Moral Manusia Akhir Zaman

Ayat bacaan: Efesus 4:2
=================
“Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”

manusia akhir zaman, kasih

“Ini Medan, bung!” adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa kerasnya kehidupan di ibukota Sumatera Utara itu. Udara yang panas cenderung membuat orang akan mudah terbakar emosi, sehingga memang tidak mudah untuk berlalu-lintas disana bagi pendatang. Kita pun tahu cuplikan sebuah lagu yang kemudian dijadikan “branding” untuk sebuah bentuk kehidupan serba sulit di ibukota Jakarta. “Siapa suruh datang Jakarta”, demikian bunyinya. Sementara banyak orang mendambakan kehidupan yang lebih layak dengan datang ke ibukota, tetapi ternyata tingkat kesulitan yang tinggi dan semakin tidak pedulinya orang terhadap sesamanya membuat perjuangan disana kerap menghasilkan air mata bagi orang-orang yang hendak mencoba mencari penghidupan lebih baik ketimbang di daerahnya sendiri. “Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota”, demikian bunyi salah satu ungkapan lainnya. Ada pula sebuah kota di Indonesia yang bertindak begitu kejam kepada sesama saudaranya, sesama warga negara sendiri. Aneh memang ketika saudara sebangsa justru tertolak di negerinya sendiri, tetapi begitulah gambaran kehidupan di zaman akhir ini. Orang akan rela berbuat apa saja demi kepentingan diri sendiri, bahkan jika harus, mengapa tidak mengorbankan orang lain? Dan gambaran zaman akhir seperti ini sebenarnya sudah ditulis ribuan tahun yang lalu di dalam Alkitab.

Tuhan sudah mewahyukan lewat Paulus mengenai hal ini. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” (2 Timotius 3:1). Hari-hari yang sukar. Mungkin bagi kita itu mengacu kepada bencana kelaparan, krisis ekonomi, bencana alam dan sebagainya. Itu memang kita alami sekarang, dan tidak jarang hal-hal itu memang meresahkan kita. Tetapi apa yang dimaksud sebagai masa yang sukar sebenarnya lebih mengacu kepada krisis moral di kalangan manusia di zaman akhir. Sebab Paulus melanjutkan kalimat di atas dengan serangkaian  contoh mengenai degradasi moral yang begitu parah yang akan (atau sudah) mewarnai kehidupan manusia secara panjang lebar. “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (ay 2-4). Perhatikanlah moral manusia hari ini. Bukankah wahyu di atas sudah digenapi? Semakin hari semakin banyak saja orang-orang yang bertingkah laku seperti apa yang dirinci oleh Paulus di atas. “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” (ay 5a). Inipun sudah umum bagi kita. Orang akan lebih cenderung mementingkan tata cara, tradisi, adat  dan kebiasaan-kebiasaan secara fisik ketimbang membangun sebuah hubungan yang mesra dengan Penciptanya. Dan Paulus mengingatkan kita agar tidak terjerumus ke dalam pola kehidupan dunia seperti itu. Secara tegas Paulus mengatakan: “Jauhilah mereka itu!” (ay 5b).

Sikap egois dan individualisme sungguh mewarnai kehidupan manusia hari ini. Berapa banyak di antara kita yang mengenal baik tetangga kita sendiri? Bahkan sekedar mengetahui nama saja sudah tidak banyak yang peduli, terutama untuk yang tinggal di kota besar. Jika namanya saja kita sudah tidak peduli, bagaimana mungkin kita tergerak untuk membantu mereka? Tahu sedang bermasalah saja mungkin tidak. Sementara yang digariskan kepada kita tidaklah mudah. Menjadi terang dan garam, dan mewartakan kabar keselamatan hingga ke seluruh penjuru bumi. Jika di lingkungan terdekat saja kita sudah tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa untuk skala yang jauh lebih besar? Ada begitu banyak orang yang akhirnya mati dalam penderitaannya karena tidak ada satupun sesamanya manusia yang tergerak untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kecenderungan manusia di akhir zaman memang demikian. Tidak ada lagi tali kasih, tidak ada lagi kepedulian sosial, tidak ada lagi rasa empati untuk merasakan kesedihan orang lain. Tetapi anak-anak Tuhan seharusnya tidak boleh ikut-ikutan bertindak demikian. Panggilan bagi kita sudah digariskan Kristus sejak semula, dan semua itu sangatlah berbanding terbalik dengan karakter negatif orang-orang akhir zaman seperti yang digambarkan Paulus.

Pesan penting mengenai kewajiban kita untuk membantu sesama tercatat begitu banyak di dalam Alkitab. Tidak sekalipun Alkitab mengajarkan kita untuk bersikap egois. Bahkan kita diwajibkan untuk membantu siapapun tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali, bukan hanya untuk kalangan kita saja, bukan pula hanya terbatas untuk saudara seiman saja. Lihatlah betapa pentingnya sikap saling bantu ini di mata Tuhan. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2) Begitu pentingnya sehingga dikatakan bahwa dengan melakukannya itu artinya kita memenuhi hukum Kristus mengenai kasih. Jika demikian, bagaimana mungkin kita mengaku sebagai orang percaya apabila kita sama sekali tidak peduli kepada sesama kita? Bagaimana mungkin kita mengaku sebagai murid Kristus apabila kita tidak mencerminkan sama sekali pribadiNya dalam kehidupan kita sehari-hari?

Kasih merupakan hukum yang terutama dalam kekristenan. Ini menjadi hal yang paling esensi untuk kita miliki dalam bermasyarakat. Adalah percuma bagi kita untuk rajin beribadah tetapi di sisi lain kita tidak menunjukkan kepedulian dalam kasih terhadap sesama kita. Firman Tuhan secara jelas berkata “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Ketika pola kecenderungan moral manusia akan mengarah kepada sikap semakin sombong, tidak tahu berterimakasih, mudah terbakar amarah, kasar dan hal-hal negatif lainnya, bagi kita diingatkan untuk bersikap seperti ini: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar.” (Efesus 4:2a). Hidup yang didasari kasih akan melahirkan sikap yang berbeda dengan arus dunia. Karena itu kita seharusnya menyatakan kasih kita kepada sesama semampu kita, dan itu bisa kita lakukan dalam hal kepedulian kita. “Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (ay 2b).

Tuhan Yesus telah memberikan keteladanan secara langsung bagaimana kita seharusnya menjalani hidup ketika kita dikuasai dan digerakkan oleh kasih. Sepanjang perjalanan hidupNya di muka bumi ini Yesus terus menunjukkan empatinya terhadap penderitaan manusia. Dia terus tergerak oleh rasa belas kasihan dan menolong siapapun tanpa pandang bulu. Bahkan Dia rela disiksa hingga mati di atas kayu salib untuk menggantikan kita yang seharusnya layak menerima itu. Keselamatan bagi seluruh umat manusia, itupun lahir dari kasih yang begitu besar dari Allah kepada manusia ciptaanNya. Jika Tuhan adalah kasih, dan Dia menyatakan kasihnya secara luar biasa bagi kita, dan kita mengaku sebagai anak-anakNya, maka sudah seharusnya kitapun mencerminkan sebuah sikap yang sama pula.

Di saat orang-orang semakin tidak peduli terhadap sesamanya di akhir zaman, ini kesempatan bagi kita untuk menunjukkan sebuah sikap berbeda ketika kasih Kristus menguasai dan menggerakkan diri kita. Sebuah kasih yang mendasari perbuatan kita untuk menolong orang lain, siapapun mereka, bukan saja akan menjadi berkat tersendiri bagi mereka, tapi itu juga akan membuat kita dihitung sedang melakukan sesuatu untuk Tuhan. “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Perhatikan di sekeliling anda, sudahkah anda peduli dengan permasalahan mereka hari ini? Mengapa tidak mulai dari sekarang untuk melakukan sesuatu?

Pandanglah sesama dengan kacamata kasih sebagaimana Tuhan memandang kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply