Murah Hati

Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

murah hati

Beberapa waktu yang lalu saya mengambil cuti sejenak untuk berlibur bersama istri ke Penang, Malaysia. Betapa kagumnya saya melihat sistim transportasi yang tertata rapi di sana. Tidak sulit sama sekali untuk pergi kemana-mana dengan menggunakan bus yang biayanya sangat murah. Karenanya kami pun pergi kemana-mana dengan menggunakan bus. Pada suatu kali di malam hari bus yang kami naiki penuh sesak. Saya dan istri beruntung masih sempat memperoleh tempat duduk sebelum bus menjadi penuh dengan masuknya banyak penumpang lainnya. Diantara penumpang itu terdapat seorang nenek tua yang jalannya tertatih-tatih. Ia tampaknya sendirian saja memasuki bus. Karena penuh, ia pun bersiap-siap untuk berpegangan saja. Saya memilih untuk berdiri dan mempersilahkannya duduk di kursi saya. Ia sangat senang dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. “Jarang sekali ada yang peduli kepada orang tua seperti saya”, katanya dengan bahasa yang patah-patah. Perjalanan masih lumayan jauh, saya harus berdiri sambil menenteng tas ransel berat dan banyak barang bawaan. Apakah saya menyesal karena otomatis menjadi kecapaian setelahnya? Tidak, saya justru merasa bersuka cita. Apakah saya kemudian merasa menjadi superhero alias pahlawan dengan berbuat itu? Sama sekali tidak. Apakah saya berbuat itu untuk sok baik atau sok hebat? Sama sekali tidak terpikir sedikitpun. Apa saya melihat-lihat dulu siapa ibu, apa latar belakang, suku atau kepercayaannya sebelum saya beri kursi saya? Nope, tidak sama sekali juga. Apa yang saya lakukan hanyalah sebagian kecil dari kewajiban yang sudah seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Yesus mengorbankan diriNya di atas kayu salib demi saya, anda dan juga ibu itu, tanpa memandang latar belakang dan lain-lain, termasuk seberapa besar dosa kita di masa lalu. Jika Yesus rela mengorbankan nyawaNya demi saya, apa yang saya lakukan untuk ibu itu hanyalah sepersejuta atau sepersemiliar kecilnya dibandingkan pengorbanan Tuhan sendiri buat saya. Dan saya yakin dua ratus persen, seandainya Yesus tengah berada disana, Dia pasti akan memberikan tempat duduknya dengan senang hati dan memberkati ibu itu.

Kemurahan hati merupakan salah satu sikap yang harus memenuhi orang-orang percaya tanpa terkecuali dan tanpa terkait dengan situasi atau kondisi apapun. Kemurahan hati tidak selalu harus berbentuk sumbangan berbentuk uang atau benda, tapi hal-hal kecil yang kita lakukan sebagai perwujudan kasih pun bisa menunjukkan sebuah kemurahan hati. Alkitab berkata: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (1 Korintus 13:4). Disini jelas bahwa murah hati merupakan bagian dari perwujudan kasih yang bisa nyata dirasakan oleh orang lain, dan merupakan salah satu hal yang bisa menunjukkan sejauh mana kita mengaplikasikan kasih Surgawi dan memuliakan Bapa di dalamnya dalam segala sesuatu yang kita lakukan adlam kehidupan kita. Kata kemurahan hati menunjukkan bahwa kemurahan adalah jelas merupakan sikap hati. Karena merupakan sikap hati, artinya kemurahan tidaklah pernah tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita saat ini. Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6:36). Tidakkah memalukan apabila kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam memberi, atau juga ketidakpedulian kita? Yohanes mengatakan: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). God is not just the source of love, but He is THE LOVE itself. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Jika kita mengenal Allah sebagai Kasih, seharusnya kita pun hidup dengan penuh kasih. Setiap saat kita berhadapan dengan kesempatan-kesempatan dimana kita bisa menyatakan kasih Allah kepada sesama kita, menjalankan kewajiban kita sekaligus memuliakan Tuhan di dalamnya, dan seharusnya kita bisa bersukacita dalam mempergunakan setiap kesempatan yang ada.

Paulus mengingatkan kita bahwa sejatinya kita bukan sekedar orang-orang percaya yang tidak terlihat di dunia ini, tetapi kita dikatakan sebagai “surat Kristus” (2 Korintus 3:3), Ayat ini selanjutnya menyatakan kita sebagai surat Kristus yang istimewa yang ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. Dan sudah seharusnya surat itu dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang, seperti yang dikatakan Paulus dalam satu ayat sebelumnya. Seharusnya kita bisa mencerminkan Kristus lewat sikap hidup, gaya, tingkah laku dan perbuatan kita. Seharusnya kita bisa memperkenalkan pribadi Kristus lewat cara hidup kita. Itulah yang dimaksud dengan surat Kristus. Sebagaimana adanya Kristus, sebuah surat Kristus tentu penuh dengan pernyataan kasih Bapa kepada semua manusia, dan itu harusnya tergambar dari segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdiri sekitar hampir satu jam dengan ransel berat beserta barang bawaan lain, itu hanyalah sepersekian kecil dari apa yang Tuhan sudah lakukan buat saya. Tuhan sangat mengasihi ibu itu, dan jika ada sedikit saja dari kasih Kristus dalam diri saya, itu sudah cukup untuk membuat saya berdiri dan mempersilahkan ibu itu duduk. Saya tidak mengenalnya, saya mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, tetapi saya tahu Tuhan mengenal dan mengasihi ibu itu. Saya merasa bahagia dan bersyukur diberi kesempatan untuk bertemu dengannya dan membagi sedikit kasih Kristus kepadanya lewat perbuatan nyata. Masih ada banyak disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan dalam berbagai bentuk, masih ada banyak orang di dekat kita yang saat ini tengah menghadapi kesulitan atau merasa sendirian menghadapi beban hidup. Jangan abaikan mereka, mari kita nyatakan kasih Kristus kepada mereka tanpa dibatasi oleh sekat apapun. Sekedar memberi tempat duduk, memberi tumpangan atau sekedar senyuman dan pelukan bisa menjadi sebuah bentuk kemurahan hati yang tidak saja mungkin besar maknanya bagi mereka yang tengah berbeban berat, tetapi juga akan sangat dihargai oleh Bapa.

Jadilah surat Kristus yang penuh kemurahan hati dan penuh kasih bagi sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: