Mulai Sombong? Tekapkan Tangan pada Mulut (1)

Ayat bacaan: Amsal 30:32======================”Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!”Lucu sekali melihat anak salah seorang teman yang masih balita. Setiap kali ia salah ngomong, ia segera menutup mul…

Ayat bacaan: Amsal 30:32
======================
“Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!”

Lucu sekali melihat anak salah seorang teman yang masih balita. Setiap kali ia salah ngomong, ia segera menutup mulut dengan tangannya dan berkata “ups, salah..” dengan muka yang kocak. Menutup mulut dengan tangan, atau menekapkan tangan pada mulut akan membuat orang berhenti bicara. Coba saja lakukan itu saat teman anda tengah bicara, ia pasti akan segera berhenti. Cara ini bisa efektif untuk menghindari kita dari terus mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, menghentikan kita dari terus berbohong atau saat kita terjebak pada kesombongan yang keluar lewat perkataan.

Anda tentu pernah bertemu orang yang hobi omong besar. Bukan saja suka melebih-lebihkan, tapi mereka ini kerap mengisi pembicaraan dengan meninggikan diri sendiri. Secara psikologis, seringkali hal ini dilakukan orang untuk menutupi kelemahannya sendiri. Ada juga yang setiap ketemu terus menceritakan kehebatan di masa lalu bisa jadi agar tetap terlihat wah meski kondisi faktual yang tengah dialami tidaklah sebaik dahulu. Ada juga yang tidak siap mental saat menjadi sukses sehingga sikapnya berubah menjadi angkuh dan sombong, dan salah satu keluarannya adalah lewat ucapan. Bentuk ucapan yang bermuara pada kesombongan pun bisa banyak modelnya. Ada yang membesarkan atau meninggikan diri, bisa lewat ucapan-ucapan yang merendahkan, menyepelekan atau menghina orang dan sebagainya. Apa yang dilakukan oleh anak teman saya tadi bisa ditiru untuk menghentikan keluarnya kesombongan lewat ucapan kita, dan itu ternyata tertulis persis sama di dalam Alkitab.

“Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!” (Amsal 30:32). Tips ini sangat gampang untuk dilakukan tapi rasanya cukup efektif. Agur bin Yake mengatakan bahwa apabila kita mulai meninggikan atau menyombongkan diri baik sadar atau tidak, tanpa atau dengan berpikir, sengaja atau tidak sengaja, segeralah tekapkan tangan pada mulut. Itu artinya kita harus segera berhenti begitu kita mulai menyombongkan diri.

Mengapa tidak boleh? Menyombongkan diri bukanlah perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan. Perbuatan ini sebenarnya menggambarkan sebuah sikap mencuri apa yang menjadi hak Tuhan demi kebanggaan diri sendiri. Lihatlah apa yang disampaikan Paulus kepada jemaat Korintus berikut ini. “Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?” (1 Korintus 4:7-versi BIS). Itulah sebabnya kenapa tidak boleh ada kesombongan yang muncul dari dalam kita walau dengan alasan apapun.

Dalam Amsal dikatakan: “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” (Amsal 8:13). Masih dalam Amsal, selanjutnya dikatakan “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” (Amsal 6:16-17). Dengan jelas sikap sombong disebutkan menjadi satu dari perkara yang dibenci Tuhan. Ada kata ‘mata sombong’ dalam ayat ini. Dalam versi Bahasa Inggris disebutkan sebagai ‘proud look’, yaitu sikap angkuh, sombong atau arogan yang tercermin lewat air muka atau sikap yang kasat mata dilihat orang lain.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply