Motivasi Melayani

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 20:33
==========================
“Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga.”

motivasi melayani

Saya selalu salut melihat pendeta paruh waktu yang mau jauh-jauh datang berkotbah sampai ke pelosok-pelosok dengan segala kesulitan yang harus mereka hadapi. Tidak jarang di antara mereka hidup berkecukupan lewat pekerjaan atau bisnis mereka sehari-hari. Panggilan untuk melayani Tuhan membuat mereka harus rela meninggalkan kenyamanan mereka bahkan keluarga untuk pergi membagi berkat kemana-mana. Suatu kali ada seorang pendeta yang bercerita bahwa ia harus melalui sampan kecil dan tidur hanya beralaskan tikar di sebuah gubuk dalam hutan untuk menjalani panggilannya sebagai hamba Tuhan. Di sisi lain ada pula pendeta yang memasang tarif, yang hanya akan datang apabila pihak gereja menyetujui nilai nominal yang ia tawarkan, belum termasuk fasilitas kelas atas untuk transportasi dan akomodasi. Dan tidak jarang pula sebuah gereja menyanggupi karena menurut mereka nama besar akan memegang peranan penting terhadap sukses tidaknya sebuah “acara”. Ketika hal ini terjadi, gereja bukan lagi sebuah tempat berkumpulnya orang-orang percaya untuk sama-sama menyembah dan memuji Tuhan dan bersekutu merasakan hadirat Tuhan dengan kehadiran Tuhan sendiri di tengah-tengah mereka, tetapi sudah berubah fungsi menjadi sebuah tempat acara yang mungkin tidak lagi ada bedanya dengan sebuah panggung pertunjukan.

Sadar atau tidak, ketika seorang pendeta melakukan hal ini, ia sebenarnya sedang mencuri kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Memanfaatkan kesempatan untuk meraup keuntungan untuk diri sendiri dengan mengatasnamakan Tuhan tentu saja bukan merupakan perbuatan yang pantas untuk dilakukan. Kita bisa belajar dari sosok Paulus mengenai hal ini. Sebagai seorang hamba Tuhan, Paulus dengan berani pergi menyebarkan Injil kemana-mana, bahkan sampai ke Asia kecil. Ia sukses mendirikan banyak jemaat dimanapun ia sampai. Terkenal? Tentu saja Paulus terkenal dikalangan orang-orang percaya pada saat itu. Namun lihatlah betapa seringnya jerih payahnya  tidak dihargai sepantasnya, ia bahkan harus mengalami banyak penderitaan dan siksaan demi menjalankan misinya. Tapi Paulus tidak berkecil hati atau kecewa. Dia malah tidak pernah menuntut apa-apa yang bisa memberinya sedikit kemudahan dalam menunaikan tugasnya. Berdasarkan semua tingkat kesulitan tinggi yang ia hadapi, tentu rasanya wajar jika Paulus tidak lagi perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan cukup fokus saja mewartakan kabar gembira. Tapi Paulus tidak menuntut itu sama sekali. Perhatikan apa katanya: “Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga.” (Kisah Para Rasul 20:33). Dia tidak menuntut apapun dari jemaat maupun penatua/gembala atau hamba-hamba Tuhan lainnya. Padahal kurang apa lagi Paulus pada saat itu dimata orang-orang percaya? Itulah sikap Paulus. Ia mengatakan “Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” (ay 34). Paulus sama sekali tidak mencari kesempatan untuk meraup keuntungan untuk diri sendiri. Ia masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan rekan-rekan sekerjanya. Bukan itu saja, tetapi ia pun bekerja agar bisa membantu orang-orang yang membutuhkan. (ay 35). Paulus tahu bahwa semua yang ia lakukan bukanlah untuk ketenaran, tetapi semata-mata untuk menyenangkan Tuhan dengan membawa orang-orang bertobat.

Kita bisa melihat pandangan Paulus yang mendasari keputusannya untuk tidak menuntut apa-apa dalam menjalankan panggilannya. “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Korintus 10:31). Apapun yang kita lakukan, seharusnya itu diarahkan untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan pribadi. Mengapa? “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Bukankah segala sesuatu yang kita miliki beasal dari Tuhan? Tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Karena itulah sudah sepantasnya kita memuliakan Tuhan lewat segala talenta atau kemampuan yang telah diberikan kepada kita.

Dari sikap Paulus kita bisa melihat bagaimana sikap kita yang seharusnya dalam melayani Tuhan. Jangan sampai kita mencuri hak Tuhan dengan memanfaatkan kesempatan dalam pelayanan untuk memperkaya diri sendiri atau demi popularitas kita. Motivasi Paulus dalam melayani adalah murni, dan ini adalah keteladanan yang sangat baik untuk kita camkan baik-baik. Tidak peduli sehebat apapun kemampuan kita, semua itu tidak ada gunanya tanpa Tuhan. Dari Paulus kita bisa belajar bahwa kemurnian dan ketulusan merupakan kunci yang sangat penting dalam mengabdi kepada Tuhan. Mari kita periksa diri kita, apa yang menjadi dasar atau motivasi kita dalam melayani. Apakah semata-mata untuk memuliakan Tuhan atau kita masih punya banyak agenda yang mengarah kepada keuntungan diri sendiri. Arahkanlah fokus dalam melayani ke arah yang tepat, ikuti keteladanan Paulus agar semua pekerjaan yang kita lakukan berkenan di hadapan Tuhan dan bisa berbuah lebat membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Jangan curi hak Tuhan dengan mencari keuntungan pribadi dalam melayani

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: