Mulutmu, Harimaumu

BICARA BY SPEAK CONTENT“Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya, ‘Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; tutur kata orang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan mata tersingkap.’” (Bil 24, 3-4) SEORANG  suster tua kaget dan tidak bisa mengerti ketika pimpinan Gereja lokal berkata, “Kok durung mati?” Pada saat […]

BICARA BY SPEAK CONTENT

“Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya, ‘Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; tutur kata orang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan mata tersingkap.’” (Bil 24, 3-4)

SEORANG  suster tua kaget dan tidak bisa mengerti ketika pimpinan Gereja lokal berkata, “Kok durung mati?”

Pada saat yang lain, seseorang kirim sms dengan isi, “Romo saya kok risih mendengar seorang pimpinan umat mengatakan ‘bajingan’ dari altar.”

Dua peristiwa ini berkaitan dengan tutur kata seseorang.

Tutur kata merupakan untaian kata-kata yang keluar dari mulut seseorang. Banyak orang mempunyai tutur kata yang lembut, baik dan sopan; ada pula yang tutur katanya kasar, keras dan tidak sopan.

Banyak orang yang tutur katanya menyejukkan, meneguhkan dan memberi penghiburan; ada pula orang yang tutur katanya menjengkelkan, menyakitkan dan memancing permusuhan. Ada orang yang tutur katanya selalu jelas, pasti dan bisa dipercaya; ada juga orang yang tutur katanya bias, mudah berubah dan sulit dipercaya.

Bagaimana pun juga, tutur kata tidak hanya sekedar untaian kata, tetapi juga merupakan cermin atau gambaran diri si penutur. Kata-kata yang keluar dari mulut mengungkapkan apa yang dipikirkan, dirasakan, diinginkan, diharapkan oleh orang yang bersangkutan.

Penghormatan atau penghargaan diri seseorang sering dipengaruhi oleh tutur katanya. Maka orang bilang, “Ajining diri gumantung ing lathi.”

Selain itu, dalam bertutur kata, seseorang perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi serta audiens yang mendengarkan. Istilahnya, harus ‘empan waktu dan empan papan’, agar pendengar tidak kaget dan risih mendengar tutur kata seseorang yang dirasa tidak pas.

Bileam memberikan tutur katanya berdasarkan keterbukaan matanya terhadap situasi bangsanya; dan juga berdasarkan apa yang didengarnya dari Alla serta berdasarkan penglihatan dari Yang Mahakuasa. Keterbukaan mata, telinga dan hati terhadap situasi, sesama dan Allah membuat seseorang bertutur kata dengan baik, benar dan bijak; jauh dari tutur kata ngawur atau asal-asalan.

Teman-teman selamat siang dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply