Museum Pribadi

Ayat bacaan: Ibrani 13:8
====================
“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

museum

Mengunjungi gedung bersejarah Indonesia Menggugat di Bandung benar-benar membawa kesan mendalam bagi saya. Ini adalah sebuah gedung dimana Bung Karno ketika masih muda pernah menyampaikan pledoi pembelaannya saat diadili dengan tuduhan makar terhadap pemerintahan penjajah Belanda ketika mendekati akhir tahun 20an. Ada banyak memorabilia disana. Headline harian pada waktu itu, cover majalah dan sebagainya, bahkan ruang sidang pun masih tertata persis seperti pada saat itu, dengan perabotan dan ubin lantai serta kipas angin di langit-langit ruangan yang masih sama. Melihat tempat-tempat bersejarah, atau museum-museum dengan temanya masing-masing memang sungguh menyenangkan. Kita bisa belajar bagaimana sebuah sejarah terbentuk, melihat langsung benda-benda bersejarah dan momen-momen istimewa serta rangkaian peristiwa di masa lalu. Koleksi-koleksi ini akan berbicara banyak mengenai pengalaman masa lalu dan kita selalu bisa belajar banyak dari museum apapun yang kita kunjungi. Karena itulah kemanapun saya pergi saya akan menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa museum.

Ya, kita selalu bisa belajar dari museum, melihat bagaimana sebuah pengalaman di masa lalu yang sedikit banyak akan baik untuk kita jadikan pelajaran bagi diri kita sendiri. Sadarkah kita bahwa kitapun seharusnya punya museum pribadi yang berisikan pengalaman kita pribadi dengan Tuhan? Rasanya semua orang pasti pernah mengalami saat-saat indah dimana Tuhan pernah menolong kita, melepaskan kita dari masalah, menyembuhkan kita atau berbagai mukjizat-mukjizat Ilahi lainnya. Tapi kita seringkali melupakan itu semua ketika saat ini kita kembali dilanda masalah. Untuk menghadapi hari-hari yang berat dan sulit, kita sesungguhnya memerlukan sebuah museum pribadi seperti ini, yang penuh berisikan kenangan akan pertolongan Tuhan. Sebuah museum pribadi yang setiap saat bisa kita lihat untuk kembali menguatkan kita di kala lemah.

Daud pernah mengungkapkan “museum pribadi”nya yang tercatat dalam 1 Samuel 17. Ini bisa kita lihat dalam situasi ketika bangsa Israel di bawah pimpinan Saul merasa kecut dan tawar hati ketika menghadapi provokasi Goliat, sang raksasa dari Gat. Ketika itu Daud dipekerjakan hanya sebagai penggembala domba, salah satu pekerjaan terendah pada waktu itu. Dibandingkan prajurit-prajurit Israel tentu ia tidak ada apa-apanya, ditambah usianya yang masih sangat muda. Tetapi ternyata keberanian si gembala kecil, Daud, mampu melebihi keberanian laskar Israel pada waktu itu. Sudah 40 hari lamanya Goliat menantang Israel, tidak satupun dari mereka yang berani menghadapinya. Lalu Daud pun datang, dan sempat mendapatkan cemoohan termasuk dari abangnya sendiri. Tapi apa sebenarnya yang membuat Daud merasa yakin mampu mengatasi Goliat? Perhatikan kata Daud berikut: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” (1 Samuel 17:34-36). Daud membuka museum pribadinya mengenai betapa hebatnya kuasa penyertaan Tuhan di waktu lalu. Melihat pengalaman-pengalamannya terdahulu ketika Tuhan mampu melepaskannya dari binatang buas seperti beruang dan singa, sementara ia masih sangat kecil dan secara logika tidak akan mampu menghadapi situasi seperti itu, mengapa ia harus takut berhadapan dengan Goliat? Baginya, Goliat tidaklah lebih dari beruang dan singa. Jika Tuhan sanggup membuatnya menang menghadapi binatang-binatang buas, mengapa tidak untuk menghadapi Goliat? Daud belajar dari museum pribadinya bersama Tuhan, dan itu membuatnya yakin dalam menghadapi apapun. “Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (ay 37).

Ketika saya mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidup, saya pun kembali melihat museum pribadi saya. Ada begitu banyak mukjizat yang pernah saya alami, yang sebagian besar sudah pernah saya jadikan sebagai kesaksian dalam renungan-renungan terdahulu. Dia mampu membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, Dia sanggup menyembuhkan, Dia sanggup melakukan apapun. Jika semua itu pernah saya alami di masa lalu, jika dulu Tuhan mau melakukannya untuk saya, mengapa hari ini tidak? Itu akan selalu memberikan kekuatan bagi saya untuk tegar menghadapi situasi sesulit apapun, dengan penuh pengharapan. Mampukah kita berkata seperti Paulus: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31). Seharusnya mampu, jika kita mau kembali melihat museum pribadi kita bersama Tuhan dan tidak terus menerus terfokus dalam jepitan masalah.

Pemazmur berkata: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. (Mazmur 46:2). Sangat terbukti, menunjukkan sesuatu yang sudah pernah terjadi berulang kali. Pemazmur tahu bahwa museum pribadinya pun berisikan begitu banyak bukti bagaimana kuasa Allah sanggup menolong dalam kesesakan, bagaimana Allah mampu menjadi tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai solusi atau jawaban dari setiap permasalahan yang kita alami. Alkitab jelas berkata: “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah..” (Maleakhi 3:6). Dan Yesus pun demikian. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Tetap sama, kemarin, hari ini dan sampai selamanya, tidak berubah. Itu artinya, jika dahulu Tuhan bisa, hari ini pun sama, besok lusa dan sampai kapanpun Dia bisa! Ini perkataan Tuhan yang seharusnya kita ingat, namun ditengah himpitan masalah kita seringkali lupa dan hanya sibuk mengandalkan logika dan kemampuan kita yang terbatas ini untuk mengatasi kesulitan.

Tidak hanya museum pribadi, tapi Alkitab sendiri bisa menjadi sebuah museum yang mampu meneguhkan iman kita. Dalam kitab Roma kita bisa baca “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.” (Roma 15:4). Itu dari pengalaman para tokoh Alkitab yang telah membuktikan sendiri bagaimana Tuhan mampu berbuat sesuatu yang jauh lebih tinggi dari nalar kita. Dan karena Tuhan tidak pernah berubah, hal yang sama pun bisa terjadi pada diri kita. Berkaca dari pengalaman-pengalaman ratusan tokoh Alkitab ini, seharusnya kita tidak perlu khawatir menjalani hidup yang terus semakin sulit dari hari ke hari.

Bagaimana perjalanan anda di tahun 2010 ini? Kita sudah hampir memasuki pertengahan tahun. Jika setengah dari tahun 2010 yang sudah kita jalani ini masih membuat anda khawatir atau bahkan ketakutan untuk menjalani setengah lagi, itu saatnya untuk mengaktifkan museum pribadi anda yang berisikan pengalaman-pengalaman anda secara pribadi bersama jamahan dan penyertaan Tuhan. Daripada fokus kepada ketakutan dan masalah-masalah itu, mengapa tidak mengambil waktu sejenak untuk kembali melihat-lihat koleksi pengalaman anda bersama Tuhan di waktu lalu? Atau melihat bagaimana luar biasanya Tuhan pernah melakukan berbagai hal yang mustahil secara logika kepada begitu banyak orang di waktu lalu? Tuhan tetap sama. Dia tidak pernah berubah. Dan oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir. Sudahkah anda mendirikan dan mengaktifkan museum anda sendiri? Mulailah sekarang juga, dan anda tidak akan perlu takut lagi.

Jika dulu Tuhan bisa, sekarang pun Tuhan bisa. Dia tetap sama, dahulu sekarang dan sampai selamanya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply