banyak tokoh atau petugas Gereja yang bertanggung-jawab untuk mendampingi Umat, namun dalam perjalanan waktu lupa bahwa mereka itu hanya pekerja-pekerja Yesus, yang mestinya harus membawa Umat kepada Yesus, bukan kepada bisnisnya sendiri atau kehendaknya sendiri (bahkan ada yang membuat kelompok tandingan). Kita dapat mengamati hal itu bilamana organisasi gerejani berubah menjadi organisasi kemasyarakatan. Maka tidak mengherankan bahwa kadang kita jumpai adanya kericuan, persaingan, pertentangan, atau perpecahan di dalam Gereja dan orang-orang tidak suka lagi pergi ke Gereja.
  • Ada juga kecenderungan bahwa bahwa para petugas gerejani tidak begitu bersemangat lagi untuk mencari keselamatan dari Tuhan, tetapi kebanyakan cari sukses dan keuntungan untuk kelompoknya sendiri. Maka saat sekarang ini ada ketegangan antara umat yang suka melaksanakan pembaharuan di dalam Gereja dan orang-orang yang ingin mempertahankan kebiasaan tradisional. Dalam praktek banyak orang yang bermaksud baik itu lah yang disingkirkan.
  • Dan gejala terakhir ialah bahwa Gereja semakin kehilangan religiositas dan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan Umat, karena banyak Umat hanya berpegang teguh pada tata-lahir saja, tetapi lupa kehidupan moral dan ajaran Gereja dan hidup rohani. Hal ini nampak jelas bahwa dalam masyarakat kita masih banyak ibadah-ibadah, tetapi hanya tata-lahir saja. Hal ini juga nampak sekali bahwa orang Katolik masih pergi ke Gereja, tetapi kektolikannya tidak memberikan inspirasi dalam hidup mereka.

Perumpamaan ini juga akan menjelaskan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kalau jelas bahwa hubungan antara manusia dengan Tuhan itu jelek, maka perilaku manusia pun juga akan berubah. Orang jahat tidak suka dikunjungi orang baik, karena khawatir akan ketahuan segala kekurangannya.

Sebaliknya keluarga yang baik dan orang-orang yang serius akan bergembiara kalau menerima kunjungan dari orang-orang yang baik, karena merasa lebih punya banyak teman dan hatinya semakin terbuka.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: