Mukjizat Penggandaan Roti, Ekaristi, Adorasi dan Kemurahan Hati Allah

penggandaan roti 3Jumat, 17 April 2015 Pekan Paskah II Kis 5:34-42; Mzm 27:1,4,13-14; Yoh 6:1-15  … Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki… INJIL  hari ini menyampaikan kepada kita tanda mujizat Yesus yakni mujizat penggandaan roti (dan ikan). Sejumlah besar orang berkumpul untuk mendengarkan Yesus. Mereka mengikuti-Nya karena mereka lapar akan sabda kehidupan. Yesus tidak hanya memberi mereka sabda rohani tetapi juga memberi mereka makanan berupakan roti yang memuaskan lapar mereka. Yesus membuat mujizat penggandaan lima roti dan dua ikan untuk mengenyangkan sedikitnya lima ribu orang yang mengikuti Dia. Ketika para murid-Nya hendak menyuruh mereka pulang saat hari mulai gelap karena mereka tidak mempunyai makanan untuk mengenyangkan mereka, Yesus menyatakan daya kuasa kasih-Nya. Ia mengambil lima roti dan dua ikan, mengucap syukur kepada Allah Bapa Surgawi, lalu membagikannya hingga mereka semua kenyang. Sesungguhnya, tindakan memberi makan lima ribu orang ini menyatakan kemurahan Yesus sebagai Putra Allah dan kebaikan-Nya yang luar biasa kepada kita. Ia memberikan secara berlimpah. Ia mengambil sedikit yang kita miliki dan menggandakannya demi kebaikan sesama. Apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari peristiwa ini? Pertama, kita belajar percaya kepada-Nya bahwa Ia memberikan lebih dari yang kita butuhkan untuk diri kita sendiri. Kedua, kita belajar menjadi murah hati hingga kita rela mengembangkan semangat berbagi atas milik kita kepada sesama, terutama bagi mereka yang kekurangan. Ketiga, mari kita pun percaya pada penyelenggaraan-Nya bagi kita dan kita dengan rela juga berbagi dengan sesama terutama mereka yang membutuhkan. Dalam konteks Adorasi Ekaristi Abadi, tak diragukan, Yesus telah menyatakan bahwa Ia adalah Roti Surgawi Sejati yang dapat memuaskan lapar terdalam jiwa kita. Tentu, tanda mujizat penggandaan roti saat Yesus mengucap syukur, memberkati, dan membagikannya melalui para murid-Nya merupakan antisipasi atas kelimpahan dari Roti Ekaristi-Nya. Roti itu tidak hanya memuaskan lapar fisik kita, tetapi juga lapar rohani kta. Ekaristi merupakan makanan rohani yang menyembuhkan kita, raga dan jiwa kita dan menguatkan kita dalam menempuh perjalanan surgawi kita. Tuhan Yesus Kristus, dalam Ekaritsti, Engkau memuaskan kerinduan hati kami yang terdalam dan Engkau mengenyangkan kami dengan gandum terbaik. Saat kami mendekati Altar-Mu, berkenanlah Engkau menyembuhkan, mengampuni, dan menghibur jiwa kami. Semoga Ekaristi dan Adorasi Abadi menguatkan kami dalam cinta kasih dan memampukan kami untuk rela berbagi dengan sesama segala yang telah Kau anugerahkan kepada kami kini dan selamanya. Amin. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)  

penggandaan roti 3

Jumat, 17 April 2015
Pekan Paskah II
Kis 5:34-42; Mzm 27:1,4,13-14; Yoh 6:1-15

 … Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki…

INJIL  hari ini menyampaikan kepada kita tanda mujizat Yesus yakni mujizat penggandaan roti (dan ikan). Sejumlah besar orang berkumpul untuk mendengarkan Yesus. Mereka mengikuti-Nya karena mereka lapar akan sabda kehidupan. Yesus tidak hanya memberi mereka sabda rohani tetapi juga memberi mereka makanan berupakan roti yang memuaskan lapar mereka.

Yesus membuat mujizat penggandaan lima roti dan dua ikan untuk mengenyangkan sedikitnya lima ribu orang yang mengikuti Dia. Ketika para murid-Nya hendak menyuruh mereka pulang saat hari mulai gelap karena mereka tidak mempunyai makanan untuk mengenyangkan mereka, Yesus menyatakan daya kuasa kasih-Nya. Ia mengambil lima roti dan dua ikan, mengucap syukur kepada Allah Bapa Surgawi, lalu membagikannya hingga mereka semua kenyang.

Sesungguhnya, tindakan memberi makan lima ribu orang ini menyatakan kemurahan Yesus sebagai Putra Allah dan kebaikan-Nya yang luar biasa kepada kita. Ia memberikan secara berlimpah. Ia mengambil sedikit yang kita miliki dan menggandakannya demi kebaikan sesama. Apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari peristiwa ini?

Pertama, kita belajar percaya kepada-Nya bahwa Ia memberikan lebih dari yang kita butuhkan untuk diri kita sendiri. Kedua, kita belajar menjadi murah hati hingga kita rela mengembangkan semangat berbagi atas milik kita kepada sesama, terutama bagi mereka yang kekurangan. Ketiga, mari kita pun percaya pada penyelenggaraan-Nya bagi kita dan kita dengan rela juga berbagi dengan sesama terutama mereka yang membutuhkan.

Dalam konteks Adorasi Ekaristi Abadi, tak diragukan, Yesus telah menyatakan bahwa Ia adalah Roti Surgawi Sejati yang dapat memuaskan lapar terdalam jiwa kita. Tentu, tanda mujizat penggandaan roti saat Yesus mengucap syukur, memberkati, dan membagikannya melalui para murid-Nya merupakan antisipasi atas kelimpahan dari Roti Ekaristi-Nya. Roti itu tidak hanya memuaskan lapar fisik kita, tetapi juga lapar rohani kta. Ekaristi merupakan makanan rohani yang menyembuhkan kita, raga dan jiwa kita dan menguatkan kita dalam menempuh perjalanan surgawi kita.

Tuhan Yesus Kristus, dalam Ekaritsti, Engkau memuaskan kerinduan hati kami yang terdalam dan Engkau mengenyangkan kami dengan gandum terbaik. Saat kami mendekati Altar-Mu, berkenanlah Engkau menyembuhkan, mengampuni, dan menghibur jiwa kami.

Semoga Ekaristi dan Adorasi Abadi menguatkan kami dalam cinta kasih dan memampukan kami untuk rela berbagi dengan sesama segala yang telah Kau anugerahkan kepada kami kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply