Motivasi Yang Salah Dalam Memberi

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:3
========================
“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”

motivasi yang salah dalam memberi, mengharap berkat, pamrih

“Saya sudah rajin menolong orang. Saya rajin memberikan persepuluhan. Saya sudah berusaha setia pada Tuhan. Tapi mengapa hidup saya masih sulit?” Pernahkah anda merasa hal seperti ini? Seorang teman pernah menanyakan hal ini kepada saya pada suatu ketika. Jika hanya melihat sepintas saja kita bisa menuju pada anggapan bahwa Tuhan tidak adil. Hanya menuntut kita tapi alpa dalam memberi. Apakah benar demikian? Saya percaya tidak. Saya percaya bahwa Tuhan adalah sosok yang sangat berkomitmen terhadap janjiNya. Dia adalah Allah yang penuh kasih setia kepada anak-anakNya. Ketika malam ini saya teringat akan pertanyaan itu, ada sebuah kata yang timbul dalam hati saya, yaitu motivasi. Apa yang menjadi motivasi kita dalam menolong? Apa yang mendasari motivasi kita dalam memberi dan setia pada Tuhan? Sudahkah kita memiliki motivasi yang benar atau kita masih mendasari motivasi terhadap hal-hal yang hanya berdasarkan kebutuhan atau hanya sesuai dengan ukuran kita pribadi?

Ada banyak orang terjerumus dalam motivasi yang melenceng ketika mereka melakukan firman Tuhan. Mereka terjebak dalam pemikiran yang salah, misalnya mengukur hubungan dengan Tuhan lewat hukum sebab akibat. Sebab saya memberi, akibatnya Tuhan akan memberi dua kali lipat. Sebab saya baik, Tuhan akan 100 kali lebih baik. Motivasinya didasarkan atas egoisme untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, bukan untuk memuliakan Tuhan di atas segalanya. Memberi atau menolong, setia dan rajin beribadah, bukan atas dasar kerinduan untuk mengasihi Tuhan, namun fokusnya untuk mengharap berkat berlipat ganda. Ini motivasi yang salah. Paulus mengingatkan jemaat Korintus, “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Korintus 13:3). Meski besar yang kita beri, bahkan nyawa kita sekalipun, jika motivasinya salah, bukan atas dasar kasih, baik kasih kepada Tuhan maupun kasih terhadap sesama, maka semua itu hanya akan berakhir sia-sia. Ini sebuah pelajaran penting yang disampaikan Paulus kepada para jemaat Korintus. Pola pikir yang salah bisa menciptakan motivasi  yang keliru.

Selain bentuk motivasi memberi agar mendapat berkat berlipat ganda di atas, ada beberapa bentuk lain dari motivasi yang salah. Misalnya ada orang yang memberi agar tidak dihukum Tuhan, memberi agar tidak dilemparkan ke neraka, memberi agar hidup mereka tidak susah, atau ada pula yang memberi agar terlihat hebat di mata orang lain. Mengenai hal yang terakhir ini, Yesus mengingatkan kita dengan jelas. “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:2). Orang-orang munafik akan selalu bertindak seolah-olah mereka paling benar dan terus memamerkan perbuatan baiknya. Orang-orang seperti ini menurut Yesus sudah mendapatkan upahnya secara utuh. Tuhan jelas menentang perbuatan seperti itu.

Tuhan merindukan sebuah kedekatan/keintiman dengan manusia. Itu jauh bernilai ketimbang hal-hal lain, yang dengan sendirinya akan hadir ketika kita terus berada dalam hadiratNya. Jika Tuhan sudah menganugerahkan anakNya yang tunggal bagi kita agar kita selamat, tidaklah sulit bagiNya untuk mengangkat kita dari keterpurukan dan memastikan diri kita ada dalam pemeliharaanNya. Motivasi-motivasi yang salah akan membuat usaha kita tidak lagi berkenan di hadapan Tuhan dan malah bisa membuat kita kehilangan semua itu. Ketahuilah bahwa Tuhan itu adil. Nyanyian Musa menyebutkan “Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”(Ulangan 32:4). Musa menyadari kesempurnaan pekerjaan Tuhan berikut keadilanNya. Dalam Perjanjian Baru kita membaca “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” (Ibrani 6:10). Tuhan sungguh adil. Dia tidak akan lupa pada apa yang kita perbuat secara sukarela karena kita mengasihiNya, sebaliknya Dia pun tidak akan lupa jika kita memiliki motivasi yang melenceng dalam memberi atau menolong orang lain.

Ketika kita melakukan sesuatu, apapun itu, lakukanlah itu untuk memuliakan Allah. (1 Korintus 10:31). Inilah motivasi yang benar. Kerinduan kita untuk memberi adalah didasarkan semata-mata karena kita mengasihi Tuhan, seperti halnya Tuhan mengasihi kita, dan bukan karena pamrih atas hal-hal pemenuhan kebutuhan kita, kebanggaan duniawi dan sebagainya. Selain itu ingat pula bahwa bukan menurut kita, tapi waktunya Tuhan-lah yang terbaik bagi kita. Yang penting untuk kita lakukan adalah terus giat bekerja di ladangNya, jangan putus pengharapan, terus mengasihi orang lain dan tidak melewatkan saat-saat kita intim dengan Tuhan baik secara pribadi, bersama keluarga maupun bersama saudara-saudara seiman, terus memberi dengan sukarela dan sukacita, bukan karena mengharap sesuatu namun semata-mata karena kita mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Tuhan siap mencurahkan segalanya bukan kepada orang yang royal memberi dengan motivasi yang salah, namun kepada anak-anakNya yang terus mencari dan memandangNya dengan penuh kerinduan. Malam ini marilah kita periksa diri kita, apakah kita sudah memiliki motivasi yang benar atau belum dalam memberi, karena motivasi yang kita miliki akan sangat menentukan dalam perjalanan hidup kita.

Motivasi yang salah dalam memberi membuat segalanya sia-sia

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply