Motivasi Untuk Mengikuti Yesus

Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
“Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.”

motivasi mengikuti Yesus

Seandainya sebuah pertanyaan diajukan kepada pasangan anda, mengapa ia mencintai anda? Apa jawaban yang anda harapkan untuk keluar darinya? Saya rasa kita semua sepakat berharap bahwa jawaban yang keluar adalah karena mereka mencintai kita. Tapi coba bayangkan jika jawaban yang keluar bukan itu, melainkan “karena dia kaya”, “karena harta warisannya besar”, “karena statusnya tinggi”, atau jawaban seperti ini: “saya tidak tahu pasti..” , pasti jawaban itu akan mengecewakan dan menyakitkan bukan? Kebutuhan kita akan cinta sungguh sangat besar, dan cinta memang punya kekuatan yang dahsyat untuk bisa merubah banyak hal. Love makes the world go round, itu kata mutiara yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Nyatanya cinta kasih memang merupakan hal besar yang berasal dari Tuhan. Jangankan buat kita, buat Tuhan saja pernyataan cinta atau kasih itu sangatlah besar nilainya.

Hari ini mari kita melihat sebuah kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar ketika Dia hadir di muka bumi ini dalam bentuk fisik manusia. Pada sebuah Hari Paskah Yahudi, Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Apa yang tercatat pada ayat berikutnya sungguh ironis. “Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.” (Yohanes 2:14). Ketika saya membaca ayat ini untuk pertama kali, saya sempat bertanya, “Ini gereja apa pasar sih?” Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang alias money changer melakukan bisnisnya disana. Saya bisa membayangkan betapa hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu. Yang terjadi selanjutnya saya yakin mengagetkan semua orang di sana, dan mungkin juga kita. Yesus marah besar. “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (ay 15-16). Anda mungkin heran mengapa Yesus bisa marah seperti itu. Padahal menurut jalan pikiran kita, ada banyak hal yang seharusnya bisa membuat Yesus lebih marah. Ketika Yesus dihina, ditinggalkan, difitnah, disiksa dan disalib hingga mati misalnya. Bagi kita itu tentu lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah bukan? Kita akan mudah marah ketika kita mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain, tetapi Yesus sama sekali tidak marah ketika diperlakukan demikian. Dia tetap tenang menjalani semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus pun timbul. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang sangat serius. Apa yang membuat Yesus marah sedemikian rupa saat itu?

Kemarahan Yesus timbul karena melihat banyaknya orang yang mencari untung dengan memanfaatkan Tuhan. Kita mungkin bisa tertawa dan mengatakan bahwa kita tidak berdagang sapi atau burung di gereja, tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 kita membaca: “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan sebagainya. Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu benar sekali. Namun semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama. Coba tanyakan, jika mengikut Yesus berarti siap memanggul salib, harus mengalami penderitaan, maka akan ada banyak orang yang mengundurkan diri. Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat, itu motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan. Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Mengapa? Karena kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah alam semesta. Dia rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib demi menyelamatkan kita semua dari kebinasaan kekal. Ini sebuah misi penyelamatan yang mencengangkan.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).  Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Bentuk cinta kasih Tuhan yang besar itulah yang menggerakkanNya untuk bersikap pro-aktif menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Jika Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.

Yesus sudah mengingatkan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar. Ingatlah bahwa “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Korintus 5:15). Semua itu didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya bukan karena embel-embel lain selain kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Jika jawaban kita masih didasari kepada motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang sebelum Yesus harus marah kepada kita dan menjungkirbalikkan semuanya.

Dasarkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan atas dasar kasih dan bukan untuk mencari keuntungan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: